Melalui alur argumen logis yang tajam, paham Asy ariah menjembatani iman dan rasionalitas. Kini, sains modern justru memperkuat tesis klasik mereka tentang alam yang berpermulaan.
Teologi Asy'ariyah menjembatani wahyu dan nalar secara presisi. Tesis kuno tentang alam berpermulaan kini divalidasi astronomi modern. Kontribusi orisinal Islam yang warnai teologi dunia hingga kini.
Ushul al-Fiqh hadir sebagai filsafat hukum yang menjaga keseimbangan antara wahyu dan rasionalitas. Ia menjadi tulang punggung yang menjamin kepastian hukum sekaligus fleksibilitas di tengah zaman.
Paham Asy ariyah bertahan lebih dari seribu tahun sebagai mayoritas teologi dunia Islam. Kekuatannya terletak pada metodologi jalan tengah yang mendamaikan nalar dan wahyu di tengah badai polemik.
Abu al-Hasan al-Asy'ari berhasil mengonsolidasikan akidah Sunni melalui dialektika logika. Ia menjadi pemikir klasik paling sukses yang menyatukan wahyu dan nalar dalam benteng ortodoksi.
Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan, dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud.
Imam Al-Asyari, seperti halnya kaum Mutazilah, meyakini bahwa Allah adalah Mahaadil. Namun, berbeda dari Mutazilah, ia menolak pandangan bahwa manusia dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah.
Imam Al-Asyari menulis Maqalat al-Islamiyyin untuk menggambarkan berbagai pandangan dalam Islam, kemudian menulis al-Ibanah sebagai sanggahan terhadap Mutazilah.
Pemahaman teologi Asyari termasuk dalam kategori teologi tradisional yang mengambil posisi di antara dua kutub ekstrem: kelompok rasionalis dan kelompok tekstualis.