LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Filsafat Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr Fahruddin Faiz, mengungkapkan,
peran guru di lembaga pendidikan tidak sekadar sebagai informan kepada murid. Tapi,
guru harus menjadi
uswah atau teladan bagi para murid.
“Berilmu itu tuntasnya kalau diiringi dengan laku. Jadi, tidak sekadar konsep dan teori. Guru itu harus punya kemampuan kompetensi spiritual, semua guru pasti sudah ngeri sejak dulu, tapi sebatas teori, tapi apakah kita sudah secara serius dan mencoba mengimplementasikannya?” kata Fahruddin dalam webinar oleh Pandi Institute yang diikuti Langit7 secara daring, Selasa (27/12/2022).
Guru sering disibukkan dengan berbagai macam administratif, sehingga hal-hal substansial jarang tersentuh seperti spiritualitas. Di era modern ini, kekuatan ilmiah sudah melampaui spiritual seseorang. Artinya, seseorang bisa membuat peluru kendali, tapi tidak mampu mengendalikan diri sendiri.
Baca Juga: Haedar Nashir: Kemajuan Iptek Harus Dilandasi Nilai Asasi Ketuhanan
“Jadi, secara ilmu perkembangannya sudah luar biasa, apalagi hari ini, banjir informasi, karena dunia digital yang berkembang luar biasa. tapi justru filternya, agennya yang tidak berkembang, sisi spiritual kita macet,” kata Fahruddin.
Terlebih, era saat ini guru kerap disibukkan dengan hal-hal yang tidak penting seperti popularitas di media sosial. Itu membuat hal-hal yang bersifat penting terlewatkan. Padahal, posisi guru sangat tinggi, mulia, dan penting.
Maka itu, hal utama yang perlu direfleksikan adalah sisi spiritual seorang guru. Selama ini banyak guru yang memposisikan diri sebatas sebagai informan kepada murid. Memang itu menjadi salah satu tugas guru tapi itu bukan tugas utama guru.
Fahruddin mengibaratkan guru adalah wadah ilmu. Ilmu akan bermanfaat atau tidak, ditentukan oleh kondisi wadah tersebut. Ibarat gelas kotor yang diisi susu murni. Susu tersebut tetap dianggap kotor jika wadahnya kotor.
Baca Juga: Cara Gus Dur dan Sinta Nuriyah Didik 4 Putrinya Jadi Perempuan Berdaya
“Ini pentingnya wadah. Guru wadahnya ilmu, maka dirinya harus bersih. Ini spiritualitas. Bersihnya jiwa itu kan sisi spiritualitas. Jadi, semoga para guru punya kesadaran itu. Tidak sekadar memberi informasi dan memberi tugas kepada murid,” ujar Fahruddin.
Ada satu aspek penting sering dilupakan oleh para guru yakni aspek guru sebagai
role model (
uswah). Fahruddin membagi uswah tersebut menjadi tiga bagian. Pertama, imitasi. Imitasi merupakan hal yang bisa ditiru secara langsung oleh murid, seperti penampilan dan tingkah laku.
Hanya saja imitasi kadang terjebak sebatas pada pencitraan jika guru tidak memiliki kekuatan spiritual. Di sekolah bisa saja berpenampilan sebagai orang shalih, tapi saat pulang ke rumah, sisi aslinya akan keluar.
Kedua, vibrasi. Vibrasi akan tercipta jika seorang guru sudah memiliki kekuatan spiritual. Guru tak perlu menyampaikan teori. Tapi, murid bisa merasakan getaran-getaran spiritual saat berada di samping guru.
Baca Juga: Nadiem Makarim: Teknologi Tidak Bisa Gantikan Peran Guru
“Ada kalanya hanya vibrasi guru tidak usah secara sengaja mencontohkan tapi dekat dengan dia saja muridnya ketularan. Saya dekat dengan guru, tiba-tiba semangat menulis saya muncul,” kata Fahruddin.
Ketiga, inspirasi. Inspirasi bisa melahirkan gagasan baru jauh melampaui contoh yang diberikan guru. Ini memunculkan istilah ‘guru hebat kalau bisa melahirkan murid yang lebih hebat’. Misal, guru mempresentasikan suatu temuan ilmiah, murid tiba-tiba bisa mendapatkan inspirasi untuk membuat lebih dari temuan tersebut.
“Ini peran-peran spiritual guru yang sering dilupakan. Kurikulum penting, guru jauh lebih penting,” kata Fahruddin.
(jqf)