Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Guru Besar Sastra Inggris: Tanpa Islam, Tak Akan Ada Shakespeare

Muhajirin Jum'at, 27 Mei 2022 - 18:37 WIB
Guru Besar Sastra Inggris: Tanpa Islam, Tak Akan Ada Shakespeare
William Shakespeare (foto: alamy.com)
LANGIT7.ID - Kehadiran muslim ternyata menonjol di Inggris, salah satunya dalam karya salah satu tokoh sastra klasik di Inggris William Shakespeare (1564-1616). Namun, hal tersebut diabaikan selama berabad-abad.

William Shakespeare merupakan penulis naskah drama Inggris yang paling terkenal dan menjadi simbol Inggris. Shakespeare dikenal dari salah satu karya populernya Romeo and Juliet. Ternyata, dia memiliki hubungan erat dengan dunia Islam melalui karya-karyanya.

“Tanpa Islam, tidak akan ada Shakespeare,” kata Mathew Dimmock, Profesor di Universitas Sussex, dikutip TRT World, Jumat (27/5/2022).

Baca Juga: Bukti Kebangkitan Islam di Inggris, Stadion Dijadikan Tempat Shalat Id

“Tanpa keterlibatan Tudor dan Jacobean yang kaya dan kompleks dengan budaya Islam, drama yang ditulis oleh William Shakespeare akan sangat berbeda,” kata Dimmock.

Hal tersebut dikarenakan aliansi politik dan perdagangan Ratu Elizabeth I dengan dunia Muslim, khususnya Kekaisaran Ottoman dan Kerajaan Maroko. Pengaruh budaya Muslim di Inggris sangat besar dan ini merambah ke sastra dan teater.

Teater komersial pertama di London dibuka pada 1576 M. Pada saat Shakespeare tiba di sana, sudah ada drama yang menggunakan dunia Islam sebagai latar belakang. Drama tentang kisah kerajaan dan orang-orang muslim sangat populer. Sebenarnya ada lebih dari 60 drama antara 1576-1603 yang menampilkan orang Turki, Moor, dan Persia.

Penggambaran Shakespeare yang paling terkenal dari karakter utama dengan warisan Muslim adalah 'Othello' yang digambarkan sebagai 'Moor' dari Venesia dalam Twelfth Night and Othello. Dalam drama itu, tersirat dia telah masuk agama Kristen. Namun, ada beberapa teori yang masuk akal, Othello tidak pernah benar-benar mengubah keyakinannya.

Baca Juga: Masjid Indonesia di Inggris Sebagai Pusat Dakwah Islam Wasatiah

Sebuah karya interpretasi tahun 2018 dari Othello oleh English Touring Theatre dan disutradarai oleh Richard Twyman menyajikan pandangan alternatif tentang Othello sebagai seorang Muslim yang taat.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Richard Twyman menyatakan, penelitian sejarawan Jerry Brotton tentang hal ini telah membuka matanya.

“Kami tahu secara historis tentang kerajaan Moor di Spanyol (di mana Muslim Spanyol atau Morisco dipaksa masuk Kristen pada tahun 1492.) Tapi saya tidak pernah menyimpulkan bahwa Moor mungkin juga mengacu pada identitas spiritual dan budaya Othello,” kata Twyman.

Namun, koneksi Shakespeare ke dunia Muslim telah diminimalkan dalam beberapa abad terakhir. Zaman modern telah membuat Othello menjadi tragedi konflik rasial.

"Penggambaran pasca abad kedua puluh telah mengecilkan konteks Muslim yang menutup kompleksitas maknanya, dan merupakan komponen kunci untuk memahami drama tersebut,” bantah Dimmock.

Baca Juga: Ketika Raja Inggris Mengirim Putrinya Belajar ke Universitas Islam di Cordoba

Beberapa kebingungan tampaknya muncul dari arti kata 'Moor' selama periode ini yang telah hilang dalam interpretasi kita saat ini. Pada saat Shakespeare menulis, kata 'Moor' tidak hanya mengacu pada warna kulit yang lebih gelap, tetapi juga seorang Muslim dari mana saja di dunia Islam.

Belakangan di Inggris tidak lazim menggunakan istilah 'Muslim'. Sebaliknya, banyak kata digunakan untuk menggambarkan seorang muslim seperti 'Moor', 'Arab', 'Saracen' hingga 'Turk'. Kata-kata itu sering digunakan secara bergantian.

Kurangnya pemahaman tentang terminologi ini membuat dunia Islam dan pengaruh besar Islam dalam Shakespeare, dan sastra Inggris secara umum, dihilangkan.

Masih banyak lagi lakon Shakespeare selain Othello yang menampilkan karakter, tempat, dan objek Muslim.

Twelfth Night and Othello menyajikan kepada kita latar yang menunjukkan bukti Islam dalam budaya, meskipun faktanya memiliki banyak fitur dari era Elizabethan," kata Direktur Teater di Inggris, Sean Aita.

Ada juga referensi ke dunia Islam di 'Titus Andronicus' yang memiliki karakter Moor, dan 'The Taming of Shrew' mengacu pada "bantal timbul dengan mutiara dari Turki.

Namun, penyebutan ini hanya sekilas. Faktanya, Dimmock menyatakan, Shakespeare memasukkan sekitar 150 referensi motif Islam dalam 21 karya dramanya, seperti Turki dan Saracen, 'Mahomet', Maroko dan Barbary.

Kenyataannya, Shakespeare dan orang-orang Inggris pada abad ke-1 tahu tentang dunia Muslim. Mereka mungkin tidak memiliki pemahaman tentang Islam, tetapi sepenuhnya menyadari kekayaan dan kekuasaan Muslim. Ini adalah konteks waktu. Teater berkontribusi untuk membuat kesadaran ini lebih utama.

Beberapa orang Inggris bahkan mungkin pernah bertemu dengan Muslim yang datang ke Inggris sebagai diplomat, pedagang, atau budak yang ditangkap. Orang Inggris yang lebih kaya tentu tahu barang-barang dan kesenangan dari dunia Muslim, termasuk karpet, makanan eksotis, dan kopi.

Baca Juga: Fotografer Kerajaan Ungkap Keinginan Putri Diana Belajar Islam

“Kita perlu melihat konteks dunia tempat Shakespeare menulis dan hubungannya dengan Islam. Tidak ada cara lain karena dunia Muslim adalah inti dari karya Shakespeare,” kata Dimmock.

Kehadiran Muslim di Inggris dan dunia Barat adalah fakta sejarah, dan bukan fenomena abad ke-20. Narasi arus utama secara keliru berkisar seputar Muslim sebagai orang asing di Barat, yang baru tiba di Inggris dengan gelombang imigrasi tahun 1950-an dan 1960-an, dan kemudian sebagai pengungsi.

Narasi ini dengan mudah mengabaikan kedalaman interaksi yang dimiliki Barat dengan dunia Muslim, serta pengaruh besar yang terakhir di pulau kecil ini. Kehadiran Islam sebenarnya sangat tertanam kuat di Inggris, bahkan dalam simbol-simbol Inggris yang paling klasik seperti William Shakespeare.


Sumber: TRT World


(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)