LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Dalam sejarah
peradaban manusia, hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama seringkali digambarkan sebagai dua kutub yang saling menjauh. Lewat mimbar
Ramadhan Public Lecture, Kepala Paradigma Profetik Masjid Kampus UGM, Dr Arqom Kuswanjono mengajak kita merenung kembali, benarkah agama dan ilmu harus berjalan di jalan yang berbeda?
Mengutip cendekiawan asal Amerika Serikat, Ian Barbour, Arqom Kuswanjono membedah empat tipologi hubungan ilmu dan agama, yakni konflik, independensi, dialog, dan integrasi.
Baca juga: Menemukan Wajah Manusia dalam Cahaya TauhidSejarah mencatat, Barat pernah terjebak dalam fase konflik yang kelam. Di abad pertengahan, ribuan ilmuwan harus meregang nyawa karena pemikirannya dianggap menentang doktrin gereja. Tragedi Galileo Galilei yang mempertahankan teori heliosentris menjadi puncak dari keretakan tersebut.
Akibatnya, lahirlah era Renaissance yang membawa semangat
sekularisasi, sebuah upaya memisahkan ilmu dari campur tangan agama demi kemajuan.
Namun, Arqom menekankan sebuah fakta penting, bahwa Islam memiliki pandangan yang berbeda dengan dunia Barat.
"Berbeda dengan Barat, pencerahan dalam dunia Islam justru terjadi ketika ilmu dan agama bersatu, berjalan beriringan tanpa dikotomi," kata Arqom di Masjid Kampus UGM, Rabu (4/3/2026).
Iqra Bismirobbika: Teologi Membaca AlamMenurut Arqom, Islam tidak mengenal pemisahan antara yang sakral dan yang profan. Ia mengutip pemikiran Nurcholish Madjid, yang mengatakan bahwa Taurat unggul dalam aspek hukum dan Injil dalam kasih, maka Al-Qur'an hadir sebagai kitab ilmu pengetahuan.
Perintah pertama, Iqra (Bacalah), adalah mandat ilmiah bagi umat Islam. Namun, perintah ini tidak berdiri sendiri, melainkan diikuti dengan Bismirobbika (dengan nama Tuhanmu).
Baca juga: Dari Diferensiasi ke Integrasi, Memadukan Kecerdasan dan Kemanusiaan"Membaca ilmu apa pun dalam Islam harus tetap dalam kerangka atas nama Allah SWT," ujar Arqom.
Inilah esensi integrasi teologis, riset dan pemikiran ilmiah adalah bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.
Secara mendalam, Arqom Kuswanjono membedah tiga landasan utama mengapa ilmu dan agama dalam Islam adalah satu kesatuan yang utuh.
Landasan Ontologis (Tauhid), di mana Allah adalah sumber segala sesuatu. Karena sumbernya sama, maka ilmu dan agama bersifat interdependent, tidak ada ilmu tanpa agama, dan tidak ada agama yang tegak tanpa ilmu.
"Landasan Epistemologis (Saling Menguatkan), Islam mensinergikan wahyu, intuisi, rasio, dan bukti empiris. Membaca alam semesta tidak bisa dilepaskan dari tuntunan wahyu," jelasnya.
Kemudian landasan Aksiologis (Nilai). Berbeda dengan pandangan positivisme Barat yang menganggap ilmu bebas nilai, Islam menegaskan bahwa ilmu harus terikat pada nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keilahian. Ilmu harus maslahat, bukan merugikan.
Tantangan Kurikulum dan Masa DepanSalah satu keprihatinan yang diangkat dalam tausiyah tersebut adalah warisan sekularisme yang masih terasa di bangku pendidikan, di mana seolah-olah ada jurang pemisah antara "perguruan tinggi agama" dan "perguruan tinggi umum".
Baca juga: Bhima Yudhistira: Indonesia Emas Terancam Jadi 'Indonesia Cemas' Akibat Ketimpangan StrukturalArqom mengajak kita untuk kembali ke jati diri Islam yang utuh. Mengembangkan agama membutuhkan analisis filsafat dan penelitian ilmiah agar ayat-ayat Tuhan tidak hanya dibaca di permukaan, tetapi dipahami secara mendalam demi kemajuan peradaban.
Pada akhirnya, integrasi ilmu dan agama bukan sekadar konsep akademis, melainkan jalan pulang menuju fitrah manusia.
Bahwa setiap penemuan ilmiah di laboratorium sejatinya adalah langkah kecil untuk semakin mengenal kebesaran Sang Khaliq.
Dalam Islam, kecerdasan intelektual dan kesalehan spiritual adalah dua sayap yang harus dikembangkan bersama untuk membawa manusia terbang menuju kemuliaan.(Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID).
(est)