Oleh: Prof Dr Bambang SetiajiLANGIT7.ID-Kemajuan besar dalam peradaban, baik dalam sains, seni, maupun industri, tidak pernah berasal dari pemerintah pusat. Pencapaian luar biasa selalu merupakan produk swasta - dari kejeniusan individu - serta iklim sosial yang mengizinkan keragaman. Intervensi pemerintah pusat justru cenderung memaksakan keseragaman yang bisa menggantikan kemajuan dengan stagnasi (Milton Friedman, 1962).
Friedman membaca kemajuan Barat dan berusaha membentengi meluasnya peran pemerintah yang diperkenalkan sebagai obat resesi pada tahun 1930 ketika kaum Keynesian memikirkan peran pemerintah melalui kekuatan fiskalnya dalam menstabilkan ekonomi. Kini kita melihat peran pemerintah pusat yang tiba tiba berubah sejak reformasi. Koperasi desa merah putih tersebar di desa desa dengan tanpa perhitungan lokasi dan pasar.
Instansi pemerintah ikut berbisnis di MBG yang semula dirancang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Perguruan tinggi negeri bertindak layaknya swasta membuat iklan medsos dan menerima mahasiswa sangat besar. Sebelumnya BUMN bidang properti pemerintah memenangkan tender tender pemerintah sendiri dan juga perbankan pemerintah. Dinilai dari tesis Friedman apa yang kita lakukan hari hari ini mengarah kepada sebaliknya.
Bagaimana dengan China? Sepuluh tahun dari terbitnya buku Friedman, bangkitlah China berangkat dari komunisme, dengan jalan mulai memberi ruang kepada swasta dengan membiarkan sekelompok petani menanam apa yang mereka pikir sebagai lebih menguntungkan. Pemberian ruang kepada swasta ini berlanjut dengan masuknya investor investor asing dengan relokasi industri mereka. Pasar China yang besar menjadi daya tarik. Terjadi keunikan atau anomali dari yang dipikirkan oleh Friedman bahwa kebebasan pasar hanya mungkin terjadi pada kebebasan politik.
China membuktikan adanya kebebasan pasar dan kemajuan swasta pada sistem monolitik. Arahan negara melalui banyak BUMN pusat dan daerah menghasilkan kemajuan berbasis ilmu pengetahuan dan riset yang semula menjiplak kemudian mengembangkan sendiri. Era teknologi dan internet membuktikan keunggulan China dimana singkapan atau bocorannya terlihat dari presisi persenjataan Iran pada perang akhir akhir ini.
Ruang bagi banyak BUMN atau men desentralisasi ke berbagai daerah, dan China sangat besar perdagangan antar daerah sudah seperti ekspor impor antar negara. Jika ribuan Koperasi merah putih dan ribuan pengusaha MBG dari unsur pemerintah terinspirasi oleh China, sangat sulit mencontoh China dalam masyarakat bebas dengan multi partai seperti sekarang dan ditambah media sosial yang tidak terbendung. Untuk pilihan politik seperti itu paling tepat adalah mendorong kemajuan swasta dan mendesentralisasi praktek ekonomi riel ke daerah dengan penyadaran berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika ada pusat pusat kemajuan pemerintah serahkan kepada perusahaan daerah yang berbasis potensi daerah.
Koperasi merah putih yang didirikan oleh pemerintah sangat mungkin terinspirasi oleh China. Koperasi merah putih sebaiknya diserahkan kepada daerah daerah. Koperasi hanya bentuk usaha sebagaimana perseroan terbatas, PT, menjadi pilihan masyarakat. Koperasi hendaknya direview jangan diharuskan sangat terbuka, sebaiknya dimungkinkan koperasi hanya terdiri dari tiga orang. Ide bisnis hendaknya dihargai dan menjadi sumber sumber pendorong kemajuan.
Keunikan Indonesia: Kemajuan Pemerintah bersama Kekuatan Sipil Kemajuan melalui pendidikan karena berkecimpung pada sain dan riset pemerintah sebaiknya bekerja sama dengan kekuatan sipil yang mendedikasikan diri kepada kemajuan seperti contoh Muhammadiyah. Bayangkan pemerintah ingin merintis mobil listrik yang merupakan mobil masa depan, karena ide pemerintah tentu dengan cara mendirikan BUMN, maka tentu akan masuk proposal dengan triliunan rupiah. Belum memulai sudah harus menggaji ratusan juta. Muhammadiyah memungkinkan memulai mobil listrik hanya dengan beberapa ratus milyar. Muhammadiyah akan menggunakan tanah dan gedung yang dimiliki tanpa memikirkan berapa saham yang mereka peroleh. Pemerintah melalui BRIN atau hibah yang lain yang pernah dilakukan sampai dengan 300 milyar pada periode pemerintahan lalu untuk suatu gedung bisa dilakukan kembali untuk merintis mobil listrik nasional.
Kultur perintisan yang melekat pada lembaga lembaga pendidikan tinggi dan riset Muhammadiyah memungkinkan membuat sebagai contoh mobil listrik dengan gaji direksi hanya sekitar 7 sampai dengan 10 persen jika berbentuk BUMN. Kolaborasi Pemerintah dan Muhammadiyah memungkinkan lebih efisien dari China, di mana gaji BUMN di China sekitar 30 persen gaji BUMN Indonesia. Perintisan itu tentu saja harus dimulai dengan kolaborasi dengan mobil listrik murah China atau Vietnam yang diselesaikan dengan cara “swasta”.
Bahkan untuk pendidikan itu sendiri pemerintah tidak perlu memperluas lagi. Serahkan kepada swasta adalah yang paling efisien, pendidikan dasar dan menengah berbasis wakaf adalah yang paling efisien pemerintah tinggal memberi guru STEM dan LAB yang terbukti sangat kurang atau tertinggal. Sekolah Rakyat SR, tidak perlu juga pemerintah tetapi cukup bekerjasama dengan pesantren pesantren NU.
Kolaborasi lembaga pemerintah dan Muhammadiyah dan NU dalam berbagai industri adalah jalan tengah antara kemajuan hanya mungkin pada swasta sebagaimana disarankan oleh Friedman dan kenyataan beberapa periode terakhir bangkitnya China dan akhir akhir ini Vietnam yang berbasis atas arahan negara.(Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)