LANGIT7.ID -
Imam Al-Ghazali dikenal sebagai salah satu Imam yang menguasai filsafat dan mengkritik paham filsafat yang tak sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Kehebatan
Al-Ghazali dalam filsafat ialah berhasil mematahkan filsuf terkenal dari barat, Aristoteles.
Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah,
KH Said Aqil Siradj, menuturkan bahwa sebelum Al-Ghazali mengkritik pemahaman para filsuf yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, Al-Ghazali sudah menulis kitab
Maqashidul Falasifah. Buku tersebut menjelaskan tentang maksud-maksud atau pemahaman para filsuf.
Setelah itu,
Al-Ghazali menulis
Tahaafut Al Falasifah (keruntuhan filsafat). Dalam kitab ini, Al-Ghazali menyebut ada 16 poin pemahaman filsuf yang termasuk bid'ah. Lalu, 3 poin masuk ke dalam jurang kekufuran.
Baca Juga: Cara Aplikatif Agar Filsafat tak Bertentangan dengan Agama
Ketiga hal itu yaitu pendapat filsuf bahwa alam itu
azali atau
qadim (
eternal in the past). Ia juga meluruskan pendapat filsuf bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal partikular (
juz'iyyat), dan paham filsuf yang mengingkari ada kebangkitan tubuh di hari akhirat.
"Imam Al-Ghazali menyebutkan para filsuf yang salah itu kufur, karena jelas sekali bertentangan dengan nash Al-Qur'an," kata KH Said Aqil Siradj dikutip kanal NU Channel, Jumat (27/5/2022).
KH Said Aqil Siradj menjelaskan, tujuan Al-Ghazali hanya satu, yakni menghancurkan pengaruh Aristoteles. Dia menyebut Aristoteles selalu berpikir sebab akibat. Segala yang ada pasti berkaitan dengan hukum sebab-akibat.
"Aristoteles sangat dikagumi para filsuf, baik intelektual muslim maupun lainnya. Maka, tujuan Al-Ghazali adalah menghancurkan wibawa Aristoteles. Tapi sebenarnya, Al-Ghazali tidak anti-filsafat, asal filsafat itu masih mengakui adanya Allah," kata
KH Said Aqil Siradj.
Baca Juga: Guru Besar Sastra Inggris: Tanpa Islam, Tak Akan Ada Shakespeare
Misalkan,
Al-Ghazali tidak membantah filsafat Neoplatonisme atau Platinus. Aliran ini mengatakan, Tuhan itu mutlak berbeda dengan alam. Dengan demikian, sebenarnya Al-Ghazali tidak menolak keseluruhan sistem filsafat. Dia hanya menolak yang bertentangan dengan aqidah Islam.
"Puncaknya, Imam Al-Ghazali menulis Kitab Ihya Ulumuddin. Di separuh awal, Al-Ghazali menulis tentang syariat, separuh akhir dibagi dua, yakni tentang apa saja yang bisa menghancurkan manusia dan apa-apa menyelamatkan manusia," kata KH Said Aqil Siradj.
(jqf)