LANGIT7.ID - Pendiri Pusat Kajian Islam Quantum Akhyar Institute,
Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan, kategori manusia berakhlak dan beradab dalam perspektif Islam memiliki tafsir berbeda. Orang beradab belum tentu berakhlak. Itulah mengapa peradaban di negara maju tidak mencerminkan akhlak penduduknya.
“Akhlak beda dengan Adab. Adab adalah sikap moral yang dihasilkan dari proses pendidikan. Akhlak adalah sikap moral yang dihasilkan oleh proses ibadah,” kata UAH di kanal YouTube-nya, dikutip Rabu (12/10/2022).
Dari proses pendidikan itu yang akan membentuk sebuah peradaban. Ini menjadi alasan zaman dulu banyak peradaban dibangun, seperti peradaban Mesir kuno dan peradaban Yunani. Meski orang yang membangun peradaban itu tak memiliki keimanan kuat kepada Allah.
Baca Juga: 3 Kewajiban Orang Tua kepada Anak, Beri Nama Baik hingga Benahi Akhlak
Era modern juga memperlihatkan banyak peradaban di berbagai bangsa. Di Jepang banyak peradaban baik yang bisa ditemui seperti budaya antri dan pembagian eskalator untuk orang buru-buru dan santai. Belum lagi masalah kebersihan dan tanggungjawab di Negeri Sakura itu.
“Ini yang dapat dikatakan sebagai adab. Kalau mau dapatkan adab, ukurannya bukan hanya dari negara muslim saja. Negara non muslim juga bisa mencontohkan adab,” kata UAH.
Namun, berbeda dengan akhlak. Akhlak merupakan sikap moral yang dihasilkan dari proses ibadah. Maka itu, orang yang beradab belum tentu berakhlak.
“Jadi, di luar bisa beradab, tapi belum tentu berakhlak. Antri bisa, disiplin bisa, jujur bisa, karena dididik. Tapi saat bersamaan masih selingkuh, masih mabuk, masih zina, masih melukai. Itu fahsya dan mungkar,” kata UAH.
Baca Juga: Adian Husaini: Konsep Indonesia Emas 2045 Perlu Ditinjau Ulang
Akhlak memiliki turunan kata dari
khalaq. Proses penciptaan manusia disebut
khalaq, sementara penciptanya disebut
Khaliq. Itu termaktub dalam Surah Al Hijr ayat 28:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS Al Hijr: 28)
Karakter manusia yang mulia bisa diperoleh melalui ibadah untuk mencapai akhlak tinggi. Seperti akhlak Rasulullah SAW yang didasari ibadah sepanjang hayat beliau.
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat: Indonesia Krisis Ber-Muhammadiyah
Ibadah-ibadah yang dijalankan dengan benar secara tak langsung akan membentuk sebuah akhlak yang mulia. Hal itu otomatis akan menghindari orang untuk melakukan perbuatan
fahisyah dan munkar.
Fahisyah merupakan maksiat yang bersumber dari hawa nafsu syahwat seperti zina, pornografi, dan LGBT. Mungkar merupakan maksiat yang berasal dari nafsu perut dan akal seperti merampok dan korupsi.
“Makanya kita diminta untuk shalat, puasa, baca Al-Qur’an supaya memiliki akhlak. Apa nilai kemuliaan dari akhlak? Bukan hanya sekadar disiplin dan jujur, tetapi lebih tinggi dari itu. Yakni bagaimana meninggalkan semua yang tidak baik seperti khamr dan zina,” pungkas UAH.
(jqf)