LANGIT7.ID, Jakarta -
KH Abdurrahman Wahid alias
Gus Dur merupakan Presiden Republik Indonesia ke-4 yang memimpin sejak 20 Oktober 1999. Dia hanya menjabat sebagai presiden selama dua tahun karena dilengserkan pada 23 Juli 2001.
Ada kisah mengharukan jelang Gus Dur dilengserkan dari jabatan Presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Detik-detik peristiwa tersebut diceritakan putri sulung Gus Dur,
Alissa Wahid, kepada
Langit7.
Suatu ketika di istana, Gus Dur memanggil Alissa Wahid untuk menghadap. Alissa Wahid diminta membawa Ibu (Nyai Sinta Nuriyah) dan ketiga adiknya untuk keluar dari istana. Dia sempat bersikukuh dan menangis tak ingin meninggalkan Gus Dur sendirian di istana.
Baca Juga: Mengenang Sosok Gus Dur, Presiden RI ke-4 dengan Jabatan Singkat
“Karena saya ingat bagaimana Bung Karno oleh rezim Orde Baru itu kemudian diasingkan di istana Bogor, sehingga keluarganya susah menjenguk. Saya takut sekali itu terjadi,” kata Alissa kepada
Langit7, Sabtu (31/12/2022).
Alissa Wahid tetap ngeyel untuk tetap menemani Gus Dur di istana. Akan tetapi, Gus Dur tetap meminta Alissa segera membawa anggota keluarganya keluar dari Istana.
Gus Dur menyampaikan, “Tidak bisa, ini keadaan sudah berbahaya. Kalau kalian di sini, bapak kepikiran kalian. Ini tentara sudah akan melawan.”
“Enggak Pak, pokoknya apapun yang terjadi, kami tetap bersama bapak. Ke mana bapak dibawa, kami akan bersama bapak. Pokoknya tidak bisa enggak.” Jawa Alissa Wahid.
Baca Juga: Berkunjung ke Markas NU, Menlu Malaysia Kenang Sosok Gus Dur
Gus Dur tetap tidak mengabulkan keinginan Alissa Wahid. Akhirnya, dengan berat hati Alissa membawa Nyai Sinta dan ketiga adiknya keluar dari istana. Namun, beberapa hari kemudian Gus Dur tiba-tiba memanggil lagi.
Gus Dur menyampaikan, “Tolong besok mulai kemasi barang-barang, karena kita akan keluar dari istana.”
“Kenapa Pak? Kemarin-kemarin bapak menyampaikan bahwa karena sedang memperjuangkan kebenaran, apapun akan dilakukan.” Tutur Alissa mempertanyakan perintah Gus Dur.
“Ini soalnya kiai-kiai bilang kalau banyak santri sudah dalam perjalanan ke Jakarta mau membela bapak, jadi enggak bisa Nak.” Jawab Gus Dur.
Baca Juga: Cara Gus Dur dan Sinta Nuriyah Didik 4 Putrinya Jadi Perempuan Berdaya
“Tidak ada satu jabatan pun yang perlu diperjuangkan dan dipertahankan dengan darah rakyat,” kata Gus Dur menegaskan.
Menurut Alissa, Gus Dur tidak ingin dibela dan tak ingin ada pertumpahan darah antara anak bangsa. Dia memilih menanggalkan ego lalu mundur dari jabatan presiden. Dia menyebut momen merupakan kisah yang tak bisa terlupakan.
“Setelah itu, selama delapan tahun saya mengasingkan diri dari
public life, dari kehidupan publik karena saya kehilangan kepercayaan kepada keadilan. Tapi, semenjak Gus Dur wafat, saya memutuskan berusaha melanjutkan apa yang beliau perjuangkan selama ini, karena saya tahu itu belum terwujud sepenuhnya,” ungkap Alissa Wahid.
(jqf)