LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Anggota Komisi X DPR RI
Fraksi PKB Habib Syarief Muhammad memberi tanggapannya mengenai rencana penutupan
program studi (Prodi) yang tidak relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Habib Syarief berujar rencana penutupan prodi berdasarkan relevansi pasar sering kali terjebak dalam arus instrumentalisme ekonomi. Pendidikan tinggi tidak boleh direduksi sekadar menjadi lembaga pelatihan kerja (vocational training).
"Secara filosofis, universitas adalah studium generale, tempat pencarian kebenaran dan pengembangan peradaban," katanya melalui laman resmi Fraksi PKB, dikutip Rabu (6/5/2026).
Beberapa waktu lalu Sekretaris Jenderal
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco sempat mengatakan bahwa pihaknya berencana akan menutup prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Baca juga: Lulusan Ilmu Sosial & Kependidikan Membludak, Prodi yang Tidak Relevan Kebutuhan Industri Bakal DitutupPernyataan ini ditentang Habib Syarief. Ia memberi alasan, apabila kebijakan hanya berpijak pada kebutuhan industri saat ini, maka pemerintah berisiko melakukan kesalahan fatal dalam memprediksi kebutuhan masa depan. Apa yang dianggap tidak relevan hari ini, dapat menjadi fondasi kritis di masa depan.
"Menutup prodi secara prematur adalah bentuk bunuh diri intelektual yang mengancam keragaman epistemologis bangsa," terang politisi asal Dapil Jawa Barat I itu.
Habib Syarief mengatakan, dari sudut pandang esensi pendidikan, sebuah program studi bukan sekadar unit administratif, melainkan sebuah ekosistem pemikiran. Menutup prodi berarti memutus tradisi keilmuan, menghapus ribuan jam penelitian, dan menghilangkan spesialisasi yang mungkin sangat unik.
Dalam era
trans-disciplinary saat ini, prodi-prodi yang dianggap marginal justru sering kali menjadi kunci dalam memecahkan masalah kompleks melalui kolaborasi lintas ilmu.
"Dukungan saya terhadap civitas kampus yang terancam bukanlah dukungan yang bersifat emosional-personal, melainkan dukungan terhadap integritas institusional," bebernya.
Baca juga: Universitas Brawijaya Buka Suara soal Penutupan Prodi, Harus Lewat Kajian MendalamMenurutnya, ancaman terhadap penutupan prodi tanpa kajian komprehensif adalah ancaman terhadap kebebasan akademik dan keberlangsungan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Habib Syarief menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan para pemikir, peneliti, dan pengajar kehilangan rumah intelektual mereka hanya karena perubahan tren pasar yang bersifat temporal.
"Esensi pendidikan adalah menjaga nyala api pengetahuan, bukan sekadar mengikuti arah angin industri. Kita harus berdiri tegak untuk melindungi keberagaman disiplin ilmu sebagai aset kedaulatan berpikir bangsa," tegasnya.
(lsi)