LANGIT7.ID-Jakarta; - Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) menerima kunjungan silaturahim dan menggelar dialog strategis bersama Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta di Bandung pada Selasa (29/9/2026). Ketua Umum PP Persis, Ustaz Jeje Zaenudin, menyambut hangat momentum penting ini sebagai langkah memperkuat komunikasi antara pemerintah dan Persis yang memiliki sejarah panjang dalam dakwah, pendidikan, sosial, serta kebangsaan.
Pertemuan yang dilanjutkan dengan dialog dan ceramah umum ini membahas perkembangan geopolitik global, posisi strategis Indonesia di tengah perubahan tata dunia, serta langkah-langkah strategis yang perlu dipersiapkan oleh organisasi kemasyarakatan Islam. Dialog berlangsung dalam suasana kekeluargaan, terbuka, dan konstruktif, berfokus pada upaya meningkatkan kapasitas umat Islam agar tidak hanya menjadi objek perubahan global, melainkan berperan aktif sebagai kekuatan yang ikut membentuk masa depan.
Dalam pemaparannya, Wamenlu RI Anis Matta menjelaskan bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar dalam struktur geopolitik dan hubungan internasional yang bergerak ke arah konfigurasi multipolar. Perubahan ini diwarnai kompetisi geopolitik, geoekonomi, teknologi, energi, pangan, sumber daya alam, serta perebutan pengaruh di kawasan strategis. "Oleh karena itu, bangsa Indonesia dan umat Islam dituntut membaca perkembangan dunia dengan perspektif jangka panjang," kata Anis.
Anis menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis sebagai negara berpenduduk besar, negara demokrasi, negara kepulauan terbesar, kaya sumber daya alam, berada di jalur perdagangan internasional, serta menjadi rumah bagi penduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar atau penonton, melainkan harus memperkuat kapasitas nasional dan mengarahkan diplomasinya untuk kepentingan nasional serta perdamaian dunia. "Kebangkitan Indonesia membutuhkan masyarakat yang kuat, di mana organisasi Islam seperti Persis dengan jaringan dakwah, pesantren, perguruan tinggi, hingga lembaga ekonominya memiliki modal sosial besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan peradaban," ujarnya.
Merespons paparan tersebut, Ketua Umum PP Persis, Ustaz Jeje Zaenudin, menegaskan bahwa dialog ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan agenda transformasi gerakan Persis. Sebagai gerakan yang lahir dengan tradisi tajdid dan dakwah, Persis harus terus meningkatkan kapasitas gerakannya agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Dakwah tidak boleh berhenti pada tabligh, yakni menyampaikan pesan Islam, tetapi perlu bergerak menuju tathbiq, yaitu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata,” tegas Ketua Umum PP Persis, Ustaz Jeje Zaenudin.
Baca Juga: Haji Isam Disebut Siapkan Rp10 Miliar untuk Saham BLTA, Dibantah Jhonlin Group
Ustaz Jeje menambahkan bahwa keberhasilan dakwah saat ini tidak hanya diukur dari banyaknya ceramah, pengajian, atau kegiatan keagamaan, melainkan dari sejauh mana dakwah melahirkan perubahan nyata. Perubahan tersebut harus mencakup kualitas pendidikan, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, lingkungan, kepemimpinan, hingga kehidupan masyarakat. Menurutnya, transformasi ini merupakan bentuk aktualisasi prinsip tajdid agar ajaran Islam selalu memberikan jawaban terhadap tantangan zaman tanpa merusak identitas dasar Persis.
Guna merespons dinamika tersebut, Ustaz Jeje Zaenudin memaparkan sejumlah agenda dan langkah strategis yang perlu menjadi perhatian Persis ke depan. Langkah awal yang dinilai sangat krusial adalah penguatan literasi geopolitik bagi para ulama, mubalig, dosen, guru, hingga mahasiswa agar memiliki wawasan mengenai perkembangan geoekonomi, teknologi, dan peradaban dunia.
Selain itu, sektor pendidikan Persis perlu terus diperkuat sebagai pusat kaderisasi peradaban. Pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan lulusan yang berpemahaman agama kuat, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, bahasa asing, teknologi, ekonomi, diplomasi, serta wawasan internasional.
Langkah strategis selanjutnya mencakup internasionalisasi gerakan dakwah Persis secara bertahap melalui perluasan jejaring dengan lembaga Islam, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan pusat kajian di berbagai negara. Dalam hal ini, kader-kader muda didorong untuk menguasai bahasa internasional serta memperoleh pengalaman pendidikan dan kerja sama di tingkat global.
Di samping itu, penguatan kemandirian ekonomi umat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan dakwah. Pengembangan koperasi syariah, BMT, wakaf produktif, pengusaha Persis, lembaga keuangan sosial Islam, dan badan usaha milik jam'iyyah dinilai harus menjadi bagian integral dari agenda transformasi.
Persis juga perlu membangun pusat kajian atau think tank secara khusus untuk memperkuat kapasitas riset dan pemikiran strategis mengenai isu dunia Islam, geopolitik, kebijakan publik, dan masa depan peradaban agar organisasi bersifat antisipatif.
Untuk mendukung diplomasi Indonesia, Persis didorong memperkuat diplomasi masyarakat atau
people-to-people diplomacy dengan menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat Muslim Indonesia dan lembaga internasional. Rangkaian langkah strategis tersebut bermuara pada penyiapan generasi baru kepemimpinan Persis yang melahirkan ulama-intelektual, profesional, pengusaha, akademisi, diplomat, dan teknokrat yang berintegritas keislaman serta kompeten berkiprah di tingkat nasional dan internasional.
Baca Juga: Permohonan Pembatalan Pelantikan Gibran, MPR Diminta Pilih Wapres dari Dua Calon yang Diajukan Prabowo
Memasuki abad kedua perjalanan jam'iyyah, Ustaz Jeje mengajak seluruh kader untuk memandang gerakan Persis dalam horizon yang lebih panjang. Paradigma gerakan harus berkembang dari tabligh menuju tathbiq, dari aktivitas menuju produktivitas, dari program menuju dampak, dari lokal menuju global, dari responsif menuju antisipatif, serta dari gerakan dakwah menuju pembangunan peradaban. “Persatuan Islam harus tetap kokoh sebagai jam'iyyah dakwah dan tajdid, sekaligus tumbuh menjadi kekuatan sosial dan peradaban yang memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia dan dunia,” pungkas Ustaz Jeje.
Sebagai rekomendasi tindak lanjut, PP Persis akan menjajaki kerja sama terstruktur dengan Kemenlu RI dalam peningkatan literasi diplomasi, pengembangan jaringan internasional, serta penguatan kapasitas generasi muda. Secara internal, materi geopolitik akan dimasukkan dalam sistem kaderisasi dan pendidikan tinggi, disertai pemetaan kader potensial sebagai embrio jejaring kader global Persis.
(zhd)