LANGIT7.ID, Jakarta - Dosen filsafat Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Fahruddin Faiz, menjelaskan tiga hal penting mengenai falsafah pendidikan.
Falsafah pendidikan tersebut didasari oleh pemikiran Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan dan pahlawan Nasional. Bagi Faiz, pendidikan bukan sekadar datang ke kelas dan mengisi otak dengan pengetahuan.
Pendidikan harus menciptakan kemaslahatan, baik kemaslahatan untuk diri sendiri, untuk bangsa, dan alam semesta. Hal itu penting diperhatikan agar para siswa bisa mencapai puncak kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hakikat PendidikanKi Hadjar mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan. Faiz menjelaskan, pendidikan itu menuntun. Itu membantah anggapan banyak orang bahwa pendidikan berarti mengisi. Pendidikan ibarat menuntun anak kecil yang tengah belajar berjalan.
Anak kecil sudah memiliki potensi untuk belajar. Orang tua hanya menuntun agar si anak bisa tegak, melangkah sendiri, dan tidak jatuh. Bukan orang tua yang membuat anak berjalan, sebab si anak sebenarnya sudah memiliki potensi dan kemampuan untuk berjalan.
Baca juga: Cara Aplikatif Agar Filsafat tak Bertentangan dengan Agama“Segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya,” kata Faiz Melalui kanal Bincang Filsafat, dikutip Rabu (9/2/2022).
Guru sebagai pendidik hanya bertugas menuntun setiap siswa agar menemukan potensi mereka, sehingga bisa menjadi manusia seutuhnya yang selamat dan bahagia. Menemukan potensi itu penting.
“Guru yang menuntun, yang bisa membangkitkan, dan mengembangkan potensi siswa sehingga bisa menjadi manusia utuh, selamat, dan bahagia. Kenapa bahagia? Kalau hidupmu selaras dengan jiwamu, dengan bakatmu, dengan potensimu, kamu akan senang dan bahagia,” kata Faiz.
Seorang guru unggulan tak hanya mengajar, tapi bisa melihat bakat dan kepintaran siswanya di mana. Semua manusia punya potensi. Maka, menjadi kewajiban untuk menemukan potensi tersebut.
Ki Hadjar pernah berkata, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Meskipun mengenyam pendidikan di tempat yang sama dan dididik oleh guru yang sama, tentunya setiap murid punya jalannya sendiri-sendiri.”
Dari situ bisa disimpulkan, pendidik hanya mengarahkan, merawat, menuntun, dan menumbuhkan kodrat yang dimiliki oleh seorang anak.
Tujuan PendidikanFaiz menyebut tiga tujuan pendidikan yang kerap dikenal Tri Rahayu, yakni Hamemayu Hayuning Sarirom, Hamemayu Hayuning Bongso, dan Hamemayu Hayuning Bawono.
Jika diartikan secara makna, Tri Rahayu itu berarti memelihara diri, menjaga dan memelihara bangsa, menjaga dan memelihara alam semesta. Secara harfiah, hamemayu berarti mempercantik.
“Jadi, pendidikan itu membuat dirimu terjamin, membuat bangsamu terjamin, lestari, membuat alam semesta ini langgeng,” kata Faiz.
Tri Rahayu merupakan tingkatan-tingkatan yang saling menyatu. Jika diri seorang manusia sudah beres lalu berkumpul dengan komunitas yang diisi oleh orang-orang beres, maka bangsa juga akan beres. Bila bangsa-bangsa sudah beres, maka alam semesta pun akan beres.
Baca juga: 7 Kriteria Guru dan Pendidik Berkualitas Menurut KH Hasyim Asyari“Jadi, pendidikan itu membuat kita beres. Muatan pendidikan adalah ilmu. Dengan ilmu, segala sesuatu bisa meningkat dan berkualitas. Maka, kenapa harus ada pendidikan? Ya, demi diri kita, demi bangsa kita, demi kehidupan kita di alam semesta ini. Pendidikan adalah kunci peradaban,” ucap Faiz.
Jika seseorang ingin maju, pendidikan adalah jalannya. Sama halnya jika ingin sukses dan bahagia. Pendidikan menjadi jalan untuk mencapai hal itu. Pendidikan berguna untuk hamemayu hayuning sarirom.
“Dirimu itu Indah, maka lestarikan keindahannya. Hamemayu hayuning bongso, bangsa ini indah, maka lestarikan keindahannya. Hamemayu hayuning bawono, alam semesta ini indah maka lestarikan lagi keindahannya. Jalannya apa? Pendidikan,” tutur Faiz.
Dasar PendidikanPendidikan memiliki tiga dasar atau Tri loka yakni Ing Ngarso Suntulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Pertama, Ing Ngarso Suntulodo. Siapa saja yang berada di depan, baik sebagai figur publik atau pun bos di suatu perusahaan, dia harus memberi contoh yang baik atau teladan yang baik.
Demikian pula dalam lingkup masyarakat, jika memiliki kelebihan maka berarti sedang Ing Ngarso, maka tugasnya adalah suntulodo. Itu karena orang yang di depan dilihat dan diikuti oleh orang, maka harus memberikan teladan yang baik.
Kedua, Ing Madyo Mangungkarso. Ing madyo artinya di tengah jalan, posisi di tengah, atau sedang bersama-sama. Maka yang dilakukan adalah mangungkarso, membangun kreativitas dan produktivitas.
“Jadi, kalau kalian sedang berada di tengah, berposisi sedang bersama, sejajar dengan yang lain, maka lakukan mangungkarso, kreatiflah. Bikin inisiatif-inisiatif, lahirkan hal-hal baru yang produktif. Itu namanya Ing Madyo Mangungkarso. Kalau kalian sedang bersama-sama teman seperjuanganmu, kreatiflah,” tutur Faiz.
Ketiga, Tut Wuri Handayani. Ini diperuntukkan bagi para pendidik. Pendidikan itu menuntun, jadi mengikuti anak didik. Sebab, menuntun artinya berada di belakang. Kalau di depan berarti menyeret.
“Tut Wuri artinya mendidik, maka yang dilakukan adalah handayani. Handayani adalah memberdayakan, menguatkan, dan mendukung. Maka handayani harus dilakukan oleh pendidik agar siswa bisa menemukan potensi mereka masing-masing,” ucap Faiz.
Baca juga: Adian Husaini: Sekolah Bukan Pabrik, Murid Bukan ProdukPendidikan tidak diperkenankan mendikte, memarahi, apalagi mengisi kepala dan jiwa siswa dengan hal-hal jelek. Pendidik perlu membiarkan siswa mandiri, lalu berdiri di Belakang untuk memberdayakan dan memberi dukungan.
“Itu namanya Tut Wuri Handayani. Jadi, pendidikan kalau ingin sukses, yang di depan memberi contoh, yang di tengah kreatif dan produktif, dan yang di belakang mendukung,” kata Faiz.
(jqf)