Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 03 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Ini Mengapa Ibnu Taimiyyah Menilai Konsep Kasb Imam al-Asyari Tidak Masuk Akal

miftah yusufpati Rabu, 28 Mei 2025 - 04:15 WIB
Ini Mengapa Ibnu Taimiyyah Menilai Konsep Kasb Imam al-Asyari Tidak Masuk Akal
Menurut Ibn Taimiyyah, kasb al-Asyari justru membawa para pengikutnya ke dalam faham jabariyah murni. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam pandangan Imam Al-Asy’ari, semua perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan. Tidak ada pelaku (agent) bagi kasb selain Allah. Dengan kata lain, yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut Al-Asy’ari, sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Zainun Kamal, dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" bab "Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari sebagai Doktrin Akidah" menjelaskan perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan, dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud.

Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Tidak satu pun dari ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya, niscaya ia tiada.

Baca juga: Kisah Imam Al-Asy‘ari Keluar dari Muktazilah dan Menulis 2 Buku

Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki." (QS. al-Insan [76]: 30)

Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki sesuatu itu. Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan, dan kehendak yang ada dalam diri manusia sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan.

Dalam teori kasb, kata Zainun Kamal, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia.

Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang).

Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut: Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu besar; yang seorang mampu mengangkatnya sendirian, sedangkan yang seorang lagi tidak mampu. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu, maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. Namun, tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat. Demikian pulalah perbuatan manusia.

Perbuatan pada hakikatnya terjadi dengan perantaraan daya Tuhan, tetapi manusia dalam hal itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat.

Menurut Zainun Kamal, untuk sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy‘ari, untuk terwujudnya suatu perbuatan diperlukan dua daya: daya Tuhan dan daya manusia.

"Namun, daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan adalah daya Tuhan, sedangkan daya manusia tidaklah efektif jika tidak disokong oleh daya Tuhan," ujarnya.

Baca juga: Dua Versi Mengapa Imam al-Asy‘ari Keluar dari Muktazilah

Karena dalam teori kasb al-Asy‘ari manusia tidak memiliki pengaruh yang efektif dalam perbuatannya, banyak ahli menilai bahwa kasb merupakan bentuk jabariyah moderat.

Bahkan, Ibn Hazm (w. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. 728 H) menilainya sebagai jabariyah murni. Harun Nasution juga berpendapat demikian. Alasannya, menurut al-Asy‘ari, kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan, dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan, bukan perbuatan manusia.

Ibnu Taimiyyah menilai bahwa al-Asy‘ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qadariyyah dan Jabariyyah.

Sebab, menurut Ibn Taimiyyah, kasb al-Asy‘ari justru membawa para pengikutnya ke dalam faham jabariyah murni, yang sama sekali mengingkari adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat. Memang, seperti telah diuraikan sebelumnya, al-Asy‘ari menegaskan bahwa kasb manusia tidak memiliki efek nyata dalam mewujudkan perbuatannya.

Oleh karena itu, Ibn Taimiyyah menilai bahwa konsep kasb yang ditetapkan al-Asy‘ari itu tidak masuk akal.

Baca juga: 3 Kritik terhadap Muktazilah: Kisah al-Asy‘ari Bertanya kepada Guru Besarnya

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 03 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)