LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Dr Adian Husaini, mengutarakan, kampus-kampus Islam di Indonesia harus menjadi tonggak integrasi Islam dan ilmu pengetahuan. Diskusi seputar integrasi Islam dan ilmu pengetahuan sudah ada sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
“Kalau kita lihat dalam lintasan sejarah, Prof Saifuddin ini tahun 83 sudah mendeklarasikan ISK (islamisasi sains dan kampus), waktu beliau sebagai Rektor Ibnu Khaldun Bogor,” kata Adian dalam Webinar peluncuran buku Integrasi Ilmu dan Islam di Universitas Al Azhar Indonesia yang diikuti Langit7, Selasa (17/1/2023).
Islamisasi ilmu pengetahuan atau integrasi sains dan Islam sebenarnya sudah digagas oleh para pendiri bangsa. Pada 1944, Masyumi menggelar kongres di Yogyakarta. Ada dua keputusan dalam kongres tersebut.
Baca Juga: Integrasikan Islam dengan Sains, UMY Dirikan CISIC
Keputusan pertama, membentuk laskar hizbullah. Kedua, membentuk panitia pendirian Universitas Islam. panitia itu diketuai oleh Moh. Hattan dan sekretaris Moh. Natsir. Hingga, 1945 Indonesia resmi memiliki universitas pertama dengan nama Sekolah Tinggi Islam (STI).
“Tokoh-tokoh kita dulu sangat visioner. Kita belum memproklamasikan kemerdekaan, sudah mendirikan universitas, diresmikan pada 8 Juli 1945. Kampus STI waktu di Jl Teuku Umar, Jakarta. waktu peresmian juga dihadiri Bung Karno dan tokoh-tokoh bangsa lain,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren At-Taqwa Depok itu.
Tokoh-tokoh Islam dahulu memang sejak awal sangat kritis terhadap hadirnya model pendidikan Barat. Strategi itu sudah dimulai sejak 1901 saat penjajah Belanda mencanangkan politik etis. Tujuan dari politik etis ada dua yakni sekularisasi dan kristenisasi.
Baca Juga: Trensains Ajarkan Islam dan Sains dalam Satu Tarikan Nafas
“Ada satu data yang diungkap Yudi Latif dalam buku Pendidikan Berkebudayaan, cukup menarik, 1900 jumlah anak Indonesia yang sekolah model Barat, mencapai 100.003 orang. pada 1910 sudah 300 ribu lebih. Pada 1920 sudah 800 ribu lebih,” kata Adian.
Respons umat Islam luar biasa terhadap gerakan sekularisasi penjajah tersebut. Pada 1905 sudah berdiri Mamba'ul Ulum di Solo dan Jamiat Khair, 1910 berdiri beberapa pesantren seperti Pesantren Parabek di Bukittinggi, 1912 berdiri Muhammadiyah, dan 1914 berdiri Sekolah Al Irsyad di Surabaya.
“Tapi, perguruan tinggi pertama sebagai sekolah tinggi berdiri pada 1945. Rektor pertamanya KH Kahar Muzakkir,” ucap Adian.
Baca Juga: Integrasi Iptek dan Imtaq, Warisan BJ Habibie untuk Bangsa
Upaya integrasi ilmu dan Islam sudah ada sejak dulu. Namun, hal yang menjadi tantangan berat saat ini adalah implementasi. Sudah saatnya cendekiawan muslim mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa terdahulu.
“Keunggulan konsep integrasi atau islamisasi ini, bagaimana membentuk sarjana muslim yang tangguh, berakhlak mulia. Itu keunggulan kita,” ujar Adian.
(jqf)