LANGIT7.ID-Bandung; PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menjadikan Jawa Barat (Jabar) sebagai motor utama pertumbuhan bisnis. Tak lagi hanya mengandalkan pembiayaan perumahan, perseroan kini memperluas penetrasi ke berbagai sektor usaha melalui pendekatan ekosistem. Mulai dari kawasan industri, horeka (hotel, restoran, dan kafe), hingga penguatan transaksi perbankan.
Regional Office Head BTN Kantor Wilayah Jawa Barat Asvianti Handaru mengatakan, Jabar merupakan tulang punggung pertumbuhan BTN. Selama ini BTN memang dikenal sebagai bank spesialis pembiayaan perumahan. Namun, transformasi bisnis membuat BTN kini menyasar lebih banyak sektor ekonomi.
"BTN pertumbuhannya memang difokuskan ke Jawa Barat. Dulu fokus kami hanya di sektor perumahan karena industri ini memiliki sekitar 160 sektor turunan yang ikut terdampak. Sekarang kami sudah bertransformasi dan menyasar seluruh industri," kata Asvianti di Bandung, Sabtu (4/6/2026).
Untuk memperkuat penetrasi pasar, BTN membagi strategi berdasarkan karakteristik wilayah. Area Jabar 1 yang meliputi Bekasi Raya hingga Karawang difokuskan pada kawasan industri. Sementara Jabar 2 yang mencakup Bandung Raya hingga Cirebon menyasar sektor horeka.
Menurut Asvianti, strategi tersebut tidak hanya menawarkan produk kredit. Tetapi juga membangun ekosistem layanan yang terintegrasi. BTN ingin memenuhi seluruh kebutuhan nasabah, mulai dari pembiayaan, transaksi, hingga pengelolaan keuangan.
"Misalnya di industri hotel, kami tidak hanya memberikan fasilitas kredit, tetapi juga layanan transaksinya. Seluruh kebutuhan ekosistemnya kami upayakan dapat dilayani oleh BTN," ujar Asvianti.
Strategi itu ditopang oleh posisi BTN yang masih cukup kuat di Jabar. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS), BTN saat ini menempati posisi lima besar untuk penyaluran kredit. Khusus pada segmen kredit pemilikan rumah (KPR) program pemerintah, BTN bersama anak usahanya masih menjadi pemimpin pasar.
"BTN menempati peringkat pertama di Jabar 1, Jabar 2, maupun secara keseluruhan provinsi Jawa Barat," bebernya.
Di sisi pembiayaan, BTN mempertahankan porsi kredit program pemerintah sebesar 90 persen. Program tersebut tidak hanya mencakup KPR subsidi, tetapi juga KUR Perumahan. Termasuk pembiayaan bagi developer.
"Komposisi porsinya tetap, sedangkan pertumbuhan didorong melalui peningkatan volume penyaluran," imbuhnya.
Selain pembiayaan, BTN juga membidik pertumbuhan dari sisi transaksi. Asvianti mengakui persaingan semakin ketat. Karena perbankan kini dituntut mampu menyediakan layanan yang terintegrasi dalam satu ekosistem.
Saat ini BTN memiliki sekitar 2 juta nasabah. Menurut dia, setiap nasabah memiliki beragam kebutuhan transaksi, mulai dari belanja, makan, pembayaran tagihan, hingga aktivitas keuangan lainnya. Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi BTN untuk meningkatkan frekuensi transaksi sekaligus memperkuat loyalitas nasabah.
"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan keuntungan bank, tetapi juga memastikan seluruh kebutuhan transaksi nasabah dapat dilakukan melalui ekosistem BTN," jelasnya.
Selain memperkuat ekosistem perumahan, BTN juga akan meningkatkan transaksi nasabah dan memperluas pembiayaan ke sektor-sektor produktif. Seperti UMKM dan Small and Medium Industries (SMI).
Asvianti juga menyoroti besarnya potensi ekonomi kreatif, khususnya di Bandung. Saat ini Bank Indonesia sedang menyiapkan petunjuk atau regulasi terkait pembiayaan ekonomi kreatif. "Harapannya, sektor ini bisa lebih mudah memperoleh akses pembiayaan sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal," terangnya.
(lam)