LANGIT7.ID, Jakarta - Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun mengkritik sistem pendidikan modern, terkhusus pendidikan di Tanah Air. Dia melihat lembaga pendidikan saat ini lebih berorientasi pada lembaga dagang.
"Karena sejak awal, yang namanya pendidikan modern, sekolah, itu adalah tempat training calon-calon buruh, calon-calon karyawan, calon perangkat-perangkat industri," katanya di kanal YouTube-nya, Sabtu (11/6/2022).
Dia mengatakan, pendidikan modern diorientasikan untuk industri. Itu membuat pendidikan tidak lagi berurusan dengan kemanusiaann, akhlak, hingga tidak ada urusan dengan orientasi rahmatan lil-alamin.
"Tapi, tidak usah berputus asa untuk itu, karena kita tetap berdaulat atas diri kita sendiri," ucap Cak Nun.
Baca Juga: Sabrang: Saat Sekolah Hanya Dipahami Wadah Cari Pekerjaan
Dia menjelaskan, pendidikan merupakan metode pendidik dan orang tua untuk mengantarkan anak menemukan jati dirinya sendiri.
"Kalau dia Lombok, dan tau dia orang Lombok, maka akan lebih bermanfaat. Kalau dia Lombok tapi menganggap dia orang Prambanan, nanti kan salah manajemen," ungkap Cak Nun.
Kedua, penyematan kata 'unggul' di lembaga-lembaga pendidikan. Semua orang berlomba-lomba mendapat pasar dan murid sebanyak-banyaknya menggunakan kata tersebut. Padahal, sekolah bukan untuk mendapatkan laba.
"Tapi sekarang tergantung pada untung dan rugi. Pada akhirnya ada pemasaran, ada branding, orang berlomba, hingga menjual soal ujian. Maka akhirnya, memainkan bahwa sekolahnya unggul," tutur Cak Nun.
Baca Juga: Pendidikan Hanya Jadi Jembatan untuk Mencari Uang, Ini Kata Kiai Profesor dari Gontor
Cak Nun mengaku angkat tangan semenjak ada kata 'unggul' yang disematkan kepada sekolah dan universitas. Itu sama halnya ada tokoh yang menjuluki dirinya sendiri sebagai orang super. Dia menilai kata unggul atau super tidak sopan dipakai manusia.
"Anda itu boleh cantik, tapi yang boleh ngomong cantik itu orang lain, bukan anda. Anda boleh hebat, tapi yang ngomong hebat harus orang lain. Kalau anda sendiri bikin sekolahan, lalu ngomong sekolahan anda unggul berarti itu adalah pemasaran, akhirnya pendidikan jadi perdagangan," jelas Cak Nun.
Sebenarnya, kata dia, di dunia tidak ada yang unggul, karena setiap orang punya keutamaan (fadilah) yang berbeda-beda. Dia mencontohkan, gajah tidak bisa disebut lebih hebat dari kambing. Itu karena setiap orang punya fadilah masing-masing.
"Jadi, menurut saya, pendidikan kita terlalu diseret oleh kapitalisme, lembaga-lembaga pendidikan, yang maju memang yang pintar dagang. Karena semakin banyak murid, semakin rendah mekanisme pendidikannya, karena semakin sempit kemampuannya mendeteksi fadilah-fadilah dari murid-muridnya," jelas Cak Nun.
Baca Juga: Sistem Pendidikan Menurut Al-Qur'an, Sinergi Proses Ta'lim dan Tarbiyah
Maka itu, Cak Nun menyarankan agar menyingkirkan sistem perdagangan dari dunia pendidikan. Itu hanya mengurangi kualitas pendidikan yang diberikan kepada murid. Pendidikan harus dikembalikan kepada definisi asli, yakni membantu murid menemukan fadilahnya sendiri.
"Kalau boleh kita pertimbangkan kembali kalau pendidikan ya pendidikan, bukan dagang. Meski ada unsur dagang karena harus beli bangku dan gedung, tapi tidak boleh supremasi, karena supremasi pendidikan adalah mendidik anak menemukan fadilahnya supaya dia bermanfaat dan menjadi bagian dari rahmatan lil-alamin," pungkas Cak Nun.
(jqf)