LANGIT7.ID- Di tengah maraknya kajian akademik tentang Sufisme, perdebatan lama terus bergema: dari mana asal gagasan-gagasan Sufi? Sebagian pakar berkeras bahwa tasawuf adalah hasil interaksi Islam dengan tradisi luar—Kristen, Persia, India, hingga Neoplatonisme. Lainnya menganggapnya murni lahir dari rahim Islam.
“Diskusi ini kerap berubah jadi arena pengulangan teori lama yang tak terbukti, namun diwariskan seolah fakta,” tulis Idries Shah dalam bukunya
The Way of the Sufi (diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, Risalah Gusti, 1999).
Idries Shah menyindir, para spesialis yang miskin obyektivitas itu lebih suka membandingkan tasawuf dengan Shamanisme, Bhakti Hindu, atau bahkan Knights Templar, ketimbang melihat kedalaman praksis spiritual Islam. “Gambarnya seperti orang memperdebatkan apakah besi berasal dari Swedia atau Jepang,” tulisnya.
Persoalannya, lanjut Idries Shah, kajian akademik kerap kehilangan roh utama Sufisme: transmisi langsung lewat simbol, tubuh, dan peragaan. “Ketika kita hanya bergantung pada buku, kita masuk dalam kuasa teori-teori subyektif,” tegasnya.
Idries Shah bahkan menyinggung bagaimana jejak sufistik bisa dikenali dalam karya-karya Barat: dari legenda William Tell, puisi troubadour Prancis, Shakespeare, hingga psikologi Kenneth Walker.
Baca juga: Tasawuf: Jejak Asketisme, Lintas Perdebatan, dan Bayang-Bayang Asing di Tubuh Islam Sufisme, menurutnya, bekerja seperti air yang merembes: tak terlihat di permukaan, tapi menghidupi lapisan budaya dan spiritualitas yang lebih dalam. Di sinilah tarik-menarik itu terjadi. Akademisi mencari kategori, apakah sufisme ilmu jiwa, teologi, atau sekadar folklore?
Idries Shah memilih menyebutnya “psikologi”, bukan karena istilah itu tepat, melainkan lantaran kata “bijaksana” tak populer di zaman modern.
Perdebatan metodologis ini meninggalkan jejak panjang. Fazlur Rahman dalam Islam (University of Chicago Press, 1979) juga menegaskan bahwa tasawuf tak bisa dipahami hanya sebagai produk interaksi lintas budaya. Ia lahir dari “dorongan internal Islam” untuk mengejar pengalaman ketuhanan yang lebih dalam.
Namun, dalam konteks kolonialisme pengetahuan, teori asal-usul eksternal lebih disukai, karena memberi kesan bahwa Islam tak pernah mandiri dalam mencipta tradisi mistik. Kritik Idries Shah terhadap bias akademis membuka ruang tafsir baru. Sufisme, baginya, bukan sekadar warisan teks, melainkan laku hidup yang tak bisa dipenjara oleh teori. “Jalan Sufi adalah jalan pengalaman, bukan spekulasi,” tulisnya.
Baca juga: Tasawuf Menurut Syaikh Al-Qardhawi: Jejak Sunyi Menuju Cahaya Dengan begitu, mungkin perdebatan asal-usul hanyalah bayangan. Yang lebih mendesak adalah bagaimana Sufisme tetap relevan menjawab kegersangan spiritual zaman modern, di tengah gelombang teori yang gemar memisahkan, bukan menyatukan.
(mif)