Dalam paparannya, Prof Syamsuddin menguraikan tujuh argumentasi yang digunakan dalam pemikiran ateistik, yakni empirisisme, evidensialisme, evolusionisme, infinitisme, eternalisme, apatisme, dan agnostisisme.
Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insists), Ustadz Henri Salahuddin, menjelaskan, sejarah membuktikan peradaban Islam tidak identik dengan model-model bangunan, struktur, artistik, serta desain yang melingkupi.
Kepala Pusat Studi Islamisasi Sains Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Dr. Wido Supraha, menegaskan, sebuah kekuasaan harus dipimpin oleh sosok yang amanah dan berkapasitas.
Kepala Pusat Studi Islamisasi Sains Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Dr. Wido Supraha, menjelaskan, Islam hanya akan menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil-alamin) jika ditegakkan.
Islam tidak hanya sekadar salat, zakat, puasa, haji, sedekah, dan ibadah-ibadah ritual lain. Tapi, Islam juga memiliki cakupan ruang lingkup lain yakni aspek intelektual.
Direktur Utama INSISTS, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, menjelaskan, cara pandang (worldview) seorang muslim memandang realitas dan kebenaran. Islam memiliki konsep kebenaran sendiri yang berbeda dengan konsep Barat.
Direktur Utama INSISTS, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, worldview merupakan alat untuk mengukur sebuah peradaban, agama, hingga ideologi. Sejak dimunculkan oleh Immanuel Kant, istilah worldview sering digunakan dalam ruang pendidikan dan diskursus yang populer.