Pengasuh Ponpes Al-Bahjah Cirebon, Jawa Barat, Buya Yahya, menyatakan ustadz/guru itu bukan diukur dari follower/pengikut yang banyak dan kemasyhuran/keterkenalan, tapi akhlak.
Ada sejumlah golongan orang yang lebih utama untuk mendapatkan akhlak terbaik seorang muslim. Golongan tersebut adalah orang-orang terdekat, termasuk keluarga.
Syekh Dr Shalih bin Abdullah bin Humaid menjelaskan ayat tersebut dalam Tafsir Al-Mukhtashar bahwa kejujuran merupakan suatu buah tutur kata yang baik.
Menjawab perkara itu, pengasuh Pondok Pesantren Tahdzibul Washiyyah, KH Wawan Shofwan Shalehuddin mengatakan bahwa durhaka tidak hanya berlaku bagi anak saja, tetapi juga dengan orang tua kepada anak.
Menurut pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid ini, hal pertama yang dilihat dari orang berakhlak tinggi adalah saat berbicara lebih banyak menyebut Allah dengan ikhlas.
Pendakwah Ustaz Khalid Basalamah menjelaskan, seorang anak tidak boleh congkak di hadapan orang tua. Oleh karena itu, setinggi apapun gelar atau jabatan yang anak emban, harus tetap rendah hati di hadapan kedua orang tua.
Salah satu pengajar TPQ At-Taufiq, Ustaz Muhammad Mukhlisin berharap, para santri yang akan dan telah lulus tumbuh menjadi seorang mukmin taat dan mampu membawa pengaruh positif di lingkungan mereka, bahkan untuk negara.
Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan, kategori manusia berakhlak dan beradab dalam perspektif Islam memiliki tafsir berbeda. Orang beradab belum tentu berakhlak. Itulah mengapa peradaban di negara maju tidak mencerminkan akhlak penduduknya.
Orang di sekitar yang melihat kalian dipermalukan namun tidak membalas, maka orang-orang tersebut akan menilai kalian sebagai orang baik. Itu merupakan kuasa Allah SWT.
Menurut dia, jika kaum muslimin apalagi anak muda kembali ke jalan Allah yang lurus atau bertaubat, maka Allah akan memperbaiki masalah-masalah yang mereka hadapi.
Dalam tafsir al-Alusi, Syaikh Abu Tsana' Afandi Al-Alusi menjelaskan beberapa pokok penafsiran ayat ini. Pertama, melakukan muhasabah atau penilaian diri sebelum menilai orang lain untuk mencegah diri dari rasa paling.
Ustaz Ismail menerangkan, Allah menciptakan manusia untuk hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepadaNya. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan ini manusia hendaklah menyerahkan diri dengan mengabdi dan taat kepada Allah Taala dan RasulNya.