LANGIT7.ID-Dari langgar kecil di Yogyakarta hingga
pesantren megah di Jombang, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menorehkan
sejarah panjang dalam mencerdaskan bangsa. Bukan sekadar pendidikan agama, tapi juga mencetak intelektual, teknokrat, dan pemimpin bangsa.
Ketika para pendiri bangsa merumuskan UUD 1945 dan mencantumkan frasa “mencerdaskan kehidupan bangsa”, dua organisasi ini telah lebih dulu memulai langkah panjangnya. Muhammadiyah, yang didirikan oleh
KH Ahmad Dahlan pada 1912, sejak awal membawa misi reformis: menjadikan pendidikan sebagai senjata utama melawan kebodohan dan kolonialisme.
Sedangkan
Nahdlatul Ulama (NU), lahir pada 1926 di bawah kepemimpinan
KH Hasyim Asy’ari, meneguhkan pentingnya pendidikan berbasis tradisi keilmuan pesantren.
Baca juga: Haedar Nashir Tekankan Peran Strategis Muhammadiyah dan NU dalam Persatuan Bangsa Jalan Panjang Pendidikan MuhammadiyahMuhammadiyah menancapkan tonggak modernisasi pendidikan Islam dengan mendirikan sekolah-sekolah yang menggabungkan ilmu agama dan umum. Dalam catatan Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia (1980), model pendidikan Muhammadiyah mematahkan dikotomi ilmu agama dan ilmu sekuler.
Lahirnya sekolah HIS Muhammadiyah (Hollandsch-Inlandsche School) dan Kweekschool (Sekolah Guru) menandai awal pergeseran paradigma umat Islam yang kala itu tertinggal dalam pendidikan modern.
Kini, amal usaha Muhammadiyah meliputi 170 perguruan tinggi, 1.000 lebih SMA/SMK, dan ribuan sekolah dasar (Sumber: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Laporan Tanwir 2022). Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bahkan menembus peringkat kampus swasta terbaik nasional.
“Muhammadiyah selalu memandang pendidikan sebagai jalan pembebasan, bukan sekadar transfer ilmu, tetapi transformasi sosial,” kata Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dalam Muktamar ke-48 di Surakarta (2022).
Baca juga: Saatnya Masjid Hemat Energi, Muhammadiyah Gaungkan Dakwah Ramah Lingkungan NU dan Tradisi Pesantren yang BertransformasiBerbeda dengan Muhammadiyah yang fokus pada pendidikan modern, NU mengembangkan pesantren sebagai pusat pembentukan akhlak dan ilmu agama. Namun, NU tidak tinggal diam menghadapi modernisasi. Dalam riset Martin van Bruinessen (
NU: Tradisi, Relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru, 1994), NU menunjukkan kemampuan beradaptasi: pesantren kini mengajarkan matematika, sains, bahkan teknologi digital.
Data Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI-NU) mencatat ada lebih dari 28 ribu pesantren di bawah naungan NU dengan santri mencapai 5 juta orang (Laporan RMI-NU, 2023). Banyak pesantren NU telah mendirikan universitas, seperti Universitas Islam Malang (Unisma) dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).
“Pendidikan ala pesantren tidak boleh statis. Kita harus mencetak santri yang paham kitab kuning, tapi juga melek teknologi dan globalisasi,” ujar KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, dalam sebuah wawancara.
Baca juga: Muhammadiyah dan NU: Dari Amal Usaha ke Panggung Kekuasaan Misi Kebangsaan: Dari Literasi ke InovasiMengapa peran NU dan Muhammadiyah krusial? Sebab negara tidak bisa sendiri. Studi Azyumardi Azra dalam
Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (1999) menyebut dua organisasi ini sebagai aktor utama demokratisasi pendidikan. Mereka memperluas akses belajar, dari kota hingga pelosok, sehingga amanat konstitusi tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa” bukan sekadar slogan.
Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks partisipasi sekolah meningkat signifikan di daerah yang kuat basis NU dan Muhammadiyah. Ini bukan kebetulan. Di daerah-daerah itu, sekolah-sekolah berbasis ormas Islam menjadi jangkar peradaban.
Meski kontribusi besar telah tercatat, tantangan baru membayangi. Literasi digital, kualitas guru, dan kesenjangan teknologi menjadi pekerjaan rumah besar. “Jika Muhammadiyah dan NU tidak mengintegrasikan teknologi dan kreativitas dalam pendidikan, mereka akan tertinggal,” tulis Ahmad Najib Burhani dalam jurnal
Studia Islamika (2020).
Kini, baik NU maupun Muhammadiyah mulai mengembangkan platform digital pendidikan. Muhammadiyah dengan EduMu dan NU dengan program Pesantren Digital adalah contoh adaptasi. Namun, pertanyaan penting tetap menggantung: mampukah dua organisasi ini menjaga idealisme pendidikan di tengah komersialisasi kampus dan penetrasi kapitalisme global?
Baca juga: Bid‘ah Bukan Sekadar Baru: Menyelami Metodologi Muhammadiyah dan NU NU dan Muhammadiyah bukan sekadar ormas Islam. Mereka adalah arsitek pendidikan bangsa. Dalam riuh politik dan pasar bebas, kiprah mereka menjadi jangkar agar Indonesia tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga berkarakter. Seperti pesan Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Dan seperti dawuh Hasyim Asy’ari: “Menuntut ilmu itu wajib, dan mengajarkan ilmu itu jihad.”
(mif)