LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Filsafat Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
Dr Fahruddin Faiz, mengungkapkan,
guru memiliki posisi penting bagi perkembangan generasi muda saat ini. Maka, setiap guru harus memiliki spiritualitas paripurna agar bisa mendidik murid menjadi generasi yang berkualitas.
Spiritualitas berkaitan erat dengan religiusitas. Spiritual merupakan kebersihan jiwa dari pengaruh negatif, sementara religius menjadi pemandu atau alat untuk mencapai hal tersebut. Agama sudah memberikan pedoman untuk mencapai tingkatan tersebut.
“Semoga para guru punya jiwa spiritual yang sehat,” kata Fahruddin dalam webinar oleh Pandi Institute yang diikuti Langit7 secara daring, Selasa (27/12/2022).
Baca Juga: Fahruddin Faiz: Guru Tak Sekadar Informan tapi Harus Jadi Teladan
Fahruddin menjelaskan lima kunci seorang guru mencapai tingkat spiritualitas yang sehat. Di antaranya:
1. Meaning
Meaning mendorong seorang guru untuk memiliki makna hidup, tujuan hidup, dan sadar tujuan. Guru tidak boleh hanya sekadar mengalir begitu saja mengikuti rutinitas harian. Seperti sekadar datang ke kelas menyampaikan informasi kepada murid.
“
Meaning itu guru harus punya makna hidup, punya tujuan hidup, dan sadar tujuan. Tidak boleh guru itu mengalir saja seperti mengikuti rutinitas saja. Karena tidak sadar makna sehingga sulit menularkan vibrasi positif untuk muridnya,” kata Fahruddin.
Meaning harus dibangun oleh setiap guru agar bisa memiliki kompetensi. Paling tidak murid-murid bisa mengandalkan guru. Saat ini, banyak murid yang tidak bisa mengandalkan gurunya dalam banyak hal.
“Kalau murid tidak terlalu percaya gurunya, maka pemanfaatan ilmunya jauh untuk bisa dijangkau,” ujar Fahruddin.
2. ValuesGuru harus punya komitmen terhadap nilai hidup yang dipercaya. Seperti seorang guru muslim. Berarti guru harus memiliki kemampuan komitmen pada keimanannya atau kepercayaan menjalankan ajaran agama.
Baca Juga: Haedar Nashir: Kemajuan Iptek Harus Dilandasi Nilai Asasi Ketuhanan
"Apa bedanya religiusitas dan spiritualitas? Sederhananya, religius itu orang yang patuh pada ajaran agamanya, spiritual lebih ke nilai-nilai batin. Meski dalam praktiknya nanti nyambung,” kata Fahruddin.
Menurut Fahruddin, orang secara serius menjalankan ajaran agama sudah pasti mencapai tingkat spiritual. Itu karena ajaran agama lahir untuk membersihkan jiwa seseorang. Jalan paling mudah bagi orang yang menghidupkan spiritualitas adalah melalui agama.
“Orang yang secara serius menjalankan ajaran agamanya pasti spiritual, karena ajaran agama itu lahir untuk membersihkan batin. Sebaliknya, orang yang ingin menghidupkan spiritualitasnya jalan paling mudah adalah lewat agama,” ujar Fahruddin.
3. TransendenTransenden artinya hidup berketuhanan, tidak sekadar bertuhan saja. Ini sudah ditegaskan dalam sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Ketuhanan berarti perilaku seseorang yang menunjukkan orang yang bertuhan.
“Kalau saya menyakiti orang, mungkin beriman kepada tuhan tapi perilaku bukan perilaku berketuhanan,” ujar Fahruddin.
Baca Juga: Falsafah Pendidikan Ki Hajar: Memanusiakan Manusia, Selamat dan Bahagia
Setiap perbuatan yang dilakukan harus bisa dihubungkan dengan realitas tertinggi, yakni Tuhan. Apa saja yang dilakukan harus ditarik ke Atas. Itu yang disebut kemampuan transendensi.
“kalau guru sedih-sedih, ingat kita punya tuhan, tidak usah khawatir. Kita punya pelindung, penolong, maka ayo berjuang, tidak usah ragu-ragu,” ungkap Fahruddin.
4. Connecting
Spiritualitas juga berhubungan dengan koneksi. Harus ada kesadaran bahwa manusia hidup tidak bisa sendirian. Jika ingin hidup berkualitas, maka sudah pasti membutuhkan dukungan dari orang lain.
“Setelah kita berkualitas pun kita punya tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas orang lain,” ungkap Fahruddin.
Hidup tidak mungkin sendirian. Harus bersama-sama. Tidak boleh seorang guru egois menganggap dirinya paling tinggi dan paling penting. Sisi
connecting harus ditumbuhkan untuk melumpuhkan sikap-sikap negatif dalam diri.
Baca Juga: Dewan Da'wah: Maju dan Mundur Suatu Bangsa Tergantung Peran Guru
“
Connecting itu bareng-bareng. Kebersamaan dan keterhubungan. Kemampuan kerjasama dan kemampuan terhubung dengan orang lain itu bagian dari kemampuan spiritual. Karena kita ini setara di hadapan tuhan,” tutur Fahruddin.
5. Becoming
Becoming berarti kesadaran bahwa manusia punya banyak kelemahan dan kekurangan. Kesadaran itu akan membawa kehidupan seseorang lebih baik. Seorang guru tidak boleh merasa sudah baik dan merasa sudah berkualitas.
“Maka hidup ini dari yang baik menjadi lebih baik. kita harus ingin lebih baik terus menerus, tidak merasa sudah tuntas, sudah baik ini, pokoknya tidak ada yang lebih baik lagi. Pokoknya saya ini sudah versi terbaik,” ujar Fahruddin.
“Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR Al Hakim).
Menurut Fahruddin, setiap guru harus berusaha kualitas diri setiap hari. Harus ada upaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Begitu seterusnya.
(jqf)