Tantangan keimanan generasi muda di era digital tidak hanya datang melalui perubahan gaya hidup, tetapi juga melalui masuknya berbagai gagasan filosofis yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Persoalan tersebut menjadi perhatian Guru Besar Filsafat Islam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo, Prof Syamsuddin Arif, saat menyampaikan kuliah umum di Institut Agama Islam (IAI) Persis Garut.
Dalam kuliah tersebut, Prof Syamsuddin mengajak peserta memahami ateisme bukan hanya sebagai sikap tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga sebagai sebuah konstruksi pemikiran yang memiliki sejumlah argumentasi filosofis. Karena itu, menurut materi yang disampaikannya, tantangan terhadap generasi muda perlu dijawab dengan penguatan keilmuan sekaligus kemampuan berpikir kritis.
Prof Syamsuddin memetakan sejumlah argumentasi yang kerap digunakan dalam pemikiran ateistik. Di antaranya empirisisme, evidensialisme, evolusionisme, infinitisme, eternalisme, apatisme, dan agnostisisme. Ketujuh argumentasi tersebut berangkat dari pertanyaan berbeda mengenai Tuhan, mulai dari persoalan keterlihatan, bukti, evolusi, sebab pertama, keabadian alam, kejahatan, hingga keterbatasan pengetahuan manusia.
"Salah satu persoalan yang dibahas adalah kecenderungan menyamakan sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan sesuatu yang tidak ada. Dalam argumentasi empirisisme, misalnya, muncul pertanyaan, kalau Tuhan itu ada, mengapa kita tidak bisa melihatnya? Pertanyaan tersebut kemudian diarahkan kepada kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada karena tidak terlihat," ujarnya dalam paparan di IAI Persis Garut, dikutip Rabu (30/9/2026).
Prof Syamsuddin menunjukkan bahwa asumsi tersebut bermasalah karena tidak semua sesuatu yang ada harus dapat dilihat. Materi kuliahnya memberikan sejumlah contoh seperti energi, gravitasi, rasa sakit, panas, bau, dan jiwa yang keberadaannya tidak selalu dapat diamati secara langsung oleh mata.
Persoalan serupa muncul ketika keberadaan Tuhan dipertanyakan berdasarkan bukti ilmiah. Pertanyaan “Apa buktinya kalau Tuhan itu ada?” atau “Tidak ada bukti ilmiah bahwa Tuhan itu ada” menurut materi kuliah perlu dilihat kembali dari cara mendefinisikan bukti.
Baca Juga: Pemberihan Dosa Syirik dan Penerimaan Taubat Bani Israil
Prof Syamsuddin menjelaskan bahwa bukti tidak hanya berbentuk bukti ilmiah. Ada bukti faktual, inderawi, pengalaman, rasional, logis, dokumenter, tekstual, maupun kesaksian. Karena itu, keterbuktian tidak dapat begitu saja disamakan dengan keberadaan. Ia menekankan pentingnya membedakan antara belum terbukti dan tidak ada. Dalam materi kuliahnya ditegaskan, “Ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan.”
Menurut Prof Syamsuddin, kemampuan generasi muda dalam menghadapi berbagai gagasan tersebut tidak cukup dibangun dengan hafalan jawaban keagamaan. Mereka membutuhkan kemampuan membaca struktur argumentasi, menguji premis, dan melihat apakah kesimpulan benar-benar mengikuti premis yang digunakan.
Tantangan itu semakin relevan karena generasi muda hidup dalam ruang informasi yang sangat terbuka. Berbagai pandangan tentang Tuhan, agama, sains, evolusi, dan moralitas dapat ditemukan dengan mudah melalui berbagai kanal informasi. Dalam situasi seperti itu, kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dari ketahanan intelektual dan keagamaan.
"Karena itu pendidikan Islam tidak hanya sebagai proses penanaman keyakinan, tetapi juga sebagai proses penguatan tradisi intelektual. Generasi muda perlu memiliki dasar keagamaan yang kokoh sekaligus kemampuan memahami argumentasi yang berkembang di luar tradisi keagamaannya," paparnya.
Dengan bekal tersebut, perjumpaan dengan gagasan ateistik tidak harus dihadapi dengan ketakutan ataupun penolakan tanpa argumentasi. Sebaliknya, setiap gagasan dapat dibaca, dianalisis, dan diuji secara rasional.
Baca Juga: Terima Wamenlu, Ketum PP Persis Dorong Transformasi Peradaban
