LANGIT7.ID-Jakarta; Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Anwar Abbas, menyoroti persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial di Indonesia dalam refleksi Iduladha yang menekankan pentingnya empati, kepedulian sosial, dan penguatan rasa kebersamaan.
Dalam pidato nya bertajuk Idhul Adhha: Empati dan Peningkatan Rasa Kebersamaan, Anwar Abbas menilai nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah kurban seharusnya tidak berhenti pada ritual keagamaan semata, tetapi menjadi dorongan nyata untuk membangun kepedulian terhadap masyarakat yang hidup dalam kesulitan.
Menurut Anwar Abbas, persoalan kemiskinan di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius. Ia mengutip data Biro Pusat Statistik Republik Indonesia per September 2024 yang mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai sekitar 23,36 juta orang.
Angka tersebut, menurutnya, bukan jumlah kecil. Ia membandingkan jumlah itu dengan populasi Malaysia yang disebut mencapai 35,9 juta jiwa, sehingga angka kemiskinan di Indonesia setara sekitar 67 persen dari total penduduk negara tersebut. Sementara jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Singapura yang disebut berjumlah 6,1 juta jiwa, maka jumlah warga miskin di Indonesia hampir empat kali lipat lebih besar.
Anwar Abbas juga menyoroti ukuran kemiskinan global yang digunakan PBB dan Bank Dunia. Dalam tulisannya, ia menyebut seseorang dikategorikan miskin apabila pendapatannya kurang dari 2,15 dolar AS per hari atau kurang dari Rp35.000 per hari per orang.
Menurut dia, apabila tolok ukur tersebut digunakan untuk melihat kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia, maka jumlah penduduk yang masuk kategori miskin bisa mencapai tidak kurang dari 60 juta jiwa.
“Angka ini jelas merupakan sebuah angka yang sangat besar dan mengerikan apalagi kalau angka ini kita hubungkan dan kaitkan dengan koefisien gini dimana indeks gini kita saat ini berada pada angka 0,37 ini berarti tingkat kesenjangan ekonomi di kalangan rakyat dan bangsa kita sudah semakin tajam dan mencemaskan,” ujar Anwar Abbas dalam pidatonya pada pelaksanaan Salat Iduladha yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah Grand Wisata di kawasan Grand Wisata
(27/5/2026).
Ia mengingatkan bahwa persoalan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi tidak boleh dipandang sebelah mata karena berpotensi memicu gangguan sosial yang lebih luas.
“Bahkan dalam bentuk yang lebih ekstrim kalau masalah kesenjangan dan kemiskinan ini tidak dapat kita atasi maka tidak mustahil dia akan bisa membuat masyarakat kita menjadi tercabik-cabik dan bahkan bisa memporak-porandakan persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa,” lanjutnya.
Dalam refleksi tersebut, Anwar Abbas menilai momentum Iduladha seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk kembali menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, khususnya masyarakat miskin, anak yatim, dan kelompok rentan lainnya.
Ia menyoroti fenomena masyarakat yang menurutnya semakin individualistis, hedonistis, dan materialistis sehingga banyak orang tidak lagi peduli terhadap kondisi sekitar.
“Padahal, sebagai seorang muslim dan muslimah kita harus tahu dan menyadari bahwa ajaran Islam sangat menekankan akan penting dan perlunya kita memperhatikan hidup dan kehidupan orang lain serta berempati kepada sesama,” ujar dia.
Dalam tulisannya, Anwar Abbas juga mengutip Surat Al Ma’un untuk menegaskan pentingnya kepedulian terhadap fakir miskin sebagai bagian dari implementasi nilai keimanan.
Selain menyoroti masyarakat, Anwar Abbas juga menyinggung tanggung jawab negara dalam mengatasi kemiskinan. Ia merujuk Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 yang menegaskan bahwa kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat serta fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.
Ia mempertanyakan mengapa Indonesia yang kaya sumber daya alam masih memiliki jumlah masyarakat miskin yang besar.
![Anwar Abbas Soroti 23,36 Juta Warga Miskin, Sebut Semangat Iduladha Harus Bangun Empati Sosial]()
Dalam kritiknya, Anwar Abbas menilai sebagian pemimpin telah kehilangan orientasi kebangsaan dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi.
“Bagi mereka yang penting adalah bagaimana dirinya sukses dan dapat hidup mewah serta berkelimpahan, dan dia tidak mau perduli dengan nasib dan keadaan orang lain,” ujar dia.
Ia juga menyoroti praktik korupsi yang menurutnya masih menjadi persoalan serius di berbagai level pemerintahan.
Lebih jauh, Anwar Abbas berharap momentum Iduladha dapat menjadi titik refleksi bagi para pemimpin agar membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, adil, dan berpihak pada rakyat kecil.
“Untuk itu kita doakan semoga semua para pemimpin di negeri ini tidak akan lupa dengan janji dan tugasnya,” ujar dia.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat miskin tidak seharusnya dibiarkan bersaing secara tidak seimbang dengan kelompok bermodal besar melalui mekanisme pasar bebas.
“Tidak boleh lagi ada di negeri ini, ada seorang anak manusia, atau seorang warga Negara dan anak bangsa, yang tidak terperhatikan dan tidak terpenuhi kebutuhan pokoknya,” tegasnya.
Di akhir pidato nya, Anwar Abbas berharap semangat kebersamaan, empati, dan kepedulian sosial yang dibawa Iduladha dapat membantu mewujudkan Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan penuh keberkahan.
(lam)