LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr Adian Husaini menyebut makna pendidikan terlalu sempit jika hanya diartikan aktivitas sekolah saja. Pendidikan mencakup kehidupan manusia sejak lahir hingga ke liang lahat.
Tujuan pendidikan bahkan sudah ditegaskan dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam regulasi itu disebutkan, tujuan pendidikan adalah mendidik siswa agar beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
“Konstitusi tegas memerintahkan sistem pendidikan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” kata Adian dalam sebuah webinar pendidikan, Jumat (12/8/2022) malam.
Baca Juga: Pendidikan di Indonesia Tak Seindah Amanat Konstitusi
Menurut Adian, pendidikan merupakan jalan utama untuk mencapai cita-cita Indonesia menjadi negara maju. Maka itu, selain sistem pendidikan nasional, umat Islam juga harus punya peta pendidikan sendiri untuk melahirkan kader-kader ulama dan pemimpin.
Dia mengatakan, konstitusi memberikan ruang bagi warga negara untuk membuat peta pendidikan sendiri. Di Kementerian Agama ada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang membawahi madrasah maupun pesantren.
Pesantren pun diberi kebebasan membuat kurikulum sendiri yang bisa diintegrasikan dengan sistem pendidikan nasional. Itu menjadi peluang besar bagi setiap umat Islam melahirkan kader ulama dan pemimpin.
“Maka, di samping penguasa sibuk di politik, tapi kita punya target melahirkan generasi 2045, generasi ideal, melahirkan orang-orang hebat seperti M Natsir, Buya Hamka. Pak Natsir hebat, bagaimana model Universitas kehidupan yang dijalankan di rumah oleh Agus Salim, bagaimana dia mendidik M Natsir, M Roem, Kasman,” kata Adian.
Hal paling penting, pandangan pendidikan hanya di lingkungan sekolah harus dihapuskan. Pendidikan sangat luas, apalagi Rasulullah memerintahkan umatnya menuntut ilmu sejak lahir sampai mati.
Baca Juga: Adian Husaini: Sekolah Bukan Pabrik, Murid Bukan Produk
"Jadi, negara kita akan hebat kalau tradisi ilmu tumbuh, yang melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Bung Hatta, Agus Salim. Budaya ilmu itu tumbuh. Tradisi ilmu di tengah masyarakat, dulu tradisi pendidikan itu tidak dibatasi tidak hanya di sekolah. Misal, Buya Hamka disuruh pulang Agus Salim baru 7 bulan di Makkah,” kata Adian Husaini.
Pendidikan berarti menghidupkan tradisi ilmu, baik di keluarga dan di tengah masyarakat. Sangat fatal Jika pendidikan hanya dibatasi di ruang sekolah saja. Itu sama saja menyempitkan makna pendidikan itu sendiri.
“Konstitusi itu memerintahkan kita untuk melahirkan orang Beriman dan bertakwa, itu yang terbaik. Itu kita punya peluang sangat besar. Pendidikan harus melahirkan pemimpin dan ulama,” ujar Adian.
Hal ini juga harus disadari para guru. Para guru harus memiliki jiwa mendidik yang baik untuk melahirkan siswa-siswa yang beriman dan bertakwa. Dengan begitu, budaya atau tradisi ilmu akan marak di tengah masyarakat.
Baca Juga: Kritik Cak Nun ke Sistem Pendidikan Modern: Singkirkan Perdagangan dari Pendidikan
“Harus ada keseimbangan bukan hanya murid yang banyak, tapi bagaimana guru menjadi guru sejati bisa mendidik murid dengan bijak dan benar. Guru itu harus menjadi pembinaan, bukan hanya mengajar, tapi harus proyeksi bagaimana peningkatan kualitas guru,” pungkas Adian.
(jqf)