LANGIT7.ID, Ponorogo - Dewasa ini, tujuan dari pendidikan bergeser dari cara pandang Islam. Banyak orang menganggap pendidikan adalah jembatan untuk mencari materi. Hal ini terpengaruh dari cara pandang peradaban Barat yang materialistis.
Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, menguraikan akar dari materialisme di bidang pendidikan yang terjadi di tengah masyarakat. Dia menyebut ujung dari sekian banyak persoalan itu adalah masalah ilmu pengetahuan.
“Untuk apa anda mencari ilmu? Kalau ilmu hanya untuk mencari duit, itu anda akan menggunakan ilmu itu untuk segala macam tujuan yang tidak sesuai adab. Makanya, akar masalah yang sedang kita hadapi ini sesungguhnya terletak masalah di sekitar pengertian ilmu, jadi orang itu salah-salah mencari ilmu,” kata Hamid dikutip kanal YouTube Menuju Peradaban Islam, Senin (27/12/2021).
Mudah ditemui orang tua yang menyekolahkan anak dengan orientasi duniawi. Misalnya menguliahkan di Fakultas Kedokteran agar sang anak menjadi dokter dan menjadi kaya.
“Sekolahkan anak menjadi insinyur supaya nanti mendapat proyek pemerintah, dan kaya. Tapi tidak terpikir, ketika anaknya mendapat proyek pemerintah, anaknya nanti korupsi atau tidak. Tidak terpikir sama sekali,” ucapnya.
Tidak terbesit sama sekali bahwa ilmu harus sesuai syariah Islam. Akal pikiran orang tua diliputi oleh sifat dan tujuan ilmu yang salah. Mereka menganggap ilmu untuk materi.
Baca Juga: Rektor Unida Gontor: Rusaknya Ilmu karena Terpisah dari Iman
“Itulah yang disebut dengan
loss of adab,” ucapnya. Padahal, kata Hamid, ilmu tanpa akhlak tidak berarti adab. Adab adalah iman, ilmu, dan amal. Adab bukan sekadar sopan santun. Adab merupakan kombinasi dari iman, ilmu, dan amal.
Jika ilmu tidak menambah keimanan seseorang, berarti ada yang salah dalam orientasi ilmunya. Dalam atsar “
Man Izdada ‘ilman wa Lam Yazdad Hudan Lam Yazdad Minallahi Illa Bu’dan”. Artinya, Barangsiapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuk dan imannya, dia akan semakin jauh dari Tuhannya.
“Berarti, ilmu harus menambah iman. Ilmu, kalau akhirnya meninggalkan iman berarti itu salah. Orang Islam telah terpedaya dan secara tidak sadar menerima pengertian ilmu pengetahuan yang dianggap sama dengan pengertian dalam budaya barat yang materialistis. Ini yang terjadi,” ucap Hamid.
Jadi, isu mengenai suap, korupsi dan pelanggaran hukum lain berakar pada penggunaan ilmu untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan
worldview Islam. Lalu, bagaimana tujuan dan cara yang benar dalam menempuh pendidikan dan meningkatkan ilmu pengetahuan?.
“Ini tidak sekadar kuliah Lalu berprestasi. Kita umat Islam harus berpikir bahwa pendidikan harus prioritas dan harus ditujukan tidak hanya untuk anak-anak yang berprestasi, tapi juga berguna untuk umat. Kemudian umat Islam harus memiliki kompetensi maksimal di bidang-bidang saintek tetapi tetap mengutamakan akhlak,” kata Hamid.
Hamid mengaku masih menanti sosok pelajar atau saintis yang berbicara tentang suatu bidang ilmu pengetahuan, namun pada saat yang sama dia menyitir ayat-ayat Al-Qur’an dengan fasih.
“Sekarang ini banyak, anak-anak umur 7 tahun SD, SMP, hafidz Qur’an. Paling tidak 10 sampai 15 juz. Itu Sudah terjadi sejak tahun 80-an. Saya menunggu sekarang ini, mestinya anak-anak itu sudah menjadi dosen saat ini di perguruan tinggi,” ucapnya.
Hamid menanti seorang dosen yang bisa ceramah ilmiah dengan menyebut ayat-ayat kauniyah di dalam Al-Qur’an dengan fasih. Ilmuwan yang berbicara mengenai tafsir-tafsir ayat-ayat kitab suci tersebut.
“Tetap profesional dalam bidangnya, dan profesionalismenya itu tidak bisa dikalahkan oleh orang lain. Dia the only one, satu-satunya orang yang menguasai bidang itu dan tidak ada yang lebih daripada dia. Tapi dia tiba-tiba dia adalah seorang hafidz Qur’an. Ini yang sedang kita tunggu dan menjadi pilar peradaban, di masa yang akan datang,” terang Hamid.
Hamid Lalu mengingatkan, worldview Islam adalah sesuatu yang simpel dibicarakan tapi berat disampaikan. Semua pihak menanamkan cara pandang seorang pelajar yang tidak mempunya background agama, tetapi mampu melihat sesuatu itu secara benar.
Baca Juga: Pendidikan Menurut Al-Ghazali: Ilmu Agama dan Keterampilan Dunia Harus Saling Melengkapi
Seorang pelajar yang selalu berusaha memahami Islam agar yang dilakukan tidak lari dari syariah Islam. Ia yakin ada pelajar demikian. Hanya saja, pelajar seperti ini perlu diluruskan konsep-konsepnya satu persatu. Mulai dari arti ilmu, arti kesejahteraan, arti manusia, arti jiwa, dan seterusnya.
“Kemudian ciptakan dalam pendidikan itu pemimpin manajer, ulama atau apapun yang Menjamin pada kesempurnaan jiwanya, kesempurnaan kepribadiannya, atau menjadi manusia seutuhnya. Sekurang-kurangnya semua orang tua bercita-cita supaya anaknya menjadi pemimpin masa depan,” tutur Hamid.
(jqf)