Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 06 Maret 2026
home masjid detail berita
Ramadhan Bercahaya

Menemukan Wajah Manusia dalam Cahaya Tauhid

esti setiyowati Rabu, 04 Maret 2026 - 06:00 WIB
Menemukan Wajah Manusia dalam Cahaya Tauhid
Menemukan Wajah Manusia dalam Cahaya Tauhid. Foto: tangkapan layar.
LANGIT7.ID-, Yogyakarta - Di tengah dunia yang kian bising oleh teknologi dan perdebatan kebebasan, Ketua Takmir Masjid Kampus UGM Periode 2020-2024 Dr Rizal Mustanyir mengajak kembali merenungi satu pertanyaan mendasar: apa arti menjadi manusia?

Dalam sebuah pemaparan bertajuk Humanisme Religius: Menggagas Model Pembangunan Manusia dalam Perspektif Islam di Masjid Kampus UGM pada Selasa (3/2/2026), Rizal menelusuri jejak panjang istilah humanisme.

Secara historis, kata humanisme lahir di Eropa. Berasal dari bahasa Latin humanus, ia merujuk pada sifat-sifat kemanusiaan. Dalam ilmu sosial dikenal pula istilah actus humanus—tindakan manusia yang mengandung implikasi moral.

Baca juga: Dari Diferensiasi ke Integrasi, Memadukan Kecerdasan dan Kemanusiaan

“Setiap perilaku kita, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara, mencerminkan siapa diri kita sebenarnya,” ujar Rizal di mimbar Ramadhan Public Lecture di Yogyakarta.

Karena itu, menurutnya, pembahasan tentang humanisme bukan sekadar wacana akademik, melainkan menyentuh jantung kehidupan manusia.

Rizal menjelaskan bahwa humanisme modern berakar pada antroposentrisme, pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat. Dari sana lahir perjuangan atas martabat manusia (human dignity), kebebasan individu, hingga rasionalitas.

Di Eropa abad pertengahan, kebebasan ini kerap dipahami sebagai perlawanan terhadap dogma agama. Rasionalitas diagungkan. René Descartes dengan ungkapan terkenalnya, cogito ergo sum, “Aku berpikir maka aku ada”, menjadi simbol bangkitnya kepercayaan pada akal manusia.

Namun, di balik semangat itu, Rizal mengingatkan adanya risiko. Ketika rasionalitas dan kebebasan dilepaskan dari tanggung jawab moral, spirit kemanusiaan justru bisa mengering. Padahal, dalam setiap profesi dan tindakan, manusia memikul konsekuensi moral.

“Empat hal ini, yaitu martabat, kebebasan, rasionalitas, dan tanggung jawab moral, memberi makna hidup bagi seseorang. Tetapi jika perjuangannya terlalu individualistik, kita kehilangan ruh kebersamaan,” tuturnya.

Baca juga: Bhima Yudhistira: Indonesia Emas Terancam Jadi 'Indonesia Cemas' Akibat Ketimpangan Struktural

Ketika Manusia Menggeser Tuhan

Ketua Takmir Masjid Kampus UGM periode 2020–2024 itu menyebut humanisme pada dasarnya adalah gerakan intelektual. Siapa pun bisa memperjuangkannya lewat gagasan dan ilmu.

Namun ia juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai homodeus—manusia yang perlahan merasa mampu menggantikan peran Tuhan.

Dalam istilah eksistensialis, muncul “mikroteos” atau tuhan-tuhan kecil. Manusia mempertuhankan dirinya sendiri, apalagi dengan dukungan teknologi. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu contoh bagaimana manusia berpotensi merasa serba mampu.

“Inilah sinyal sekularisme yang harus kita waspadai,” katanya.

Rizal memetakan empat jenis humanisme dalam sejarah. Pertama, humanisme Renaissance di Eropa abad ke-12 hingga 14, yang lahir dari kejenuhan terhadap belenggu dogma agama.

Menariknya, pada masa yang relatif sama, peradaban Islam di era Dinasti Abbasiyah justru mencapai puncak kejayaan. Umat Islam kala itu menunjukkan penghargaan tinggi terhadap ilmuwan dan membuka pasar internasional bagi karya-karya pemikiran. Ilmu pengetahuan berkembang tanpa tercerabut dari iman.

Baca juga: Ramadhan Public Lecture: Menelisik Ancaman Arus Balik Kolonialisme di Timur Tengah

Kedua, humanisme eksistensialis yang menyoroti kegelisahan manusia modern. Ketiga, humanisme digitalis—dari kata digitus, jari—yang menggambarkan kebebasan berekspresi di era media sosial. Dengan gerakan jari, orang merasa telah menyuarakan kebebasan. Namun, tanpa kendali moral, kebebasan itu bisa berubah menjadi kebisingan.

Di tengah ragam wajah humanisme itu, Rizal menawarkan konsep humanisme religius sebagai pendekatan yang paling dekat dengan nilai-nilai Islam. Intinya adalah tauhid dan amanah.

Tauhid menegaskan bahwa manusia bukan pusat semesta. Ia hamba sekaligus khalifah. Sementara amanah mengingatkan bahwa setiap peran—sebagai pemimpin, pelajar, profesional, atau orang tua—adalah titipan yang harus dijalankan dengan jujur dan bertanggung jawab.

“Humanisme religius menuntut kita mengekspresikan diri secara autentik, tetapi tetap dalam bingkai kejujuran dan tanggung jawab,” jelasnya.

Tak kalah penting adalah toleransi. Dalam pandangan Islam, perbedaan adalah sunatullah. Tanpa perbedaan, manusia tak mungkin eksis dan belajar satu sama lain. Karena itu, menghormati keberagaman bukan pilihan, melainkan keniscayaan.

Di tengah arus zaman yang terus bergerak, gagasan humanisme religius mengajak kita menata ulang orientasi pembangunan manusia.

Bukan sekadar membangun kecerdasan dan kebebasan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa di atas segala kemampuan manusia, ada Allah yang menjadi sumber makna.

Pada akhirnya, menjadi manusia bukan hanya soal berpikir dan merdeka, tetapi juga soal tunduk, amanah, dan memuliakan sesama. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)

Baca juga: Merawat Tenun Kebangsaan lewat Surah Al-Hujurat, Pesan Prof Zuly Qodir di Masjid UGM

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 06 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:07
Ashar
15:08
Maghrib
18:13
Isya
19:22
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)