LANGIT7.ID-Jakarta; - Nahdlatul Ulama (NU) tengah bersiap menggelar agenda lima tahunan Muktamar ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada akhir Agustus mendatang. Di balik rutinitas organisatorisnya, Muktamar kali ini diyakini menandai pergeseran historis yang signifikan.
Organisasi ini tidak lagi sekadar berbicara dalam ruang lingkup domestik Indonesia, melainkan mulai memosisikan diri sebagai penentu arah masa depan peradaban umat manusia. Hal tersebut ditegaskan oleh pakar Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional, Robi Nurhadi.
Menurutnya, ketika dunia saat ini dirundung keretakan akibat konflik geopolitik seperti ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran hingga perang Rusia-Ukraina, krisis iklim, disinformasi, serta krisis kemanusiaan global, kehadiran narasi Islam yang damai menjadi sangat krusial.
"Sejak berdiri pada tahun 1926, kiprah organisasi ini dinilai telah berhasil menjalankan peran utamanya dalam menjaga agama, bangsa, serta tradisi Islam moderat di Indonesia melalui konsolidasi internal, jalur pendidikan pesantren, dan penguatan aspek kebangsaan," ujar Robi kepada
Langit7.id, Ahad (19/7/2026).
Namun memasuki era modern saat ini, lanjut Robi, realitas tantangan dunia tidak lagi dapat dibatasi oleh sekat-sekat geografis negara. Fenomena seperti bencana alam di Cina dan Pakistan, kebakaran hutan di Turki, krisis pengungsi di Gaza dan Sudan, hoaks bernuansa agama di media sosial, hingga perdebatan etika kecerdasan buatan merupakan masalah lintas batas yang juga berdampak langsung pada umat Islam.
Dalam perspektif Hubungan Internasional, fenomena ini dikategorikan sebagai isu domestik yang sekaligus bersifat internasional. Pihak organisasi menyadari bahwa stabilitas Indonesia tidak dapat dirawat dengan baik jika lingkungan global di sekitarnya mengalami krisis hebat. "Momentum Muktamar inilah yang diproyeksikan menjadi titik balik transformasi narasi organisasi, dari persaudaraan kebangsaan naik kelas menuju persaudaraan kemanusiaan global," ujarnya.
Berdasarkan hasil diskusi pra-muktamar dan arahan dari jajaran pengurus pusat, terdapat tiga poros besar yang akan dirumuskan menjadi keputusan strategis pada Muktamar nanti. Poros pertama berkaitan dengan krisis iklim dan fiqh ekologi.
Mengingat negara-negara berpenduduk Muslim menjadi wilayah yang paling rentan terdampak perubahan iklim, NU akan membawa gagasan fiqh ekologi ke panggung dunia untuk menekankan bahwa merusak alam setara dengan merusak amanah Tuhan. Implementasi riil telah dimulai di ribuan pesantren melalui pemanfaatan energi surya, pertanian organik, dan pengelolaan bank sampah agar organisasi dapat hadir di forum internasional bukan hanya sebagai lembaga keagamaan, melainkan sebagai pemilik narasi keimanan tentang keberlanjutan lingkungan.
"Poros kedua berfokus pada etika digital dan kecerdasan buatan. Menjawab tantangan ruang siber yang kini marak oleh manipulasi digital tokoh agama, ceramah bermuatan kebencian, dan algoritma pemecah belah, Muktamar diharapkan dapat menginisiasi pembentukan Majelis Ulama Siber Dunia," jelas dia.
Badan ini dirancang untuk menyusun panduan etika kecerdasan buatan berbasis kemaslahatan syariah dan membangun ekosistem dakwah digital yang menyejukkan. Sementara itu, poros ketiga bergerak di bidang diplomasi kemanusiaan dan perdamaian untuk merespons kebuntuan global dalam melindungi warga sipil pada konflik bersenjata di Gaza, Myanmar, dan Sudan.
"Melalui inisiatif perdamaian global, NU akan mengaktifkan jaringan ulama di puluhan negara untuk bertindak sebagai penengah konflik, mengirimkan relawan, serta mendesak badan dunia agar menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk pembunuhan warga sipil atas nama agama," tuturnya.
Lebih jauh, Robi menguraikan, dalam studi Hubungan Internasional, kekuatan sebuah aktor tidak hanya diukur melalui kapabilitas militer atau ekonomi, melainkan juga melalui kekuatan narasi dan teladan nyata. Organisasi ini dinilai memiliki tiga modalitas utama, yakni kuantitas jemaah yang masif sebagai kekuatan mobilisasi sosial terbesar di dunia Islam, karakteristik teologis yang moderat, toleran, serta adaptif terhadap budaya lokal sebagai penawar ekstremisme, hingga infrastruktur jaringan puluhan ribu pesantren yang berfungsi sebagai laboratorium solusi riil untuk isu ekonomi, pendidikan, hingga ekologi.
"Diterimanya pidato representasi organisasi di institusi global seperti Universitas Harvard dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta kehangatan hubungan dialogis dengan Vatikan, membuktikan bahwa dunia internasional tengah membutuhkan narasi alternatif yang memanusiakan manusia di tengah kejenuhan terhadap kekerasan," ungkapnya.
Kendati arah strategis internasional ini dinilai positif, pengamat Hubungan Internasional ini memberikan catatan kritis mengenai tiga ujian besar yang harus dihadapi organisasi pasca-Muktamar. Ujian pertama adalah konsistensi, di mana narasi global yang dibangun jangan sampai berhenti pada tataran retorika pidato ilmiah melainkan harus diwujudkan dalam program kerja dan alokasi anggaran nyata di berbagai belahan dunia.
Ujian kedua adalah menjaga marwah independensi organisasi terhadap tarikan serta kepentingan politik praktis di tingkat domestik agar kredibilitasnya di mata internasional tetap terjaga. Ujian ketiga adalah penerjemahan bahasa, di mana nilai-nilai khas pesantren harus mampu dikonversikan ke dalam terminologi kebijakan publik, bahasa diplomasi internasional, serta corak komunikasi yang dipahami oleh generasi muda agar substansi gagasannya dapat tersampaikan secara universal.
"Satu abad yang lalu, para pendiri organisasi berkumpul di Surabaya dengan misi menyelamatkan eksistensi agama dari cengkeraman kolonialisme dan ancaman radikalisme. Kini, seratus tahun kemudian di Jombang, eskalasi pertanyaan organisasi ini meningkat pada tingkat peradaban, yaitu mengenai bagaimana menyelamatkan umat manusia dari kehancuran peradaban," ujarnya.
Melalui Muktamar mendatang, tambah Robi, NU mencoba menegaskan bahwa solusi atas krisis dunia saat ini tidak terletak pada kecanggihan militer ataupun kekuatan algoritma digital, melainkan pada rekonstruksi nilai kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab universal. "Konferensi tertinggi ini bukan merupakan titik akhir, melainkan awal bagi organisasi untuk melangkah ke panggung dunia guna mengayomi seluruh alam sesuai prinsip Islam sebagai rahmat bagi semesta alam," jelasnya.
(zhd)