LANGIT7.ID, Jakarta - Pengajar filsafat Fahruddin Faiz mendefinisikan filsafat sebagai bidang kajian yang fokus pada cara berfikir yang benar. Pada titik itu, filsafat memiliki keterikatan atau nyambung dengan perintah agama.
Agama Islam, kata Fahruddin, memerintahkan manusia untuk menggunakan akal. Ada banyak ayat dalam Al-Qur'an yang memiliki konotasi menggunakan akal, seperti yang memerintahan untuk membaca, berfikir, bertafakkur, dan bertadabbur.
"Ada banyak ayat yang konotasinya ke situ. Jadi, di titik ini menurut saya, filsafat tidak bertabrakan dengan agama," kata Fahruddin saat berbincang dengan Habib Ja'far melalui kanal
YouTube Jeda Nulis, dikutip Kamis (20/1/2022).
Meski begitu, Fahruddin mengakui jika ada beberapa gagasan filsafat yang tidak cocok dengan agama. Namun, ia tak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, itu termasuk produk pemikiran.
Jika bersifat produk, maka boleh setuju dan boleh juga tidak setuju. Namun, jika tidak setuju bukan berarti mengesampingkan eksistensi filsafat sebagai bidang kajian yang mengajak untuk berfikir. Jika tidak mau berfikir, itu justru bertentangan dengan agama.
"Dengan definisi ini filsafat berarti sangat mendukung agama. Jadi, ambil yang sesuai dengan agama, tolak yang tidak sesuai. Dalam filsafat itu
kan disebutkan manusia adalah binatang yang berpikir. Maka kalau manusia minus berpikir, khawatir tinggal binatang," kata Fahruddin.
Bahkan, kata dia, ada beberapa bidang keilmuan dalam Islam yang memanfaatkan logika atau mantik seperti ulumul Qur'an, ushul fikih, hingga ulumul hadits. Bidang keilmuan itu menggunakan prinsip-prinsip logis.
"Maka, bekalnya adalah ilmu mantik. Maka di titik ini kita bisa menerima filsafat, meskipun boleh saja kita tidak setuju dengan gagasan filsuf tertentu," kata Fahruddin.
Selain itu, Fahruddin menjelaskan cara mengaplikasikan filsafat dalam beragama. Beragama berarti keimanan atau kepercayaan, dan kepercayaan akan semakin kuat jika ditambah dengan pemahaman.
"Jadi, yang beriman itu bukan hanya hati, tapi pikiran juga, ikut beriman. Karena dia bisa mengejar makna iman. Itu pentingnya pendayagunaan akal," kata Fahruddin.
(jqf)