LANGIT7.ID - Dahulu, peradaban Islam menjadi kiblat intelektual berbagai peradaban dunia, termasuk Barat. Pemuda-pemudi Barat berbondong-bondong menimba ilmu di lembaga-lembaga keilmuan yang didirikan kekhalifahan Islam. Tak terkecuali putri Raja Inggris.
Ada sebuah surat terkenal dari Raja Inggris saat itu kepada Hisyam Abdul Rahman dari Bani Umayyah yang menjadi penguasa Cordoba pada 788-796 M di Andalusia. Raja Inggris, dalam surat itu, meminta izin untuk putrinya dan anggota istana untuk belajar di Universitas Cordoba.
Universitas Cordoba kala itu paling maju di Eropa. Universitas Cordoba hanya disaingi Universitas Baghdad di Timur di bawah Kekhalifahan Abbasiyah. Cordoba merupakan pusat intelektual di Eropa dan dianggap tempat aman bagi putri raja untuk belajar. Surat itu pun mendapat persetujuan.
Baca Juga: Oxford University Berdiri Terinspirasi dari Kejayaan Wakaf Umat Islam
Pemerintahan dan peradaban muslim yang paling maju dan makmur di Spanyol sangat kontras dengan Eropa Kristen yang kala itu sedang melewati era kegelapan dalam sejarah. Orang Eropa terus-menerus berselisih satu sama lain dan berperang tanpa akhir. Mereka hidup dalam kondisi yang paling tidak higienis dan menyedihkan.
Sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan dan keluarga penguasa di negara-negara Eropa untuk mengirim putra-putri mereka untuk mempelajari ilmu-ilmu modern, seperti kimia, fisika, kedokteran, sejarah, geografi, astronomi, dan filsafat. Tak hanya ke Cordoba, tapi juga di Toledo dan banyak universitas muslim lainnya di Andalusia.
“Seandainya saja umat Islam menaklukkan Paris juga. Karena jika mereka mau, maka akan menjadi seperti Cordoba. Selama 600 tahun kami bergantung pada muslim untuk menerjemahkan filsafat yunani,” kata seorang psikolog sosial Prancis, Charles Marie Gustave Le Bon, dikutip dari laman siasat.com.
Sejarah Cordoba Jadi Pusat Ilmu Pengetahuan EropaUniversitas Cordoba bermula ketika Kekhalifahan Bani Umayyah diambil alih oleh Kekhalifahan Bani Abbasiyah pada 750 M, sehingga pusat peradaban Islam dipindahkan dari Damaskus, Syiria ke Baghdad.
Keadaan itu memaksa Abdurrahman I (Abdurrahman Al-Dakhil) yang menjadi Khalifah Bani Umayyah kala itu hengkang ke Spanyol. Ia lalu mendirikan Kekhalifahan Bani Umayyah kedua di Spanyol dengan Cordoba sebagai Ibu Kota.
Bani Umayyah kedua ini bertahan selama hampir 800 tahun (756-1492 M). Berkembang pesat menyaingi kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pada masa-masa kejayaanya, Cordoba menjadi pusat perdagangan terkaya di Eropa. Pada masa Khalifah Abdul Rahman I itulah Masjid Cordoba dibangun dan dilanjutkan oleh Abdul Rahman II, Al Hakam, dan Al Mansur.
Pada saat kekhalifahan Bani Umayyah, Cordoba menjadi ibu kota Spanyol. Cordoba saat itu juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Volume kunjungan ke perpustakaan mencapai angka 400.000 kunjungan, sementara volume pengunjung perpustakaan-perpustakaan besar di Eropa lainnya jarang mencapai angka seribu.
Cordoba mengalami kemajuan pesat dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan intelektual. Pada masa kekuasaan Abdul Rahman III, didirikan Universitas Cordoba yang terkenal dan menjadi kebanggaan umat Islam.
Banyak mahasiswa dari berbagai negara, termasuk mahasiswa Kristen dari Eropa, menuntut ilmu di universitas itu. Geliat pendidikan di Cordoba makin bersinar pada era pemerintahan Al Hakam Al Muntasir. Sebanyak 27 sekolah swasta didirikan, bahkan gedung perpustakaan mencapai 70 buah. Anak-anak miskin dan terlantar bisa bersekolah secara gratis di 80 sekolah yang disediakan pemerintah.
Singkatnya, Cordoba dikenal sebagai the greatest centre of learning di Eropa ketika kota-kota lain mengalami kegelapan. Cordoba menjadi kota termegah pada masanya.
Saat Cordoba berada dalam puncak kejayaan pada abad ke-9 dan ke-10 M, kota itu dipenuhi lebih dari 200.000 rumah, sekitar 600 masjid, dan tak kurang dari 50 rumah sakit serta sejumlah pasar besar. Di antara ratusan masjid yang ada, masjid termegah dan terbesar adalah Le Mezquita atau Masjid Cordoba.
(jqf)