Menurut Adian, pendidikan merupakan jalan utama untuk mencapai cita-cita Indonesia menjadi negara maju. Maka itu, selain sistem pendidikan nasional, umat Islam juga harus punya peta pendidikan sendiri untuk melahirkan kader-kader ulama dan pemimpin.
Jika dilihat dari riwayat pendidikannya, Natsir memang memang hanya lulusan sekolah setara SMA dan tak pernah kuliah. Kendati demikian, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ustaz Adian Husaini, menyebut pemikiran Mohammad Natsir melebihi seorang profesor.
Adian melanjutkan, STID Mohammad Natsir ini bisa disebut sebagai satu-satunya pusat kaderisasi dakwah nasional untuk tingkat S1. Bahkan, keberadaan dan kiprah STID Mohammad Natsir mendapat apresiasi dari YADIM, yayasan dakwah yang berada di bawah pemerintahan Malaysia.
Fuad menggaris-bawahi pesan Mohammad Natsir pada 1969 dalam suatu acara di Kementerian Agama, Menurut dia, pesan ini penting dan relevan dengan cara umat Islam menghadapi tantangan dakwah dewasa ini.
Buya Mahyeldi menyampaikan kegembiraan atas terpilihnya Sumbar sebagai tempat pelaksaan acara besar Dewan Dawah. Menurut dia, antara Islam dan Sumbar tidak bisa terpisahkan dengan dilihat dari nilai historis.
Di antara ribuan dai tersebut, menurut Adian, terdapat ratusan dai yang dibekali pendidikan khusus hingga tingkat sarjana melalui kerja sama dengan pemerintah Arab Saudi.
Masjid yang terletak di Jalan Raya Kedaton, Kedaton Induk, Batanghari Nuban didirikan berkat kerja sama Yayasan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia dengan Yayasan Jam'iyyah Syaikh Abdullah An Nury Kuwait.
Di tengah kesibukan sebagai Ketua Umum Dewan Da'wah Pusat, Adian tetap menyempatkan diri untuk menulis. Tidak jarang ia menulis di sela-sela aktivitas dakwah di luar kota.
Perjuangan dakwah di Indonesia tak dapat dilepaskan dari peranan Partai Masyumi dan para tokoh di dalamnya seperti Mohammad Natsir, KH Hasyim Asyari, Ki Bagus Hadikusumo, dan Syafrudin Prawiranegara.
Ketua Umum Dewan Dawah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Pengasuh Pondok Pesantren At-Taqwa Ustadz Adian Husaini, mengingatkan, lembaga pendidikan tidak boleh dianggap sebagai pabrik yang hanya jadi alat untuk menghasilkan murid yang diibaratkan produk.
Banyak tokoh Islam yang berjuang melawan penjajahan Belanda dengan cara mendirikan pesantren, seperti yang dilakukan oleh Syaikh Yusuf Al-Makassari, Syaikh Abdul Samad Al-Palimbani, dan lainnya.
Ki Hajar Dewantara menyebut hakikat pesantren adalah terjadinya proses interaksi intensif antara kiai dan santri, sehingga terjadi proses pengajaran dan pendidikan.