LANGIT7.ID, Jakarta -
KH Abdurrahman Wahid alias
Gus Dur tidak hanya dikenal sebagai mantan Presiden RI tapi juga merupakan seorang Guru Bangsa. Lalu, bagaimana seorang Gus Dur bisa jadi seorang guru bangsa? Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu punya perjalanan intelektual yang tak biasa hingga bisa jadi rujukan sekaligus teladan dalam kemanusiaan.
Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Ngatawi Al-Zastrouw, memetakan perjalanan intelektual KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke dua fase yakni di Pesantren dan di Timur Tengah lalu ke Barat. Hasil perjalanan itu lalu dikonstruksi atau diolah yang menjadikan Gus Dur sebagai oase ilmu pengetahuan. Pada saat bersamaan, dia juga peka terhadap tradisi dan lingkungan sekitar.
Baca Juga: Teladan Gus Dur Bawa Islam Jadi Rahmat untuk Semesta Alam
“Gus Dur tidak sekadar menjadi intelektual, kritis, tapi juga berani. Gus Dur dalam konteks ilmu humaniora, terutama agama, tidak pernah memilah-milah. Gus Dur melakukan rekonstruksi sebagai sumber keilmuan, sehingga menjadi suatu sistem pengetahuan yang kemudian teraktualisasi dalam berbagai sikap dan tindakan,” kata Ngatawi dalam Haul ke-13 Gus Dur bersama PCNU Maroko yang diikuti Langit7 secara daring, Kamis (19/1/2023).
Gus Dur tidak memposisikan falsafah negara yakni Pancasila, pelajaran agama, hingga ilmu humaniora sebagai sains atau knowledge semata. Tapi, semua ilmu pengetahuan itu dijadikan habitus atau ilmu laku.
“Berbeda dengan orang sekarang, orang belajar agama, tapi agama sebagai ilmu pengetahuan atau
knowledge, sehingga pintar agama sampai hafal kitab, maka perilakunya atau habitusnya kadang sama sekali tidak mencerminkan dari agama yang dia pelajari,” katanya.
Baca Juga: 5 Teladan Gus Dur yang Habiskan Umur untuk Kemanusiaan
Gus Dur bisa menjadikan ilmu-ilmu humaniora sebagai habitus atau ilmu laku, Bukan semata ilmu pengetahuan. Berikut perjalanan intelektualnya.
Bangun Pondasi Keilmuan di PesantrenPeletak pondasi keilmuan Gus Dur adalah pesantren. Di pesantren, Gus Dur bertemu dengan pemikiran-pemikiran ulama klasik, baik di bidang ilmu alat, fikih, tasawuf, akhlak, dan lain sebagainya.
“Itu kemudian terkonstruksi dengan budaya pesantren, yang tawadhu, sabar, dan seperangkat nilai yang ada di pesantren. Itu yang menjadi pondasi dasar atau basis keilmuan Gus Dur,” tutur Ngatawi.
Pada saat yang sama, ketika duduk di bangku SMP, Gus Dur sudah membaca buku-buku pemikiran Barat. Di antaranya Das Kapital yang ditulis Karl Marx, pemikiran komunisme Vladimir Lenin, hingga pemikiran Zionis Israel.
Baca Juga: Detik-detik Mengharukan Jelang Pelengseran Gus Dur dari Jabatan Presiden“Gus Dur sudah membaca itu saat masih proses habitus di pesantren. Sehingga, ketika beliau ketemu dengan pemikiran-pemikiran Islam klasik yang ada di kitab kuning, pada saat yang sama dia melakukan pengembaraan intelektual dengan menjelajah pemikiran Eropa dan Barat,” ujar Ngatawi.
Hal yang menarik, Gus Dur juga peka terhadap konstruksi tradisi yang ada di sekitarnya. Dia sangat hafal seni wayang. Gus Dur juga tersambung dan memahami tradisi-tradisi yang berkembang di sekitarnya, terutama tradisi jawa.
“Ini semua terkonstruksi ke dalam diri Gus Dur, tertancap dan menjadi sensus pengetahuan, yang kemudian dikonstruksi,” kata Ngatawi.
Perjalanan Intelektual ke Timur Tengah dan BaratSetelah menguatkan pondasi keilmuan di pesantren, Gus Dur mengembangkan kualitas intelektualnya dengan melakukan pengembaraan ke Timur Tengah, Eropa, hingga Afrika. Di Timur Tengah, Gus Dur mengeksplorasi pemikiran keislaman.
“Mulai dari yang paling konservatif sampai yang paling liberal. Beliau membaca Sayyid Quthb, Hasan Al banna, sampai tafsir-tafsir yang liberal pada zamannya atau pemikiran-pemikiran liberal pada zamannya,” ujar Ngatawi.
Gus Dur juga mengembara ke Eropa dan Afrika. Dia menjelajah sampai ke Belanda, Belgia, hingga Jerman sampai ke Maroko. Di situ dia bertemu dan bersentuhan dengan pemikiran kontemporer Barat sampai yang klasik.
Gus Dur Menjadi Oase Ilmu PengetahuanPerjalanan intelektual itu menjadikan sosok Gus Dur seperti oase yang mempertemukan beberapa aliran sumber mata air yang jernih. Seperti sumber mata air Islam, sumber mata air tradisi, sumber mata air Barat. Itu lalu mengalir dan tertampung dalam sosok seorang diri Gus Dur.
“Yang menarik, Gus Dur dengan khazanah yang demikian banyak, itu beliau tidak langsung menelan, tapi dikonstruksi ulang,” ungkap Ngatawi.
Baca Juga: Cara Gus Dur dan Sinta Nuriyah Didik 4 Putrinya Jadi Perempuan Berdaya
Gus Dur tidak semata-mata organik, tapi juga transformatif. Dia mengibaratkan Gus Dur seperti sebuah pohon, dan orang awam seperti batu yang terkena air. Batu saat ada air mengalir yang menyentuh dirinya akan kering saat air itu sudah lewat. Tidak berdampak apa-apa.
Sementara, Gus Dur seperti pohon yang hidup. Air yang lewat ditangkap dimasukkan ke dalam pori-pori, dijadikan bahan, untuk diolah untuk menjadi ranting, dahan, daun, buah, bunga, dan mengembangkan tumbuh besarnya pohon itu.
“Gus Dur seperti itu. kenyataan atau realitas hidup yang menghampiri dirinya dia serah, dia renungkan, lalu dikonstruksi atau diolah, sehingga menjadi suatu pengetahuan, karya, dan amal. Yang itu tidak hanya membesarkan dirinya, mengembangkan pemikirannya, tetapi juga membawa manfaat bagi orang lain,” ujar Ngatawi.
(jqf)