LANGIT7.ID, Yogyakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah,
Prof. Dr. Haedar Nashir, menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) harus dilandasi dengan nilai asasi ketuhanan. Dalam Islam, tradisi ilmu merupakan implementasi wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW.
Iqra dalam wahyu pertama adalah tuntunan untuk membangun peradaban. Iqra dalam pandangan mufasir tidak hanya membaca secara verbal dan tekstual, tapi berbagai aktivitas akal pikiran dan kajian keilmuan yang menghadirkan aspek ilahiyah.
Maka itu, dalam melakukan inovasi, pengembangan teknologi dan inovasi, harus memiliki landasan nilai Islam. Landasan itu sebagai basis etika, moral, dan spiritual. Jika tidak ditunjang dengan nilai-nilai spiritual, teknologi yang dihasilkan akan menjauhkan manusia dari agama bahkan bisa mengubah manusia tampak seperti robot.
Baca Juga: Perbedaan Cara Islam dan Barat Memandang Realitas dan Kebenaran
“Bagaimana menghadirkan nilai-nilai ilahiyah dalam hidup kesemestaan? Value kita adalah Islam Berkemajuan, memahami Islam dengan bayani, burhani, irfani. Agama harus menjadi tempat untuk membingkai kemajuan nalar,” kata Haedar dalam acara Sidang Senat Terbuka Universitas Ahmad Dahlan dan Upacara Milad ke-62 di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Selain itu, dalam pengembangan inovasi dan teknologi, Haedar menyebut diperlukan model kepemimpinan transformatif atau kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan.
Dia tak ingin perguruan tinggi, terutama kampus Muhammadiyah, dipimpin oleh kepemimpinan panggung yang hanya piawai beretorika tapi kebingungan saat eksekusi di lapangan.
"Kepemimpinan panggung itu kan elok untuk dilihat, didengar, mengharu-biru, tapi setelah turun dari panggung,
what's next? Di Muhammadiyah kepemimpinannya itu transformatif-sistemik, bukan figur orang,” ujar Haedar.
Baca Juga: Integrasi Iptek dan Imtaq, Warisan BJ Habibie untuk Bangsa
Kepemimpinan transformatif berarti memiliki aspek kreatif yang berorientasi ke depan. Tatanan masa depan harus diproyeksikan. Proyeksi masa depan harus berorientasi
ukhrawi. Meski kehidupan maju di semua bidang, manusia tetap kembali kepada Allah. Maka itu, menanamkan nilai-nilai ketuhanan harus menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.
“Hidup pascakematian harus menjadi setting utama dalam hidup umat manusia yang beragama. Maka, kehadiran Allah itu jangan formalism, hanya ritualistik, tetapi menjadikan nilai-nilai ilahi itu sebagai penguat dasar hidup,” kata Haedar.
(jqf)