LANGIT7.ID - Pendidikan merupakan upaya pengembangan dan melestarikan nilai-nilai kebajikan serta norma-norma kepada generasi penerus umat, agama dan bangsa. Menurut Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, menuntut ilmu adalah ibadah untuk mencari ridha Allah Ta’ala.
Pendidikan Islam memiliki prinsip menyebarluaskan nilai-nilai Islam, bukan hanya sekadar menghilangkan kebodohan semata. Sebab, ilmu akan mengantarkan manusia ke dalam kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.
Pakar filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Fahruddin Faiz dalam kanal youtube Ruang Berpikir memaparkan 7 kriteria pendidik yang berkualitas menurut KH Hasyim Asy'ari. Tujuh kriteria tersebut menjadi keharusan bagi setiap pendidik agar ilmu yang disampaikan bisa bermanfaat kepada setiap murid.
Baca Juga: Prinsip Menuntut Ilmu: Tidak Pilih-pilih Guru dan Ambil Manfaat dari Manapun
Pertama,
Kamilat Ahliyyatuh atau Profesional. Seorang pendidik harus memiliki keahlian yang sempurna. Itu berarti pendidik harus profesional, seperti ahli tafsir mengajar tafsir dan ahli fikih mengajar fikih.
Kedua,
Tahaqqaqat Syafaqatu artinya penyayang. Pendidik harus memiliki sifat penyayang. Seorang murid tidak dianjurkan berguru kepada orang yang memiliki sifat pembenci, pemarah, suka melecehkan, hingga menjatuhkan. Dikhawatirkan, akhlak tercela itu justru turun kepada sang murid.
Ketiga,
Zaharat Muru’atuh artinya berwibawa. Pendidik harus berwibawa, tidak sembrono. Salah satu contohnya, pendidik menjaga diri dari dosa kecil, apalagi dosa besar.
Keempat,
‘Urifah Iffatuh yakni dikenal sebagai pribadi yang menjaga diri. Guru itu harus dikenal sebagai sosok yang menjaga diri.
Iffah juga bermakna menjaga diri dari orang yang merendahkan martabatnya.
Kelima,
Isytaharat Shiyanatuh atau terus berkarya. Guru itu terkenal kreatif, punya karya. Keenam dan ketujuh adalah
Ahsana Ta’lim yakni pandai mengajar dan
Ajwa Tafhim yaitu berwawasan luas.
Nah, setiap pendidik harus melatih 7 karakter tersebut agar bisa mendidik murid menjadi berkualitas pula. Guru perlu menstabilkan hati terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang pembelajaran. Itu penting agar majelis ilmu mendapat keberkahan dari Sang Khaliq.
Ini artinya, guru harus memperbaiki akhlak terlebih dahulu sebelum mengajar. Di sisi lain, seorang guru juga tidak boleh berniat menjadikan ilmu yang dimiliki untuk mencari kemewahan dunia. Jika ilmu dipakai untuk mencari kemewahan dunia, itu sama saja tengah mendegradasi kemuliaan ilmu.
Tak hanya itu, tanggung jawab seorang guru tak hanya sekadar mengajar saja, tapi ada tanggung jawab menjadi suri tauladan yang baik (uswah hasanah). Itu memang berat. Kalau sekadar mengajar, siapa saja bisa. Tapi menjadi uswah hasanah, itu yang susah.
Selain itu, pendidik juga harus memiliki semangat belajar dan mengupgrade pengetahuan. Kalau ada pengajar yang tidak mau belajar, pada saatnya dia akan kadaluarsa. Jadi, guru yang baik adalah guru yang bersemangat belajar. Ini karena dengan itu, ilmunya bertambah terus.
(jqf)