Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Jejak Neoplatonisme dalam Filsafat Islam: Ketika Filsafat Pagan Menyentuh Tauhid

miftah yusufpati Jum'at, 26 Desember 2025 - 05:45 WIB
Jejak Neoplatonisme dalam Filsafat Islam: Ketika Filsafat Pagan Menyentuh Tauhid
Jejaknya terlihat dalam konsep wujud bertingkat, hierarki realitas, dan pencarian penyatuan dengan Tuhan. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID- Filsafat Islam klasik menyimpan jejak panjang dialog dengan dunia Yunani. Dari sekian unsur pemikiran Hellenik, Neoplatonisme menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya berpengaruh, tetapi ikut membentuk kerangka metafisika banyak filsuf Muslim. Padahal, secara historis Neoplatonisme lahir dari tradisi pagan, jauh sebelum wahyu Islam hadir.

Neoplatonisme berpangkal pada pemikiran Plotinus, filsuf abad ke-3 M yang hidup di lingkungan kosmopolitan Iskandaria. Ia memperkenalkan konsep tentang Yang Esa, prinsip tertinggi yang menjadi sumber segala yang ada. Yang Esa berada di luar jangkauan bahasa, pikiran, bahkan eksistensi. Dalam bahasa Plato, ia berada beyond being.

Gagasan ini memberi kesan monoteistik. Karena itu, meski berasal dari tradisi non-wahyu, Neoplatonisme terasa akrab bagi para pemikir Muslim. Konsep sebab pertama, wujud tertinggi, dan emanasi kosmos tampak selaras dengan ide tauhid, meski sesungguhnya tidak identik.

Plotinus bukan sekadar rasionalis. Ia juga seorang mistikus dalam arti filosofis. Ia meyakini kemungkinan penyatuan jiwa dengan Yang Mutlak melalui kontemplasi intelektual. Mistisisme ini bukan irasionalitas, melainkan puncak aktivitas akal yang melampaui diskursus logis.

Ajaran Plotinus sendiri adalah sintesis. Dari Plato, ia mewarisi dualisme antara dunia akali dan dunia inderawi. Bagi Plato, yang sungguh-sungguh ada adalah dunia ide yang abadi dan tak berubah. Di puncaknya terdapat Yang Baik, prinsip tertinggi yang tak dapat diketahui secara langsung.

Dari Aristoteles, Plotinus mengambil konsep Akal atau nous. Akal adalah realitas tertinggi setelah Yang Esa, bersifat immaterial dan abadi. Aristoteles menggambarkan Tuhan sebagai Akal yang berpikir tentang dirinya sendiri. Aktivitas berpikir ini bukan gerak fisik, melainkan identitas antara subjek dan objek pengetahuan.

Pengaruh Pythagoreanisme Baru mendorong penyatuan berbagai dualisme itu menjadi monisme metafisis. Segala yang ada berpangkal pada satu sumber tunggal. Sementara kaum Stoic menyumbang gagasan tentang kehadiran prinsip ilahi di seluruh alam, meski mereka cenderung materialistik.

Semua unsur itu dirangkai Plotinus menjadi ajaran tiga hypostase: Yang Esa, Akal, dan Jiwa. Dari Yang Esa memancar Akal; dari Akal lahir Jiwa; dari Jiwa tercipta alam material. Proses ini bukan penciptaan kehendak, melainkan emanasi niscaya.

Di sinilah persoalan muncul ketika Neoplatonisme masuk ke dunia Islam. Dalam Islam, Tuhan mencipta alam dengan kehendak bebas, bukan karena keharusan metafisis. Konsep emanasi menimbulkan ketegangan teologis. Meski demikian, para filsuf Muslim seperti Al-Farabi dan Ibn Sina mengadopsi struktur Neoplatonik dengan penyesuaian terminologis.

Dalam sejarah, karya-karya Plotinus bahkan sempat disalahpahami sebagai tulisan Aristoteles melalui teks yang dikenal sebagai Theology of Aristotle. Kekeliruan ini mempercepat penerimaan Neoplatonisme di kalangan filsuf Muslim.

Para teolog seperti Al-Ghazali kemudian mengkritik aspek-aspek Neoplatonisme yang dianggap bertentangan dengan wahyu, terutama soal kekekalan alam dan keniscayaan emanasi. Namun kritik itu tidak menghapus pengaruhnya. Neoplatonisme tetap hidup dalam filsafat, tasawuf, dan kosmologi Islam.

Jejaknya terlihat dalam konsep wujud bertingkat, hierarki realitas, dan pencarian penyatuan dengan Tuhan. Neoplatonisme, dengan segala problematikanya, menjadi salah satu jembatan antara rasio Yunani dan wahyu Islam. Dari sana, lahir tradisi filsafat Islam yang khas: terus berdialog, tak pernah selesai.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)