LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden ke-4 Republik Indonesia, Almarhum
KH Abdurrahman Wahid alias
Gus Dur, merupakan guru bangsa yang memiliki banyak warisan mulia untuk bangsa Indonesia. Seumur hidupnya, Gus Dur senantiasa memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan.
Sosok Gus Dur memang tidak pernah habis diulas. Berjilid-jilid buku, mulai dari buku humor sampai buku bertema serius sudah tersusun di perpustakaan.
Putri Sulung Gus Dur,
Alissa Wahid, mengungkapkan setidaknya ada lima hal yang diteladankan Gus Dur untuk anak-anaknya dan juga bisa diteladani anak bangsa.
1. Menghabiskan Hidup untuk Kemaslahatan Bersama dan PerjuanganAlissa Wahid mengungkapkan, hal yang paling diteladankan oleh Gus Dur adalah cara menghabiskan kehidupan untuk kemaslahatan bersama dan untuk perjuangan. Sejak pulang dari luar negeri menuntut ilmu, Gus Dur bukan sosok yang bergelimang harta.
Perekonomian keluarga Gus Dur bahkan banyak ditopang oleh sang istri, Nyai Sinta Nuriyah. Kendati begitu, Gus Dur tidak berhenti berjuang untuk merealisasikan Islam
Rahmatan Lil-alamin.
Baca Juga: Detik-detik Mengharukan Jelang Pelengseran Gus Dur dari Jabatan Presiden
“Hal yang paling diteladankan oleh Gus Dur adalah bagaimana men-tasarruf-kan atau menghabiskan kehidupan kita untuk kemaslahatan bersama, untuk perjuangan. Itu yang paling diteladankan,” kata Alissa Wahid kepada
Langit7, Sabtu (31/12/2022).
2. Memperjuangkan Kemanusiaan, Keadilan, dan KesetaraanAlissa Wahid mengungkapkan, dalam kehidupan sehari-hari, Gus Dur merupakan sosok yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan. Contoh paling sederhana saat Alissa Wahid hendak menikah empat bulan sebelum menjadi presiden pada 1999.
Kala itu, saat panitia sedang rapat kebetulan Gus Dur tengah berada di rumah dan ikut dalam forum tersebut. Salah satu poin pembahasan dalam rapat itu adalah area VIP. Sebagai tokoh waktu itu, sudah pasti banyak pejabat yang diundang begitupun tokoh masyarakat.
“Tiba-tiba beliau menyampaikan begini, ‘Dalam acara saya enggak ada VIP-VIP-an. Semua orang apapun latar belakangnya adalah VIP, tidak boleh dibeda-bedakan’,” kata Alissa Wahid menirukan respon Gus Dur terkait area VIP.
Walhasil, waktu pejabat pemerintah seperti menteri harus antri bersama dengan tamu-tamu lain. Tidak ada perlakuan khusus. Semua sama rata. Panitia mengisahkan ada beberapa menteri yang sampat kesal lantaran tidak diberi jalur khusus.
Baca Juga: Kisah Kesederhanaan Gus Dur, Silaturahmi Keliling Pekalongan Naik Vespa
“Tapi, itu kehendak Gus Dur,” kata Alissa.
Dalam kehidupan sehari-hari juga begitu. Dia mencontohkan saat ada tamu negara setingkat duta besar yang berkunjung ke Gus Dur. Pada saat bersamaan datang pula ibu-ibu yang mengadukan nasib ke Gus Dur.
“Ya, mereka duduknya sebelahan. Tidak ada area untuk tamu yang lebih spesial,” ujar Alissa Wahid.
3. Istiqomah dan AmanahGus Dur merupakan sosok yang istiqomah dalam perjuangan dan juga amanah. Alissa Wahid menceritakan saat meminta dibelikan motor. Kala itu, Alissa sedang mengerjakan skripsi untuk pendidikan strata satu.
“Ketika saya berharap dibelikan motor, dan di dalam laci lemari beliau ada uang, saya minta. Beliau mengatakan, ‘Enggak, itu bukan uang kita. Itu uang titipan orang-orang untuk perjuangan untuk rakyat’,” ucap Alissa mengenang sang ayah.
Itu hanya salah satu contoh cara Gus Dur menjaga amanah. Padahal, Alissa adalah anak pertama dan harus mengurus keperluan skripsi. Tidak terbayang betapa sulitnya waktu itu. Harus jalan kaki dan naik-turun bis.
Baca Juga: Cara Gus Dur dan Sinta Nuriyah Didik 4 Putrinya Jadi Perempuan Berdaya
“Walaupun saya sebagai anaknya waktu itu sangat membutuhkan karena sampai saya mengerjakan skripsi, saya betul-betul jalan, naik turun bis. Bikin skripsi kan harus keluar masuk lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari skripsi saya,” ungkap Alissa Wahid.
4. Melindungi Hak-Hak Dasar ManusiaGus Dur melihat salah satu tujuan utama
maqashid asy-syariah adalah memberikan maslahat kepada seluruh lapisan umat manusia. Maka itu, Gus Dur selalu memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan.
"Maksud dari hukum agama adalah untuk melindungi hal-hal tersebut, makanya sangat mudah bagi beliau untuk memberikan kembali nama Papua kepada warga Papua setelah sekian puluh tahun harus menggunakan nama Irian Jaya dan meninggalkan identitas sebagai warga Papua,” kata Alissa Wahid.
Contoh lain saat Gus Dur memberikan kebebasan masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk menggunakan ekspresi budaya mereka. itu hanya merupakan bagian dari maqashid asy-syariah, yakni melindungi hak-hak dasar manusia.
“Atau memberikan kemerdekaan warga Tionghoa di Indonesia untuk menggunakan ekspresi budayanya. Itu bagian dari melindungi hak-hak dasar yang muncul di dalam
maqashid asy-syariah,” ujar Alissa Wahid.
5. KetulusanGus Dur adalah sosok yang sangat tulus dalam berjuang. Dia memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua maupun orang Tionghoa tanpa embel-embel apapun. Perjuangan itu murni untuk mengamalkan Islam sebagai
rahmatan lil-alamin.
Baca Juga: Haul ke-13 Gus Dur, Melanjutkan Kembali Cita-citanya di Abad ke-2 NU
“Orang yang tidak kenal beliau, hanya tahu dari tulisan-tulisan itu sering membuat analisis bahwa Gus Dur itu melakukan ini, misal membela Tionghoa karena bla-bla,” kata Alissa Wahid.
Orang yang pernah bersentuhan langsung dengan Gus Dur, pasti akan memahami ketulusan tersebut. Saat beliau melakukan pembelaan kepada masyarakat Papua misalnya betul-betul lahir dari ketulusan hati.
“Itu sikap beliau betul-betul tulus dari dalam hati meyakini bahwa keadilan dan kemanusiaan itu yang utama, lebih dari soal politik. Misalnya, ketika ada sebagian orang Papua saat ini ingin merdeka, bagi Gus Dur itu berangkatnya dari kemanusiaan dan keadilan, bukan sekadar memperlakukannya sebagai urusan politik belaka,” ujar Alissa Wahid.
(jqf)