Upaya integrasi ilmu dan Islam sudah dilakukan ulama-ulama dahulu sebelum Indonesia merdeka. Gerakan paling mencolok dimulai pada 1901. Kala itu, para ulama mendirikan sekolah-sekolah Islam sampai organisasi massa Islam untuk melawan sistem pendidikan Barat.
Ketua Umum Dewan Dawah Islamiyah Indonesia, Dr Adian Husaini, mengutarakan, kampus-kampus Islam di Indonesia harus menjadi tonggak integrasi Islam dan ilmu pengetahuan. Diskusi seputar integrasi Islam dan ilmu pengetahuan sudah ada sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Ustadz Adi tetap bersyukur karena berhenti tak jauh dari pemukiman warga. Dengan menuntun motornya, Ustadz Adi pun mencari mushala terdekat karena sudah mendekati waktu Ashar dan berharap pertolongan Allah datang melalui saudara sesama muslim.
Masjid zaman sekarang tak hanya sebagai sarana ibadah saja, melainkan juga sebagai pusat peradaban. Artinya, masjid harus menjadi pusat dakwah, ilmu, dan pendidikan.
Ustaz Adian menuturkan bahwa menjadi seorang guru harus memiliki jiwa keikhlasan dan kesungguhan dalam mengajar. Sebab tidak sembarang orang memiliki kapasitas untuk mengemban tugas sebagai guru.
STID M Natsir adalah tempat pengkaderan para guru ngaji yang akan melanjutkan estafet dakwah dan di sebar ke penjuru negeri. Kartini yang berasal dari Pandeglang, Banten ini telah mengenyam pendidikan selama empat tahun di STID M Natsir.
Salah satu tujuan penempatan da'i di daerah adalah sebagai perekat ukhuwah. Ustaz Avid berpesan kepada para da'i agar kehadiran da'i Dewan Da'wah di mana pun berada jangan sampai menimbulkan perpecahan umat.
Jika hari santri dahulu adalah perjuangan melawan penjajah, melawan pesawat tempur, meriam senjata modern, maka berbeda dengan generasi hari ini. Perintah jihad ini tidak pernah berhenti dan harus dilanjutkan oleh para wisudawan dan wisudawati
Beasiswa Unggulan 2022 diperuntukkan bagi masyarakat berprestasi, baik tingkatan nasional ataupun internasional, pegawai Kemendikbudristek dan penyandang disabilitas.
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ustadz Adian Husaini, mengaskan bahwa lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan bagi peserta didik.
Dalam satu abad ini, sudah seharusnya Persis menemukan bentuk jati diri pendidikan Islam yang ideal guna melahirkan generasi penerus bangsa yang mumpuni dalam seluruh bidang kehidupan.