LANGIT7.ID-Surabaya; Polemik lokasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) akhirnya mengerucut. Keputusan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang memilih Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, sebagai tempat penyelenggaraan pada 20-21 Juni 2026, kini tinggal menunggu momentum.
Menariknya, di tengah keputusan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, justru memandang ke depan. Baginya, Ploso bukan sekadar lokasi, melainkan panggung penentu bagi masa depan organisasi.
"Semoga semuanya clear dan disepakati semua pihak," ujar Gus Salam dengan penuh harap. Sebab, menurutnya, Munas-Konbes kali ini memiliki pekerjaan rumah besar yang sangat strategis: menentukan kapan dan di mana Muktamar NU berikutnya akan digelar.
Gus Salam mengingatkan pola yang sudah berlangsung. "Muktamar biasanya digelar sebulan setelah Munas-Konbes. Dulu di Muktamar Lampung juga begitu," jelasnya. Dengan kata lain, semua mata akan tertuju pada Ploso, karena dari sanalah peta jalan menuju hajatan akbar NU akan lahir.
Ia pun membocorkan, sejumlah pondok pesantren, terutama di Jawa Timur yang merupakan basis kuat Nahdliyin, telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Muktamar. Jadi, forum di Ploso nanti akan menjadi ruang negosiasi paling krusial.
Para pihak pun diharap bisa mendarat dalam satu kesepakatan. Bukan soal siapa menang atau kalah, tapi demi kelancaran organisasi terbesar di Indonesia ini.
"Lokasi Muktamar akan ditentukan di sana (Ponpes Ploso)," pungkas Gus Salam. Harapannya, tidak ada lagi perbedaan yang berkepanjangan. Clear, sepakat, dan NU pun melangkah.(*/saf)
(lam)