Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Jejak Permusuhan Yahudi: Bagaimana Maimun al-Qadah Merancang Penghapusan Syariat

miftah yusufpati Senin, 06 April 2026 - 05:00 WIB
Jejak Permusuhan Yahudi: Bagaimana Maimun al-Qadah Merancang Penghapusan Syariat
Setelah fitnah Abdullah bin Saba, muncul Maimun al-Qadah yang merancang sekte Bathiniyah di penjara Irak. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah infiltrasi terhadap Islam sering kali bergerak di ruang-ruang gelap yang jauh dari jangkauan pedang. Jika Abdullah bin Saba sebelumnya berhasil menggoreskan luka fisik melalui tragedi berdarah pembunuhan Khalifah Utsman, maka suksesi makar berikutnya bergeser ke wilayah yang lebih fundamental: penghancuran nalar syariat. Di jantung Kufah sekitar tahun 276 Hijriah, benih-benih destruksi itu mulai disemaikan oleh seorang tokoh misterius bernama Maimun bin Dishan al-Qadah.

Maimun al-Qadah, yang oleh banyak sejarawan disebut memiliki latar belakang Yahudi, tidak bekerja dengan cara-cara konvensional. Ia memahami bahwa untuk meruntuhkan sebuah peradaban besar seperti Islam, serangan frontal dari luar sering kali menemui kegagalan. Strategi yang paling ampuh adalah dengan membusukkan ajaran tersebut dari dalam, menggunakan jubah yang tampak religius namun isinya berlawanan dengan esensi tauhid.

Penjara Irak menjadi saksi bisu pertemuan strategis antara Maimun al-Qadah dengan Muhammad bin al-Husain yang dikenal dengan sebutan Dandan. Di balik terali besi itulah, konsep sekte Bathiniyah dirumuskan. Nama Bathiniyah sendiri diambil dari klaim mereka bahwa setiap teks lahiriah dalam Al-Quran dan hadis memiliki makna batin yang hanya diketahui oleh kalangan elit mereka. Dengan metodologi ini, mereka bebas melakukan dekonstruksi terhadap hukum-hukum Allah.

Imam al-Baghdadi dalam karyanya yang monumental, al-Farqu bainal Firaq, memberikan kesaksian tajam mengenai asal-usul gerakan ini. Beliau menyebutkan bahwa Maimun bin Dishan adalah sosok sentral yang membidani kelahiran sekte tersebut. Maimun memosisikan dirinya seolah-olah sebagai pendukung Ahlul Bait, khususnya sebagai maula bagi Jafar bin Muhammad ash-Shadiq, demi mendapatkan legitimasi di mata kaum muslimin yang sangat mencintai keturunan nabi.

Bahaya laten dari gerakan al-Qadah ini adalah relativisme hukum yang mereka tawarkan. Mereka mengajarkan bahwa ibadah-ibadah lahiriah seperti salat, puasa, dan haji hanyalah simbol untuk orang awam. Bagi mereka yang sudah mencapai tingkatan batin tertentu, kewajiban-kewajiban tersebut dianggap gugur. Lebih ekstrem lagi, sekte ini mulai menghalalkan hal-hal yang diharamkan secara mutlak dalam agama, termasuk pernikahan sesama mahram (incest). Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai upaya pembebasan manusia dari ikatan syariat (ibahah).

Keberhasilan infiltrasi ini tak lepas dari kondisi sosial politik yang mulai rapuh. Akidah yang tidak murni menjadi tanah subur bagi syubhat atau keraguan yang ditebarkan Maimun. Ia memanfaatkan konsep-konsep filsafat kuno dan menyisipkannya ke dalam terminologi Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan tentang karakter orang-orang yang gemar melakukan pengaburan makna dalam Surah Ali Imran ayat 7:

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

Artinya: Adapun orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.

Para ulama dunia, seperti Imam al-Ghazali dalam kitab Fadhaih al-Bathiniyah, melakukan perlawanan intelektual yang keras terhadap sekte ini. Al-Ghazali membongkar bahwa tujuan akhir dari Bathiniyah bukanlah untuk membawa manusia pada makrifatullah, melainkan untuk menggiring umat pada kekufuran tanpa mereka sadari. Maimun al-Qadah dan para pengikutnya dipandang sebagai kepanjangan tangan dari dendam sejarah yang ingin memadamkan cahaya Islam melalui jalur esoterisme yang menyimpang.

Hingga saat ini, jejak pemikiran Bathiniyah yang diwariskan oleh al-Qadah masih dapat ditemukan dalam berbagai pemikiran liberalisme agama yang mencoba menggugat kemapanan syariat dengan dalih esensi dan substansi. Sejarah Maimun al-Qadah adalah pengingat abadi bahwa ancaman terhadap iman tidak selalu datang dengan denting pedang, melainkan sering kali menyusup melalui pintu-pintu penafsiran yang menyesatkan. Menjaga kemurnian akidah dan pemahaman syariat sesuai tuntunan salafus saleh menjadi satu-satunya benteng agar makar semacam ini tidak lagi mendapatkan tempat di hati kaum muslimin.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)