LANGIT7.ID- Dunia intelektual Islam abad ke-10 bukanlah sebuah ruang hampa yang diisi oleh dogmatisme buta. Di sana, Abul Hasan al-Asyari sedang merajut nalar yang kelak menjadi tulang punggung teologi Sunni. Nurcholish Madjid dalam Islam Doktrin dan Peradaban memotret bagaimana al-Asy ari meminjam manthiq atau logika Aristoteles dari para gurunya di Mu tazilah untuk satu tujuan besar: membuktikan eksistensi Tuhan melalui pembuktian ketidakabadian jagad raya.
Pusat argumentasi Kalam Asy ari berada pada upaya membuktikan bahwa alam raya ada karena diciptakan Tuhan dari ketiadaan atau ex nihilo. Ini bukan sekadar klaim teologis, melainkan sebuah konstruksi dialektika yang presisi. Al-Asy ari dan pengikutnya, terutama al-Ghazali, menyusun alur argumen yang oleh sarjana Muslim modern al-Alousi diringkas menjadi enam nuktah krusial.
Salah satu yang paling tajam adalah argumen dari keterhinggaan jagad. Logikanya sederhana namun mematikan: karena jagad tersusun dari bagian-bagian yang terhingga, maka ia pun pasti terhingga pula. Segala yang terhingga niscaya bersifat sementara atau hadits, dan setiap yang sementara pasti memiliki permulaan serta Pencipta. Argumen ini diperkuat dengan logika tentang gerak dan waktu. Mereka berpendapat bahwa gerak tidak mungkin mundur ke masa lampau secara tak terhingga karena sesuatu yang tak terhingga tidak dapat dilintasi untuk sampai pada titik sekarang.
Menariknya, akar argumen ini memiliki jejak lintas agama. Ibn Rusyd dan al-Suhrawardi mencatat nama John Philoponus atau Yahya al-Nahwi, seorang pemikir Nasrani dari Iskandariah, sebagai perintis argumen kalami ini. Namun, di tangan kaum Muslimin, khususnya al-Ghazali, argumen ini berkembang menjadi orisinal dan sangat berpengaruh. Begitu kuatnya pengaruh ini hingga menyusup ke dalam teologi Yahudi dan Kristen. William Craig mengisyaratkan bahwa polemik besar antara Bonaventure dan Thomas Aquinas di dunia Kristen, atau Saadia dan Maimonides di dunia Yahudi, sebenarnya hanyalah kelanjutan dari polemik antara al-Ghazali dan Ibn Rusyd.
Kini, di bawah teleskop astronomi modern, argumen klasik ini menemukan validitasnya kembali. Teori Big Bang atau ledakan besar menunjukkan bahwa alam raya memang berpermulaan dalam satu titik waktu di masa lampau. Filsuf modern seperti William Craig mengakui validitas argumen kosmologis kalam ini untuk membuktikan adanya Khaliq yang personal. Bagi para pengikut Asy ariah, ini adalah momen untuk berbesar hati bahwa nalar yang mereka susun seribu tahun lalu kini bersambut dengan kesimpulan sains mutakhir.
