LANGIT7.ID-Ada satu pernyataan menggelitik dan out of the topic yang disampaikan peserta Public Lecture Ramadan Masjid Kampus UGM kepada Ganjar Pranowo, Rabu (5/3/2025).
Menariknya, pertanyaan ini disampaikan mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Amikom Yogyakarta bernama Puan Jasmine Maharani Merkuri.
Puan bertanya kepada Ganjar, seandainya jadi presiden, apa yang akan menjadi fokusnya di pertahanan.
"Lah, saya sudah kalah gimana, ini kalah saya aja lowbat," jawab Ganjar disambut riuh jamaah peserta dikutip dari Youtube Masjid Kampus UGM.
Mendapat jabawan begitu, Puan malah melanjutkan pertanyaan kedua. Yang isinya menitipkan salam ke Alam Ganjar, putra dari Ganjar. Peserta dibuat heboh lagi oleh pertanyaan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Puan juga meminta bisa berfoto bersama Ganjar. Permintaan ini kemudian diiyakan oleh Ganjar. "Ya, ya, boleh, boleh."
Ganjar ingatkan untuk tidak alergi ke kampus Pada Rabu (5/3/2025), Ganjar mengisi kegiatan Public Lecture di Masjid Kampus UGM denhan tema "Langkah Strategis Peningkatan Kemandirian Daerah untuk Mendorong Pemerataan Ekonomi.
Pada kesempatan ini, Ganjar mengingatkan semua pihak, terutama pemerintah, supaya jangan alergi dengan kampus.
"Maka jangan alergi dengan kampus. Maka kalau kampus berteriak keras ada sesuatu yang biasanya keliru," katanya dikutip dari Youtube Masjid Kampus UGM.
Pernyataan Ganjar ini berawal dari pertanyaan mahasiswa dalam acara tersebut, yang mengungkap inovasi. Inovasi katanya hanya di Jawa. Di luar Jawa sulit.
Ganjar menyebut, soal inovasi dan lainnya adalah cerita tentang leadership, mau untuk melakukan sesuatu, cerita yang bukan omon-omon.
"Cerita yang serius, kemudian dia (pemimpin daerah) tahu persoalan dan dia selesaikan, dan kalau tidak tahu cari partner. Siapa partnernya? Biasanya kampus. Maka jangan alergi dengan kampus. maka kalau kampus berteriak keras ada sesuatu yang biasanya keliru."
Menurut Ganjar, pemerintah semestinya tidak alergi dengan kampus. Karena perjuangan orang kampus, dalam hal ini dosen, itu belum level pemilikan aset, sekelas konglomerat. "Kelasnya dosen itu masih tukin. Perjuangannya masih level tukin," tuturnya.
Ganjar menambahkan, faktanya politik pendidikan Indonesia memang belum sampai masuk ke sana. Padahal, kata dia, kalau 20 persen dari APBN untuk pendidikan semua tidak boleh dibagi ke mana-mana, khusus untuk pendidikan.
"Masa sih gak cukup. Coba kumpulkan jadi satu, berika ke sana (pendidikan). Rasanya itu cukup," ujarnya.
Di sisi lain, Ganjar Pranowo juga menyinggung tentang korupsi yang masih saja terjadi dan soal pengawasan.
"Iya, yah saya juga bingung. Yang ngawasi banyak, eksekutif diawasi legislatif, eh legislatifnya kena juga. Ada BPKP, ada BPK, eh kena juga. Ada polisi, Kejaksaan, ada KPK," ujarnya.
Ganjar mengatakan, korupsi susah diawasi karena kalau kita percaya, ada yang tak terlihat di sana. "Itu yang seringkali kita lupa," tuturnya.
Oleh karena itu, Ganjar berpendapat mengawasi yang paling bagus adalah gerakan msyarakat dari manapun berada.
"Ibarat air setetes yang harus melobangi batu. Konsisten menetes terus di satu titik sama, tidak berhenti, pasti batu itu akan bolong. Cuma waktunya lama," ungkap Ganjar. (*)
(hbd)