LANGIT7.ID, Jakarta - Direktur Utama
Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS),
Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, menjelaskan, cara pandang (
worldview) seorang muslim memandang realitas dan kebenaran. Islam memiliki konsep kebenaran sendiri yang berbeda dengan konsep Barat.
“Apa itu kebenaran? Kebenaran adalah sesuatu yang diwahyukan ke diri umat Islam melalui Nabi Muhammad SAW. Realitas adalah apa yang kita lihat secara fisik dan metafisik tadi. Islam tidak pernah membedakan antara kebenaran subjektif dan kebenaran obyektif,” kata Prof Hamid dalam Pidato Akhir Tahun:
Worldview Islam dan
Weltanschauung Bangsa yang digelar INSISTS pada Ahad (25/12/2022) malam.
Kebenaran objektif adalah sesuai dengan realitas empiris. Tetapi dalam Islam, kebenaran objektif ala worldview Barat tidak selamanya bisa dijadikan kebenaran karena ia lebih bersifat duniawi dan mengabaikan aspek keimanan.
Baca Juga: Memahami Makna Worldview dalam Sudut Pandang Islam
Prof Hamid mencontohkan satu kebenaran objektif di tengah masyarakat Barat yakni pernikahan sejenis. Itu sebuah kebenaran objektif yang tidak bisa diterima dalam konsep Islam. Pernikahan sejenis itu menjadi kebenaran objektif, karena riil terjadi di tengah masyarakat.
“Islam tidak bisa menjustifikasi sebuah realitas menjadi sebuah kebenaran, kecuali disatukan oleh kebenaran yang dibawa oleh worldview-nya seseorang. Itu dasarnya adalah wahyu,” kata Rektor Universitas Darussalam Gontor itu.
Visi tentang kebenaran dan realitas itu menjadi sebuah kesatuan dalam pikiran yang memproduksi sebuah perilaku. Para saintis sekalipun ketika membuat temuan-temuan dan teori sains sudah punya pemahaman tentang realitas dan kebenaran sesuai dengan cara pandangnya.
“Setiap perilaku seseorang itu bisa dilacak dari keyakinannya dan cara pandangnya terhadap realitas dan kebenaran,” kata Prof Hamid.
Baca Juga: Worldview Islam, Filsafat Islam, dan Peradaban Islam
Kebenaran dalam Islam dilandasi oleh
worldview Islam yakni ilmu, iman, dan amal. Bisa juga syariah, akidah, dan ahlak. Dalam bahasa akademis bisa menggunakan istilah fikih, usluhuddin, dan tasawuf.
"Syariah, akidah, dan ahlak adalah alat bagaimana seorang muslim melihat realitas dan kebenaran. Orang tidak akan berbuat sesuatu yang bernuansa maksiat kalau mengerti syariat, dan dia mempunyai keimanan yang kuat, dan dia mempunyai akhlak,” ungkap Prof Hamid.
Kebenaran dalam Islam berlandaskan pada konsep ketuhanan yakni tauhid. Konsep Tuhan sangat sentral di dalam Islam. Semua pembicaraan seorang muslim baik tentang ilmu, tentang manusia, tentang nilai kehidupan, pendidikan, hukum dan lain-lain selalu kembali kepada konsep ketuhanan.
“Bagaimana anda percaya dengan konsep Tuhan kalau anda mengatakan bahwa ilmu tidak ada hubungannya dengan agama. Jadi, selama ini anda mencari ilmu yang tidak ada hubungannya dengan tuhan, padahal dalam Islam diajarkan bahwa Allah yang memberikan ilmu. Cara berfikir ini yang harus dicamkan dalam berislam,” ujar Prof Hamid.
(jqf)