Fahruddin membeberkan satu prinsip yang harus dipegang setiap guru, yakni guru yang tidak murid bukan guru yang baik. Artinya, guru yang tidak murid berarti sudah tidak mau belajar lagi.
Fahruddin mengibaratkan guru adalah wadah ilmu. Ilmu akan bermanfaat atau tidak, ditentukan oleh kondisi wadah tersebut. Ibarat gelas kotor yang diisi susu murni. Susu tersebut tetap dianggap kotor jika wadahnya kotor.
Selama tahun 2022, regulasi dan praktik pendidikan nasional di Indonesia dinilai masih terlalu berorientasi pada pendidikan formal. Pemerintah disebut kurang menghargai dan memperkuat pendidikan keluarga dan masyarakat.
Tujuan pendidikan yang serba ideal, seringkali terbentur oleh realitas di lapangan. Nilai-nilai yang substansial, kalah oleh target mengejar prestasi duniawi. Namun tak jarang juga, pendidikan yang diharapkan ideal, seringkali kurang membumi. Lalu bagaimana sekolah harus mendidik siswa?
Mohammad Hatta dikenal sebagai bapak pendiri bangsa yang cerdas. Bung Hatta tak hanya punya pemikiran brilian di bidang ekonomi namun juga dalam bidang pendidikan Islam. Bung Hatta ingin memadukan ilmu agama dengan ilmu sosial humaniora.
Menurut Adian, pendidikan merupakan jalan utama untuk mencapai cita-cita Indonesia menjadi negara maju. Maka itu, selain sistem pendidikan nasional, umat Islam juga harus punya peta pendidikan sendiri untuk melahirkan kader-kader ulama dan pemimpin.
Jika dilihat dari riwayat pendidikannya, Natsir memang memang hanya lulusan sekolah setara SMA dan tak pernah kuliah. Kendati demikian, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ustaz Adian Husaini, menyebut pemikiran Mohammad Natsir melebihi seorang profesor.
Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun mengkritik sistem pendidikan modern, terkhusus pendidikan di Tanah Air. Dia melihat lembaga pendidikan saat ini lebih berorientasi pada lembaga dagang.
Hal yang tidak boleh dilupakan adalah manusia merupakan bagian dari alam. Manusia lahir dari proses alam. Jadi, naluri dasar manusia sudah tertanam sejak bayi.
Pendidikan harus menciptakan maslahat untuk diri sendiri, bangsa, dan alam semesta. Hal itu penting diperhatikan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ilmu harus didasarkan pada worldview atau ideologi. Ideologi bangsa ini adalah Pancasila. Sementara, sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, menguraikan akar dari materialisme di bidang pendidikan yang terjadi di tengah masyarakat. Dia menyebut ujung dari sekian banyak persoalan itu adalah masalah ilmu pengetahuan.
Ketua Umum Dewan Dawah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Pengasuh Pondok Pesantren At-Taqwa Ustadz Adian Husaini, mengingatkan, lembaga pendidikan tidak boleh dianggap sebagai pabrik yang hanya jadi alat untuk menghasilkan murid yang diibaratkan produk.