Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 30 September 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Menguji 7 Argumen Ateisme dengan Logika Ala Prof Syamsuddin Arif

ahmad zuhdi Rabu, 30 September 2026 - 12:41 WIB
Menguji 7 Argumen Ateisme dengan Logika Ala Prof Syamsuddin Arif
Menguji 7 Argumen Ateisme dengan Logika Ala Prof Syamsuddin Arif. Foto: Istimewa.
LANGIT7.ID-Jakarta; -

Perdebatan mengenai keberadaan Tuhan tidak hanya berlangsung dalam ruang teologi, tetapi juga menjadi bagian dari diskursus filsafat selama berabad-abad. Persoalan itu dibedah Prof Syamsuddin Arif, Guru Besar Filsafat Islam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo, dalam kuliah umum di Institut Agama Islam (IAI) Persis Garut.

Dalam paparannya, Prof Syamsuddin menguraikan tujuh argumentasi yang digunakan dalam pemikiran ateistik, yakni empirisisme, evidensialisme, evolusionisme, infinitisme, eternalisme, apatisme, dan agnostisisme. Ia kemudian mengajak peserta melihat titik-titik persoalan logis dalam argumentasi tersebut.

Pada argumen evolusionisme, misalnya, Prof Syamsuddin membahas pandangan Richard Dawkins yang mempertanyakan alasan untuk menerima keberadaan Tuhan. Salah satu kritik yang dibahas berkaitan dengan argumen desain. Evolusi melalui seleksi alam dipandang dapat menjelaskan kompleksitas kehidupan tanpa harus menghadirkan seorang perancang.

Prof Syamsuddin kemudian membedakan antara penjelasan mengenai mekanisme dengan penjelasan mengenai asal-usul. Bahwa suatu proses dapat dijelaskan secara mekanis tidak otomatis menghapus pertanyaan tentang mengapa sesuatu itu ada atau apa sebab keberadaannya. Materi kuliah merumuskan persoalan tersebut dengan kalimat, “Tuhan adalah sebab ulung bagi kewujudan alam bukan sebab mekanis kejadian.”

Persoalan berikutnya adalah argumen infinitisme. Pertanyaan yang sering diajukan adalah, jika segala sesuatu memiliki penyebab, siapa yang menyebabkan Tuhan? Menurut Prof. Syamsuddin, persoalan tersebut muncul ketika semua bentuk keberadaan ditempatkan dalam kategori yang sama.

"Dalam filsafat Islam terdapat pembedaan antara wajib al-wujud dan mumkin al-wujud. Sesuatu yang bersifat mungkin dan bergantung tidak dapat begitu saja disamakan dengan keberadaan yang bersifat niscaya. Karena itu, pertanyaan mengenai sebab pertama perlu memperhatikan kategori keberadaan yang sedang dibicarakan," ujarnya dikutip Langit7, Rabu (30/9/2026).

Prof Syamsuddin juga membahas pandangan bahwa alam semesta bersifat abadi sehingga tidak membutuhkan pencipta. Argumen tersebut menurut materi kuliah bertumpu pada dua asumsi, yakni bahwa segala sesuatu yang abadi tidak diciptakan dan bahwa alam semesta memang abadi. Kedua premis itu, menurutnya, masih membutuhkan pembuktian.

Baca Juga: Prof Syamsuddin Arif Soroti Ancaman Ateisme Generasi Muda

Perdebatan menjadi lebih kompleks ketika masuk kepada persoalan kejahatan dan penderitaan. Pertanyaan yang diajukan adalah, jika Tuhan ada, mengapa kejahatan dan penderitaan tetap terjadi?

Prof Syamsuddin mengutip bentuk argumentasi tersebut: “Jika Tuhan memang benar ada, mengapa Tuhan membiarkan berbagai kejahatan dan kezaliman merajalela?”

Menurut materi yang dipaparkan, keberadaan kejahatan tidak secara otomatis mengharuskan kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Kesimpulan tersebut baru dapat diterima apabila seluruh premis yang menopangnya benar. Dalam pembahasannya, Prof Syamsuddin menunjukkan adanya persoalan logis ketika ketidakadaan tindakan tertentu langsung disamakan dengan ketidakadaan Tuhan.

Argumen terakhir yang dibahas adalah agnostisisme. Posisi ini menekankan ketidaktahuan mengenai keberadaan Tuhan. Namun, menurut Prof Syamsuddin, seseorang yang tidak mengetahui sesuatu tidak otomatis dapat menyimpulkan bahwa sesuatu tersebut tidak ada.

Dalam materi kuliahnya, persoalan tersebut dirumuskan melalui pernyataan, “Aku tidak tahu, tidak bisa tahu, dan tidak akan pernah tahu bahwa Tuhan itu ada.” Kritik terhadap argumentasi ini terletak pada lompatan dari ketidaktahuan menuju kesimpulan mengenai ketiadaan.

Prof Syamsuddin mengibaratkan kekeliruan tersebut dengan ungkapan, “Kail panjang sejengkal, lautan dalam hendak diduga.” Artinya, keterbatasan pengetahuan seseorang tidak serta-merta dapat dijadikan ukuran bagi seluruh realitas.

Melalui pembahasan tersebut, Prof Syamsuddin menunjukkan bahwa perdebatan mengenai Tuhan menuntut ketelitian dalam menggunakan logika. Sebuah kesimpulan tidak cukup dinilai dari seberapa meyakinkan pernyataannya, tetapi perlu diperiksa dari premis dan hubungan logis yang menghubungkannya dengan kesimpulan.

Baca Juga: Terima Wamenlu, Ketum PP Persis Dorong Transformasi Peradaban

Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya filsafat dan logika dalam pendidikan Islam. Bagi generasi muda, kemampuan memahami struktur argumentasi menjadi modal penting ketika berhadapan dengan berbagai gagasan tentang agama dan ketuhanan.

Kuliah umum di IAI Persis Garut itu pada akhirnya membawa persoalan ateisme dari sekadar perdebatan “percaya atau tidak percaya” menuju diskusi yang lebih mendasar tentang bagaimana manusia mengetahui sesuatu, apa yang disebut bukti, bagaimana sebab dipahami, serta sejauh mana kesimpulan dapat ditarik dari keterbatasan pengetahuan manusia.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 30 September 2026
Imsak
04:14
Shubuh
04:24
Dhuhur
11:46
Ashar
14:52
Maghrib
17:50
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan