LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII),
Dr Adian Husaini, mengkritik tujuan pendidikan nasional untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, orientasi Indonesia Emas 2045 sangat materialistis. Itu juga yang diajarkan di sekolah dan kampus.
Negara-negara Barat dijadikan model kemajuan peradaban. Padahal, itu bertentangan dengan konsep pendidikan yang sesuai dengan konstitusi Indonesia.
“Konsep kemajuan itu masih didominasi oleh paham materi ini. Pendidikan pun sekarang diarahkan ke situ, tujuan pendidikan itu melahirkan pekerja dengan keahlian tertentu, yang bisa dapat duit, dapat kerja,” kata Adian dalam webinar yang digelar Forum Zakat (FOZ), Kamis (6/10/2022).
Baca Juga: Antrean Panjang Sertifikasi Guru, Benarkah RUU Sisdiknas Jadi Solusi?
Dia menegaskan, konsep Indonesia emas harus kembali kepada konstitusi. Dalam konstitusi disebutkan, tujuan pendidikan adalah melahirkan anak-anak yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
“Kalau sekarang ditanya model negara maju itu apa, Amerika, Inggris, itu maju apanya? kan maju sains teknologinya. Manusianya tidak maju. Ini yang menjadi problem,” kata Adian.
Role model Indonesia emas yang sesuai konstitusi bisa mengambil contoh dalam peradaban Madinah pada masa Rasulullah SAW. Peradaban Madinah pada masa nabi peradaban akhlak.
“Karena Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Jadi, bukan yang terpenting itu dia hafal, tapi akhlaknya adalah akhlak Al-Qur’an. Ini pendidikan jadi rancu kalau konsep Indonesia Emas kita tidak rumuskan,” ungkap Adian Husaini.
Baca Juga: DDII: Umat Islam Harus Punya Peta Pendidikan Lahirkan Pemimpin dan Ulama
Dia menjelaskan, Indonesia emas adalah Indonesia takwa. Model negara terbaik versi itu adalah negara Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Itu adalah negara dengan manusia paling beriman dan bertakwa.
“Negara yang dengan tingkat literasinya sangat tinggi. Piagam Madinah itu kan merupakan konstitusi negara tertulis pertama di dunia. Ini harus diubah dulu,” kata Adian.
Maka itu, Adian Husaini meminta agar pemerintah dan pemangku lembaga pendidikan nasional tidak mempersepsikan kesuksesan adalah kaya dan pintar. Tapi sukses sesungguhnya adalah saat bisa mencapai derajat orang beriman dan bertakwa.
Baca Juga: Adian Husaini: Sekolah Bukan Pabrik, Murid Bukan Produk
“SMA terbaik yang melahirkan orang-orang shaleh. Orang orang yang berakhlak mulia, melahirkan guru ngaji, mungkin mereka tidak pintar, tapi mereka bermanfaat,” kata Adian.
(jqf)