LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Dalam diskursus mengenai pembangunan bangsa,
pendidikan karakter seringkali menjadi topik utama. Namun, bagi
umat Muslim, rujukan karakter terbaik tiada lain adalah
Rasulullah SAW.
Guru Besar FMIPA Bidang Kimia Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Chairil Anwar di
Masjid Kampus UGM, menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis akhlakul karimah, merujuk pada teladan Rasulullah SAW.
Sebagaimana hadis beliau yang sangat populer, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia."
Baca juga: Ramadhan: Jembatan Menuju Perdamaian Antariman dan Reinterpretasi Relasi Muslim-Non Muslim"Inilah esensi dari pendidikan karakter, melahirkan
outcome perilaku yang berlandaskan
akhlakul karimah," kata Prof Chairil Anwar di mimbar Ramadhan Public Lecture dalam rangkaian Ramadhan Di Kampus UGM, Jumat (20/2/2026).
Kepemimpinan Berbasis KarakterKeberhasilan Islam menyebar ke seluruh dunia bukan sekadar karena kekuatan politik, melainkan karena pesona akhlak pemeluknya.
Prof Chairil mencontohkan dua pemimpin dunia, berlatar Muslim, yang menjadi sorotan dunia yaitu Wali Kota London
Sadiq Khan dan Wali Kota New York
Zohran Mamdani.
"Di London, Sadiq Khan, seorang imigran asal Pakistan yang ayahnya adalah seorang sopir, mampu terpilih menjadi wali kota," lanjutnya.
Dalam ekosistem demokrasi yang tepat, ia tampil sebagai pemimpin yang diterima masyarakat luas, bahkan menghiasi kota London dengan lampu-lampu perayaan Ramadhan.
"Meski Sadiq Khan adalah anak dari seorang sopir, namun dalam ekosistem yang tepat, ia dapat menampilkan diri sebagai sosok pemimpin yang diterima oleh masyarakat London," kata Prof Chairil.
Begitu pula di New York, Zohran Mamdani, seorang Muslim kelahiran Uganda dan anak dari guru besar Universitas Columbia, terpilih menjadi wali kota.
Keberaniannya menyuarakan keadilan, termasuk menentang kebijakan Benjamin Netanyahu, serta kebanggaannya akan suasana Ramadhan, menunjukkan bahwa karakter dan keyakinan yang kuat mampu bertahan meski di lingkungan yang menantang.
Baca juga: Menilik Peluang Menjadi Muslim Negarawan di Era Modern"Saat kita bicara tentang karakter dari dua contoh tadi, di mana seorang imigran dengan suasana tidak kondusif tapi tetap mempertahankan keyakinannya hingga terpilih menjadi pemimpin," jelasnya.
Nilai-Nilai Utama: Istiqamah, Amanah, dan TablighLebih lanjut, Prof Chairil menyebut nilai-nilai konkret dalam pendidikan karakter oleh Jamaah Shalahuddin di UGM.
Prof. Chairil menceritakan bahwa ketika Jamaah Shalahuddin berdiri 50 tahun yang lalu, misinya adalah untuk berdakwah di lingkungan kampus, di mana pada saat itu mereka diminta untuk tetap istiqamah dalam berdakwah bagaimanapun kondisinya.
"Ketika Jamaah Shalahuddin berdiri 50 tahun lalu misinya adalah berdakwah di kampus. Saat itu betapa pun kondisinya tetap diminta untuk istiqamah (berdakwah)," cerita Prof Chairil.
Sifat istiqamah inilah yang membuat kegiatan Ramadhan di Kampus (RDK) UGM tidak hanya berimbas pada mahasiswa, tetapi juga menginspirasi gerakan "Ramadhan di Kampung" di seluruh Yogyakarta.
Kemudian nilai amanah atau integritas. Di tengah keterbatasan dana universitas, panitia RDK harus berjihad mencari donasi.
Menurut Prof Chairil, di momen ini nilai amanah panitia diuji. Bila tidak amanah, mana donasi bisa saja digunakan untuk kegiatan lain yang menguntungkan diri sendiri.
Baca juga: Di Ceramah Masjid Kampus UGM, Ganjar Pranowo Ingatkan untuk Jangan Alergi dengan KampusSaat ini, sifat amanah menjadi barang mahal di tengah maraknya kasus korupsi. Dana yang seharusnya untuk kemaslahatan masyarakat justru sering disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.
Prof Chairil berharap dengan pendidikan karakter, nilai integritas ini mampu dikembalikan.
Selanjutnya nilai tabligh atau menyampaikan kebenaran. Kebenaran tidak akan sampai ke masyarakat tanpa adanya syiar.
"Kolaborasi panitia RDK yang melibatkan berbagai kampus (UGM, UII, UIN, UAD, UNY) menjadi sarana latihan bagi generasi muda untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan secara luas," ujarnya.
Modal Sosial Bangsa Indonesia: Gotong Royong dan Kedermawanan
Prof Chairil menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal yang luar biasa untuk masa depan. Berdasarkan penelitian Flourishing Study dari Universitas Harvard yang dimuat dalam jurnal Nature, Indonesia dinobatkan sebagai salah satu bangsa yang paling bahagia dari 22 negara yang diteliti.
Kebahagiaan ini tidak semata-mata diukur dari stabilitas finansial, melainkan dari kesehatan fisik dan mental, makna hidup, dan karakter yang kuat, relasi sosial juga stabilitas finansial.
"Kajian itu menunjukkan bahwa Indonesia unggul dalam relasi sosial. Artinya, kebahagiaan itu tidak semata-mata diukur menggunakan finansial," terangnya.
Baca juga: Di Masjid Kampus UGM, Anies Kritisi Pendidikan yang Tak Jadi Prioritas di IndonesiaMenurut Prof Chairil, kekuatan utama Indonesia terletak pada budaya Gotong Royong. Hal ini diperkuat oleh data dari World Giving Index (2021-2024) yang menempatkan Indonesia di peringkat teratas sebagai negara paling dermawan di dunia.
"Masyarakat kita sangat gemar menyumbangkan uang, membantu orang asing, dan berpartisipasi dalam kerelawanan," kata Prof Chairil Anwar menutup tausyiahnya.
Dari pemaparan Prof Chairil Anwar dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar teori di kelas, melainkan praktik nyata yang membentuk perilaku.
Dengan memadukan nilai religius seperti akhlakul karimah (istiqamah, amanah, tabligh) dengan modal sosial gotong royong yang kita miliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun masa depan yang lebih baik, sejahtera, dan bermartabat. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)
(est)