Oleh: Anwar AbbasLANGIT7.ID-Menarik menyimak pidato Prabowo dalam rapat paripurna DPR RI pada Selasa, 20 Mei 2026 lalu, ketika ia meminta bank-bank milik negara (Himbara) untuk lebih berpihak kepada rakyat kecil dan pelaku usaha baru. Permintaan tersebut tentu bukan tanpa alasan, sebab selama ini perilaku bank-bank negara memang tampak lebih berpihak kepada usaha-usaha besar, sehingga nyaris tidak ada bedanya dengan bank-bank swasta lainnya.
Padahal, sebagai bank milik negara, mereka harus memahami bahwa ada misi khusus yang diembankan kepada mereka sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi, yakni melindungi, mencerdaskan, dan mensejahterakan rakyat.
Oleh karena itu, sangat tepat ketika Prabowo memerintahkan bank-bank Himbara agar ke depan menjadi bank yang patriotik, yang tidak hanya memikirkan sekelompok orang saja, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat bagi semua, terutama dalam membela dan mengangkat ekonomi masyarakat kecil serta lapisan bawah.
Namun, sikap dan mentalitas seperti yang diinginkan Prabowo itulah yang tampaknya belum tumbuh dan berkembang dengan baik di kalangan pimpinan bank Himbara. Hal itu bisa dilihat dari masih rendahnya jumlah kredit dan pembiayaan yang mereka berikan kepada UMKM, yakni sekitar 20 persen, padahal jumlah UMKM di negeri ini mencapai sekitar 99,99 persen.
Sementara itu, sisanya, yakni 80 persen, justru jatuh ke kelompok usaha besar yang jumlahnya hanya sekitar 0,01 persen. Akibatnya, seperti yang dikatakan Prabowo, yang terjadi adalah “dia lagi, dia lagi”, atau hanya orang-orang yang memang sudah sangat kaya saja yang mendapatkannya.
Untuk itu, supaya Prabowo tidak dicap verbalistik oleh rakyat, maka sudah saatnya Prabowo melakukan "revolusi" di internal bank-bank Himbara dengan memberhentikan para pimpinan yang tidak sanggup mengalihkan kredit dan pembiayaannya kepada UMKM. Tidak harus sebesar 99,99 persen sesuai jumlah pelakunya, tetapi setidaknya sebesar kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu sekitar 61 persen pada 2025.
Jika hal ini bisa dilakukan, maka tentu akan terjadi perubahan besar dalam kehidupan ekonomi kita. Akan ada mobilitas vertikal dalam struktur ekonomi masyarakat, sehingga kelas menengah di negeri ini akan semakin membesar. Dengan demikian, daya beli masyarakat akan meningkat secara tajam.
Bila kondisi tersebut terjadi, maka apa pun yang kita produksi dan jual, selama sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar, tentu akan laku. Ekonomi nasional pun akan bergulir seperti bola salju, dan tujuan kita untuk menjadi negara maju, bahkan menjadi salah satu negara adikuasa di dunia, akan lebih cepat terwujud.
Untuk itu, kita tunggu pidato Prabowo tahun depan, 20 Mei 2027, apakah sudah ada perubahan atau belum.
(Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, sekaligus Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas)
(lam)