LANGIT7.ID-Jogjakarta; Sebuah kabar besar datang dari jantung agama Katolik sedunia—Vatikan. Persaudaraan lintas iman tidak lagi sekadar wacana. Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, resmi menjalin aliansi strategis dengan Takhta Suci Vatikan. Dan yang menarik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dipilih sebagai jembatan utama kolaborasi ini.
Ini bukan sekadar kerja ceremonial. Ini adalah bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan bisa menjadi kekuatan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa—bahkan dunia.
Jembatan dari Yogyakarta ke RomaDilansir dari yogyakarta.kompas.com, delegasi UMY bertemu langsung dengan Dikasteri Dialog Antaragama di Vatikan pada Selasa (5/5/2026). Dalam misi bersejarah itu, Rektor UMY Prof. Achmad Nurmandi memimpin rombongan bersama Duta Besar RI untuk Takhta Suci. Hasilnya? UMY akan segera menyusun Nota Kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan.
Sambutan dari pihak Vatikan pun hangat dan penuh pengharapan. Kardinal George Jacob Koovakad menyambut delegasi dengan optimisme:
“Kunjungan ini memberikan harapan. Ini menunjukkan penerimaan terhadap keberagaman dan keterbukaan terhadap kolaborasi antaragama.”
Misi Kemanusiaan: Sekolah untuk Semua, Terutama yang TerpinggirkanVatikan diketahui sangat mengapresiasi kiprah nyata Muhammadiyah di dunia pendidikan. Bukan sekadar jumlah sekolah, tapi orientasinya yang inklusif. Kardinal Koovakad secara khusus menyoroti pentingnya akses pendidikan bagi kaum perempuan dan warga miskin.
Menurutnya, pendidikan harus menjadi alat utama untuk mencerahkan masa depan generasi muda. Lewat ilmu pengetahuan, martabat manusia bisa ditinggikan setinggi mungkin. Dan efeknya tidak main-main: kerja sama ini juga diarahkan untuk membendung arus ekstremisme global secara masif.
“Pendidikan merupakan alat utama untuk mencerahkan kaum muda, mempromosikan martabat manusia, dan mencegah ekstremisme,” tegas Kardinal Koovakad.
Deklarasi Istiqlal Hidup Kembali di Kancah InternasionalKolaborasi ini bukan tanpa pijakan. Ia adalah wujud nyata dari Deklarasi Istiqlal yang fenomenal—buah pertemuan Paus Fransiskus dan Imam Besar Istiqlal pada 2024 lalu.
Pastor Markus Solo Kewuta menjelaskan bahwa Vatikan memegang teguh komitmen perdamaian tersebut secara konsisten. Dengan kerja sama ini, Indonesia kini sejajar dengan negara-negara besar lain yang telah lebih dulu menggandeng Vatikan di jalur pendidikan.
Ke depan, KBRI Vatikan akan segera berkoordinasi dengan Muhammadiyah dan Kementerian Agama RI. Targetnya jelas: menjadikan pendidikan sebagai mesin perdamaian dunia yang berkelanjutan.
“Kita akan berpegang teguh pada nilai-nilai di dalam Deklarasi Istiqlal, khususnya dalam mengajukan perdamaian,” pungkas Pastor Markus Solo Kewuta.
Jalur edukasi terbukti menjadi cara paling elegan untuk menyatukan perbedaan. Moderasi beragama kini bukan lagi sekadar wacana manis di seminar-seminar. Ia adalah tindakan nyata. Hari ini, dari Vatikan untuk dunia(*/saf/pdmsemarang)
(lam)