LANGIT7.ID, Jakarta -
Mohammad Hatta dikenal sebagai bapak pendiri bangsa yang cerdas. Tokoh asal Minangkabau ini tak hanya punya pemikiran brilian di bidang ekonomi namun juga dalam bidang pendidikan Islam.
Pemikiran
Bung Hatta terkait pendidikan Islam tidak lepas dari gagasan-gagasan gerakan Islam pembaharu dan modernis yang terbuka dengan dengan ilmu-ilmu modern.
Bung Hatta menggabungkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum untuk melahirkan ulama yang mampu menjawab tantangan zaman. Menurut Hatta, pendidikan Islam tidak semata-mata mengkaji kitab.
Ilmu pengetahuan modern turut memiliki urgensi dalam pendidikan Islam. Itu perlu diajarkan kepada anak-anak atau para santri. Konstruksi pemikiran itu yang banyak diterapkan di berbagai pesantren modern saat ini yang memadukan ilmu agama dengan ilmu umum.
Baca Juga: Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta Relevan Hadapi Krisis di Era Digital
Hal ini berdasarkan jurnal tentang pemikiran
Bung Hatta yang ditulis Ilham Nur Utomo dan Dwi Wijayanti dari Universitas Diponegoro Semarang dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.
Pemikiran
Bung Hatta tentang pendidikan Islam bisa dilihat dalam pidatonya saat perpindahan Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia) dari Jakarta ke Yogyakarta pada 10 April 1946.
Dalam pandangan
Bung Hatta, ilmu agama dan ilmu umum seperti sosiologi, sejarah, dan filsafat memiliki koherensi penting satu sama lain. Itu didasari kritik terhadap pendidikan langgar, dalam istilah Bung Hatta. Langgar berarti masjid kecil atau tempat yang digunakan mengaji dan belajar agama Islam saja.
“Menurutnya (Bung Hatta), mungkin lulusan pendidikan tersebut bisa menjadi ulama besar, akan tetapi untuk memimpin masyarakat diperlukan hubungan dengan tiga bidang lain, yaitu meliputi agama dan filsafat, agama dan sejarah, serta agama dan sosiologi,” tulis Ilham dalam jurnal tersebut.
Baca Juga: DDII: Umat Islam Harus Punya Peta Pendidikan Lahirkan Pemimpin dan Ulama
Menurut
Bung Hatta, pendidikan langgar hanya fokus pada pendidikan ilmu agama saja, tidak memberikan skill kepada anak-anak atau santri mencari kehidupan sehari-hari. Dia khawatir para santri memiliki wawasan sempit sehingga kaget keluar pondok melihat perkembangan zaman.
Maka itu, diperlukan pendidikan Islam yang modern dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman. Itu untuk menghadirkan pendidikan Islam yang representatif.
Seorang muslim selalu dihadapkan pada realitas sosial yang kompleks dan dinamis. Kepribadian muslim yang representatif tidak akan muncul dengan baik jika pelajaran yang didapatkan tidak berkaitan dengan aspek-aspek yang mendukung atau sekadar tekstual.
Tiga Aspek Koherensi Pendidikan Agama dan Ilmu Umum
1. Ilmu Agama dan SosiologiMaka itu,
Bung Hatta menerangkan pentingnya koherensi agama dan sosiologi. Agama dan sosiologi dapat mempertajam pandangan agama ke dalam masyarakat yang hendak dipimpin. Masyarakat Indonesia yang multikultural merupakan tantangan bagi seorang muslim untuk dapat memahami dan saling menerima satu sama lain.
Baca Juga: Legenda Bung Hatta, Bukan Sosok Banyak Berkhotbah tapi...
Melalui agama dan sosiologi, seorang pemimpin muslim dapat memahami relasi agama dengan masyarakat, dan mengetahui kedudukan mereka di tengah masyarakat yang multikultural. Lebih jauh lagi, Bung Hatta menerangkan, agama dan sosiologi memberi keterangan tentang sikap masyarakat terhadap agama dalam tempat dan waktu.
2. Agama dan SejarahAgama dan sejarah memiliki kedudukan penting dalam pendidikan Islam. Menurut Bung Hatta, perhubungan keduanya memberi persiapan pikiran kepada orang untuk mendapat pandangan yang tepat tentang kedudukan agama dalam masyarakat pada tiap-tiap waktu.
Agama Islam sudah berkembang sejak beratus tahun lalu. Perkembangan umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad hingga saat ini dapat diketahui dan pelajari melalui sejarah. Sejarah tidak hanya berkaitan cerita masa lalu, tapi juga memberi arti pada peristiwa itu, sehingga sejarah mengandung nilai.
Agama dan sejarah juga membawa seorang muslim memahami lika-liku perkembangan agama-agama di dunia. Tidak hanya tahu perkembangan agama Islam saja, tapi juga agama lain. Islam bukan agama tunggal di Tanah Air, sehingga penting mengetahui sejarah tersebut.
3. Islam dan FilsafatMenurut
Bung Hatta, hubungan agama dan filsafat memperdalam kepercayaan dan memperhalus perasaan agama. Filsafat berhubungan dengan sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran, dan selalu meninjau masalah dari berbagai perspektif.
Baca Juga: Ketika Imam Al-Ghazali Meruntuhkan Filsafat Aristoteles
Selain itu, filsafat juga dapat memberikan pandangan dari keseluruhan kehidupan, dan pandangan tentang alam, serta untuk mengintegrasikan pengetahuan sains dengan pengetahuan disiplin-disiplin lain. itu agar mendapatkan suatu keseluruhan yang konsisten.
Bung Hatta bahkan menyebut filsafat dalam pendidikan Islam dapat memperdalam tauhid dengan filosofi agama, bukan bersumber pada dogma. Seorang muslim berusaha memahami agama menggunakan akal dan hatinya berdasar pada Al-Qur’an dan Sunnah.
(jqf)