LANGIT7.ID- Jika teologi sering dianggap berseberangan dengan sains, maka Ilmu Kalam dalam tradisi Asy ariah adalah pengecualian yang menonjol. Ilmu ini lahir sebagai karakteristik pemikiran yang amat khas Islam, membedakannya dari pembahasan teologis agama mana pun baik dari segi isi maupun metodologi. Esensi dari Ilmu Kalam adalah pembuktian rasional bahwa dunia ini memiliki faktor penentu atau mukhashshish yang membuatnya terwujud di atas kemungkinan ketiadaan.
Nurcholish Madjid dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban menguraikan bahwa bagi al-Asy ari, nalar adalah alat untuk membuat kejelasan atas teks suci. Dalam upaya membuktikan eksistensi Tuhan, para teolog kalam menggunakan argumen kesementaraan. Mereka berpendapat bahwa benda tidak mungkin lepas dari kejadian yang bersifat sementara atau accident. Apa pun yang tidak dapat terwujud kecuali dengan hal yang bersifat sementara, tentu ia bersifat sementara pula. Karena seluruh jagad raya ini terus berubah dan bergerak, maka seluruh jagad adalah sementara dan tentu telah terciptakan.
Argumen ini bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah metode yang sangat berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Austryn Wolfson dalam karyanya menyebutkan adanya pengislaman dalam bidang teologi Yahudi akibat pengaruh Kalam. Hal ini menunjukkan bahwa metodologi Asy ariah memiliki daya tawar universal yang mampu diterima oleh akal sehat lintas iman. Polemik antara kelompok Kalam yang mengedepankan kedaulatan Tuhan dengan kelompok Falsafah yang mengagungkan keabadian alam menjadi dinamika intelektual paling produktif dalam sejarah.
Pusat argumentasi ini berada pada enam pilar logika yang diringkas oleh sarjana modern al-Alousi. Mulai dari sifat berlawanan benda sederhana hingga keterhinggaan jagad. Para mufasir dan teolog Sunni berargumen bahwa gerak dan waktu tidak mungkin bersifat tanpa awal atau azal. Jika waktu mundur tak terhingga, maka kita tak akan pernah sampai pada titik waktu hari ini. Karena kita berada di masa sekarang, maka masa lampau haruslah memiliki titik start.
Kejutan sesungguhnya datang di abad modern. Ketika para astronom menemukan bahwa alam semesta tidak statis melainkan berkembang dari sebuah permulaan, tesis kaum kalami tentang huduts atau kesementaraan alam mendapatkan landasan empirisnya. Melalui teori ledakan besar, sains seolah mengangguk pada logika ex nihilo yang diajukan para ulama abad pertengahan. William Craig menyimpulkan bahwa argumen kosmologis kalam membimbing kita pada adanya Khaliq yang personal bagi alam raya. Meskipun Craig tetap skeptis tentang sifat-sifat Tuhan yang mendetail, pengakuannya atas titik awal alam merupakan pengakuan atas ketangguhan nalar al-Asy ari.
William Craig bahkan mengisyaratkan bahwa polemik teologis dalam Yahudi dan Kristen merupakan kelanjutan dari polemik dalam Islam. Pengaruh al-Ghazali terasa hingga ke pemikir Kristen seperti Bonaventure, sementara pengaruh Ibnu Rusyd membekas pada Thomas Aquinas. Ini membuktikan bahwa orisinalitas pemikiran Islam telah menyediakan bahasa universal bagi manusia untuk membicarakan Tuhan secara logis.
Keunggulan sistem Asy ari terletak pada keberaniannya untuk masuk ke dalam arena dialektika tanpa kehilangan jangkar iman. Dengan deretan argumen logisnya, paham ini tidak hanya memperkokoh konsep ketuhanan dalam Islam, tetapi juga menjadi perisai bagi konsep ketuhanan secara umum di hadapan materialisme. Bagi manusia modern yang hidup di era astronomi mutakhir, Kalam Asy ari memberikan sebuah jalan tengah: bahwa di balik megahnya jagad raya yang terhitung usianya, ada sebuah Kehendak yang menetapkan keberadaannya dari tiada menjadi ada.
Kekokohan paham ini bukan karena ia menutup mata dari nalar, melainkan karena ia mampu menunggangi nalar untuk mencapai kebenaran wahyu. Di tengah arus zaman yang skeptis, argumen kalami tetap berdiri tegak, membuktikan bahwa antara langit yang biru dan rumus-rumus fisika, terdapat satu benang merah yang sama: sebuah penciptaan yang terencana.
