LANGIT7.ID-Bayangkan sebuah sore di awal abad ke-20. Jalan-jalan tanah di Yogyakarta masih dipenuhi debu, sementara di Tebuireng, Jombang, suara santri mengaji tak pernah berhenti menggema.
KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dikenal dengan gagasan-gagasan modernnya: mendirikan sekolah dengan meja dan bangku, memperkenalkan metode belajar ala Barat, dan mengajak umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan tafsir yang segar. Di sisi lain,
KH Hasyim Asy’ari, ulama kharismatik Tebuireng, menjaga warisan pesantren, menekankan adab, sanad keilmuan, dan tradisi fiqih yang kuat.
Kedua tokoh ini, yang oleh generasi belakangan sering diposisikan seolah berseberangan, pada masa hidupnya justru menjalin hubungan mesra. Sejarawan
Azyumardi Azra dalam
Jaringan Ulama (2004) mencatat bahwa Ahmad Dahlan kerap berkunjung ke Tebuireng. Hasyim Asy’ari pun menyambutnya dengan penuh takzim. Tidak ada sekat ideologis yang membuat mereka saling mencurigai. Yang ada hanyalah penghormatan. “Keduanya meletakkan dasar moral: perbedaan corak pemikiran bukan alasan untuk bermusuhan,” tulis Azra.
Baca juga: Dua Jalan, Satu Tujuan: Persilangan Gagasan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari Kita lupa bahwa sejarah pernah mencatat, hubungan pribadi Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari tidak hanya hangat, tetapi saling menopang. Kuntowijoyo dalam
Muslim Tanpa Masjid (2001) menulis bahwa Ahmad Dahlan bahkan pernah menitipkan murid-muridnya untuk belajar di Tebuireng. Itu bukan hal kecil. Titipan itu adalah pengakuan. Sebuah penghormatan seorang modernis terhadap otoritas tradisionalis. Dan Hasyim menerima dengan tangan terbuka, tanpa rasa waswas bahwa pesantrennya akan “terkontaminasi”.
Hal ini juga ditegaskan oleh Dawam Rahardjo dalam
Pergulatan Dunia Pesantren (1985). Menurutnya, ketika
Nahdlatul Ulama lahir pada 1926, tidak ada sikap saling curiga. Muhammadiyah tidak menganggapnya pesaing. NU pun tidak menutup diri dari kerjasama. Justru lahir rasa saling melengkapi. Muhammadiyah bergerak dalam jalur pendidikan dan modernisasi sosial, NU menjaga tradisi dan menyemai akar keislaman di pedesaan.
Lihatlah betapa indahnya pemandangan itu: dua arus besar Islam yang kemudian menjadi pilar bangsa, lahir dari persahabatan yang tulus. Abdul Munir Mulkhan dalam
Pesantren dan Pembaharuan (1994) bahkan melukiskan keduanya dengan metafora indah: “Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari ibarat dua sayap burung. Satu menguatkan rasionalitas, satu menjaga spiritualitas. Tanpa keduanya, Islam Indonesia tak mungkin bisa terbang.”
Baca juga: Jabatan KH Ahmad Dahlan Menjadi Cikal-bakal Lahirnya Kementerian Agama Sayangnya, gambaran sejarah ini kerap kabur dalam narasi kontemporer. Hari ini, Muhammadiyah dan NU sering diposisikan sebagai dua kutub yang seolah berlawanan. Dalam politik praktis, nama keduanya kadang diseret ke kubu berbeda. Muhammadiyah digambarkan modernis, NU disebut tradisionalis. Muhammadiyah dianggap progresif, NU dianggap konservatif. Lalu keduanya dicitrakan seperti dua jalan yang tidak pernah bertemu. Padahal sejarah membantah stereotip itu.
Alfian dalam
Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization under Dutch Colonialism (1969) menulis, pembaruan yang dilakukan Dahlan memang membawa warna berbeda dari dunia pesantren. Namun, Ahmad Dahlan bukan musuh pesantren. Justru ia pernah mengaji di pesantren-pesantren Jawa, termasuk kepada ulama-ulama tradisional. Begitu pula Hasyim Asy’ari, meski dikenal sebagai penjaga tradisi, ia tidak menutup diri dari gagasan pembaruan, sepanjang tidak merusak inti ajaran.
Greg Fealy dan Greg Barton dalam
Tradisionalisme Radikal (1997) menggambarkan, NU lahir bukan untuk melawan Muhammadiyah, tetapi sebagai respon geopolitik ulama pesantren menghadapi modernisasi sosial dan intervensi kolonial. Artinya, sejak awal tidak ada “permusuhan ideologis” yang diwariskan. Yang ada hanyalah pembagian peran sejarah.
Maka, pertanyaan retoris pun muncul: jika Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari bisa saling menghormati, mengapa generasi penerusnya sering terjebak dalam dikotomi sempit? Jika mereka bisa mesra dalam perbedaan, mengapa kita tega menciptakan jurang yang memisahkan?
Bayangkan, pada masa kolonial, keduanya menghadapi musuh bersama: penjajahan Belanda. Persahabatan itu menjadi modal spiritual bagi umat Islam untuk tetap bersatu. Kini, di era kemerdekaan, bukankah musuh bersama kita adalah kemiskinan, ketidakadilan, dan kerusakan moral? Bukankah lebih masuk akal jika Muhammadiyah dan NU kembali berjalan seiring, alih-alih dipertentangkan oleh kepentingan politik jangka pendek?
Baca juga: Konsep Welas Asih KH Ahmad Dahlan: Mirip Mirip Pengalaman Kaum Kristiani? Warisan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari seolah ingin berteriak kepada kita hari ini: jangan biarkan perbedaan tafsir dan metodologi merusak ukhuwah. Jangan wariskan permusuhan imajiner kepada generasi mendatang. Karena sejarah sudah membuktikan, ketika Muhammadiyah dan NU bersatu, bangsa ini memiliki penopang ganda: rasionalitas dan spiritualitas.
Kita sering berbangga menyebut Muhammadiyah dan NU sebagai “dua pilar Islam Indonesia”. Tapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar mewarisi persahabatan para pendirinya? Ataukah kita hanya mewarisi label, lalu sibuk memelihara persaingan kosong yang tak pernah diinginkan oleh Ahmad Dahlan maupun Hasyim Asy’ari?
Sejarah memang tidak pernah berbohong. Ia menyimpan teladan yang seharusnya menjadi cermin. Dan cermin itu kini menatap kita tajam: beranikah kita meneladani? Atau justru membiarkan diri larut dalam perseteruan buatan, yang semakin menjauhkan kita dari semangat asli dua sahabat sezaman itu?
(mif)