LANGIT7.ID- Jika Ilmu Kalam adalah sebuah istana, maka pondasinya dibangun di atas kecemasan akan hilangnya identitas teks suci di bawah bayang-bayang filsafat Yunani. Abul Hasan al-Asy ari mengambil posisi yang unik: ia menggunakan senjata musuh untuk membela tradisi. Ia adalah seorang pendukung ahl al-hadits yang fasih menggunakan bahasa dialektika kaum rasionalis. Pengaruhnya begitu kuat sehingga Nurcholish Madjid menyebut bahwa masyarakat Islam di mana pun memiliki orientasi hukum dan teologi yang sangat kuat berkat stabilitas yang ditawarkan paham ini.
Dalam Maqalat al-Islamiyyin, al-Asy ari memetakan argumen tentang kesementaraan atau huduts. Premisnya adalah benda tidak mungkin lepas dari kejadian yang bersifat sementara. Apa pun yang tidak bisa terwujud tanpa hal yang sementara, maka ia sendiri adalah sementara. Alam raya, dengan segala perubahannya, adalah bukti nyata dari kesementaraan itu. Argumen ini menjadi kontribusi paling orisinal dalam pemikiran keislaman karena berhasil menyatukan pengalaman empiris dengan keyakinan transenden.
Menariknya, argumen kalam ini juga menjawab kegelisahan tentang kemungkinan (imkan). Jagad raya ini secara rasional tidak pasti terwujud; ia bisa ada, bisa juga tidak ada. Keberadaannya saat ini membuktikan adanya murajjih atau faktor yang memenangkan sisi keberadaan di atas ketiadaan. Inilah yang disebut sebagai Khaliq yang personal. Tanpa Khaliq ini, alam raya akan tetap terkunci dalam ruang hampa kemungkinan yang tak kunjung menjadi nyata.
Efek domino dari pemikiran al-Asy ari ini melahirkan perdebatan legendaris pasca-kematian (posthumous) antara al-Ghazali dengan Ibn Rusyd. Polemik antara Tahafut al-Falasifah dan Tahafut al-Tahafut bukan sekadar pertengkaran buku, melainkan perjuangan menentukan arah peradaban: apakah wahyu harus tunduk pada filsafat, atau filsafat yang menjadi pelayan wahyu? Sejarah mencatat bahwa jalan tengah al-Ghazali yang berbasis pada kalam Asy ariah-lah yang lebih diterima secara luas, menciptakan struktur sosial yang teratur dan memiliki kepastian hukum (predictability).
Hari ini, di tengah kemajuan astronomi mutakhir, argumen-argumen kuno ini justru terdengar sangat futuristik. Penemuan bahwa jagad raya terus mengembang dan memiliki usia yang terhitung memberikan napas baru bagi para pembela kalam. Sebagaimana Kamis, 1 Januari 2026 diterima secara universal tanpa sidang isbat, keberadaan titik awal alam raya kini menjadi konsensus ilmiah. Paham Asy ariah, dengan segala alur dialektikanya, telah berhasil menjaga konsep ketuhanan agar tetap relevan, baik bagi penduduk gurun di abad ke-10 maupun bagi para ilmuwan di observatorium abad ke-21.
